Bertandang Ke Museum Cokelat

Rabu, 13 Mei 2015 - 10:25 WIB
Bertandang Ke Museum...
Bertandang Ke Museum Cokelat
A A A
YOGYAKARTA kembali memiliki destinasi wisata baru yang bisa didatangi oleh wisatawan asing maupun lokal, khususnya bagi para penggemar kakao atau yang lebih akrab dikenal dengan cokelat.

Ya, di Kota Pelajar tersebut kini telah hadir Museum Cokelat nDalem, yang tepatnya berada di jalan Bhayangkara No 23 Yogyakarta.

Di tempat itu, pengunjung tak hanya disuguhi gerai yang menyajikan beragam varian produk cokelat Gunungkidul yang bisa dibeli dan dikonsumsi semata. Namun juga mengetahui secara langsung proses pengolahan cokelat dari awal, pencetakan cokelat, hingga pembungkusan cokelat ke dalam aneka kemasan.

Tentunya hal itu hanya bisa dilihat dari balik kaca, mengingat proses produksi harus dilakukan di tempat yang higienis. Cara-cara pengolahan cokelat mulai dari pemanenan, fermentasi, pengeringan, pemisahan nibs, penghalusan, conching, tempering, hingga proses pencetakan juga bisa didapatkan di sini. Di samping itu, juga terdapat aneka filosofi yang terkandung dalam perpaduan varian dan kemasan Jawa yang digunakan.

Seperti tarian dan kopi, rempah dan bregodo, wedang dan tetenger, serta klasik dan batik yang menjadi ciri khas suatu daerah di Indonesia. Tidak ketinggalan buku artefak tahun 1914 yang memuat tentang keberadaan cokelat pertama di Indonesia. Buku ini ditulis oleh Dr JCC Van Hall. "Cokelatnya enak, yang green tea ini manis, dan ada yang pahit seperti yang single origin, lebih suka yang pahit. Di sini bisa lihat juga proses pembuatan dan sejarah cokelat," ujar Pramesthi, salah satu pengunjung Museum Cokelat nDalem kepada wartawan belum lama ini.

Yang menjadikan tempat ini unik dan berbeda dibandingkan toko cokelat lainnya, yakni pengunjung juga bisa melihat contoh varian biji kakao sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang sejarah cokelat dunia maupun Nusantara. Yang dipercaya sudah ada sejak tahun 1500-400 Masehi (M), di mana Suku Indian Olmec ditemukan telah menggunakan biji kakao.

Perjalanan hasil bumi ini pun kian menyebar dan mulai dikembangkan oleh Suku Maya pada tahun 900-250 M. Lalu pada tahun 1200-1500 M, yang oleh bangsa Aztec digunakan sebagai sumber perdagangan dan ritual keagamaan. Hingga akhirnya pada tahun 1502 ditemukan oleh Christopher Columbus. Dalam hal ini Columbus diyakini sebagai eksplorer yang pertama kali berkenalan dengan kakao di Nicaragua.

Sejarah tentang cokelat dunia tersebut mencantumkan perjalanannya hingga tahun 1938. Yakni ketika Perang Dunia (PD) II dan Amerika mulai menggunakan cokelat sebagai menu ransum wajib bagi para tentaranya. Sedangkan di Indonesia, tanaman kakao diyakini mulai masuk pada tahun 1560, tepatnya di kawasan Sulawesi Utara. Yang saat itu dibawa oleh pelaut Spanyol.

Dan pertama kali gunakan bibit kakao dari Filipina, berjenis Criollo yang originnya diambil dari Venezuela. Kualitas kakao ini dinilai bagus, namun sayangnya rentan terhadap penyakit. Perjalanan kakao tidak berhenti di sini saja, oleh pelaut pun mulai dibawa dan dikenalkan di Pulau Jawa pada tahun 1806. Saat itu kakao masih ditanam di sela-sela tanaman kopi, dan masih menggunakan varietas Criollo.

Bibit kakao lain seperti Forestero, yang dipercaya lebih kuat terhadap hama pun juga dikenalkan di Indonesia pada tahun 1880. Bibitnya berasal dari Venezuela, dan dibandingkan dengan Criollo yang panjang, jenis kakao ini bentuknya lebih bulat dan gemuk. Di Indonesia, tanaman ini berkembang pesat hingga pada tahun 1938 ada 29 perkebunan cokelat yang tersebar di Nusantara. Dan pada tahun 1980, produksi biji kakao Indonesia pun meningkat pesat dan menjadi nomer tiga penghasil kakao terbesar di dunia.

"Tertarik buat museum karena Indonesia merupakan penghasil kakao (terbesar) ketiga di dunia. (Namun sayangnya) tidak ada budaya minum cokelat, baru kopi dan teh. Padahal juga ada cara untuk menyeduh minuman (cokelat), dalam pertanian ada cara menanam hingga fermentasi, kenapa itu nggak dibudidayakan," jelas Meika Hazim, Owner Gerai dan Museum Cokelat nDalem.

"Daily open untuk publik dari pukul 08.00-21.00 WIB. Freebagi yang ingin belajar tentang museum, dan pengunjung akan didampingi para abdi nDalem sebagai pemandu mereka," imbuh dia.

Siti estuningsih
(ars)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Telan Investasi Rp14...
Telan Investasi Rp14 Triliun, Tol Yogya-Bawen Satukan Kawasan Joglosemar di 2023
Berita Terkini
RT 11 Gandaria Utara...
RT 11 Gandaria Utara Luncurkan Jingle KomLing Mania, Lagu Edukasi yang Bikin Warga Semangat Pilah Sampah!
6 menit yang lalu
Gempa Magnitudo 5,6...
Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Timur Laut Alor NTT
17 menit yang lalu
Jalan Jenderal Sudirman...
Jalan Jenderal Sudirman Ditutup Jelang Puncak HUT ke-499 Jakarta di Bundaran HI, Ini Titik Kantong Parkirnya
2 jam yang lalu
PNM Berikan Beasiswa...
PNM Berikan Beasiswa kepada 1.590 Anak dari Jenjang SD hingga Perguruan Tinggi
2 jam yang lalu
Blusukan, Jokowi Terima...
Blusukan, Jokowi Terima Gelar Adat Tertinggi dari 5 Kerajaan Adat Lampung
3 jam yang lalu
Licin! Markas Judi Online...
Licin! Markas Judi Online di Hayam Wuruk Kelola 145 Website untuk Hindari Pemblokiran
4 jam yang lalu
Infografis
Daftar Lengkap Pelatih...
Daftar Lengkap Pelatih Timnas Indonesia dari Masa ke Masa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved