Tortor Sombah Tarian Khas Simalungun Penghormatan dan Pengikat Hati

Senin, 18 November 2019 - 09:23 WIB
Tortor Sombah Tarian...
Sejumlah penari mempertunjukan Tortor Sombah menyambut tamu yang datang ke Kabupaten Simalungun.(Foto/Sindonews/Dok)
A A A
Tortor (tarian) merupakan tarian seremonial yang disajikan bersaman dengan penyajian musik gondang (Toba), gonrang (Simalungun), gordang (Mandailing).

Tortor lebih pas diartikan sebagai bentuk pengejawantahan ekspresi baik individu maupun kolektif yang muncul pada saat upacara adat maupun ritual lainnya. Sebenarnya tortor tercipta karena adanya upacara kematian, panen, penyembuhan dan pesta
muda-mudi.

Tortor memiliki makna yaitu sebagai penyemangat jiwa, seperti makanan untuk jiwa dan sebagai penghibur. Walaupun secara fisik tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dalam dari gerakan-gerakkannya menunjukkan bahwa tortor adalah sebuah media komunikasi, dimana melalui gerak-gerakkan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara.

Tortor Sombah merupakan salah satu warisan budaya Simalungun yang masih lestari sampai saat ini. Tarian atau Tortor Sombah dipersembahkan untuk menyambut raja pada zaman dahulu kala, ataupun menyambut tamu dan kerabat dekat, yang diiringi dengan musik atau gonrang.

Tarian ini dapat dianggap sebagai penghormatan bagi tamu maupun rombongannya. Bila tortor ini selesai disajikan baru ,yang lain dapat menarikan sesuatu tarian yang diingininya.

Tortor sombah ini telah lama hidup di tengah-tengah masyarakat dengan istilah “sembah”. Secara umum, posisi menyembah ini diperlihatkan dua lakon,pertama,badan berdiri dengan posisi kepala menunduk (unduk), telapak tangan terbuka dan dirapatkan serta di taruh di depan wajah yang menunduk serta badan (torso) sedikit condong (membungkuk ke depan).

Selanjutnya, badan membungkuk total, kedua telapak tangan terbuka dan ditaruh di depan kepala serta kepala menunduk sehingga lakon yang tampak cenderung ’seolah-olah mencium’ tanah.

Tortor Sombah asal Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatra Utara mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia belum lama ini.Penghargaan itu berupa ditetapkannya Tortor Sombah sebagai salah satuwarisan budaya tak benda Indonesia. Pemberian penghargaan berlangsung di sela Pekan Kebudayaan Nasional di Jakarta, 7-13 Oktober 2019 lalu.

Penghargaan diberikan Menteri Dalam Negeri kala itu dijabat Tjahjo Kumolo, didampingi Menteri Penddidikan dan Kebudayaan, masih dijabat Muhajir Effendi kepada Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Utara, Sabrina.

Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Simalungun,Resman Saragih kepada Sindonews.com mengatakan,Tortor Sombah adalah tarian Simalungun yang paling sakral sebab fungsinya sebagai tari upacara buat menyambut para tamu raja pada dahulu kala. Dan rangkaian tarian ini berpasangan antara seorang laki dan wanita.

"Pada mulanya, tarian Tortor Sombah ini, tidak memiliki gerakan yang tetap. Hanya memiliki gerakan Sombah,dan motif gerakannya, sama dengan fungsinya sendiri, dimana sang penari saat tamu datang penari, menari dengan melakukan gerakan Sombah," sebut Resman.

Selanjutnya, perlahan-lahan turun sambil membersihkan diri. Kemudian dengan melakukan gerakan membersihkan lingkungan sambil menunggu tamu menerima bentuk penghormatan,dengan cara manogu atau mempersilahkan tamu melanjutkan perjalanan.

Adapun iringan musiknya Tortor Sombah seyogianya menggunakan gual parahot-parahot atau gual rambing-rambing dan menggunakan alat musik Gonrang Sipitu-Pitu, Ogung, Mingmong, Sarunei dan Sitalasayak.

Bupati Simalungun JR Saragih mengaku bangga dengan di tetapkan Tortor Sombah sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Sebagai salah satu budaya dalam menyambut tamu,Tortor Sombah diharapkan JR bisa terus dilestarikan dengan menjadikannya salah satu kegiatan ekstra kulikuler di sekolah-sekolah.

"Saya bangga salah satu tarian khas Simalungun,Tortor Sombah dijadi warisan budaya tak benda oleh pemerintah,saya berharap budaya daerah seperti Tortor Sombah bisa menjadi salah satu kegiatan ekstra kulikuler di sekolah sebagai salah satu upaya melestarikannya," sebut JR.
(vhs)
Berita Terkait
Bangun dan Revitalisasi...
Bangun dan Revitalisasi Sistem Pendidikan Seni dan Budaya lewat ODA
Menghidupkan Budaya...
Menghidupkan Budaya dan Kebersamaan dalam Bedhayan Topeng Abdi Sekartaji
Art Love U Fest 2024:...
Art Love U Fest 2024: Bertemunya Seni dan Cinta di JDC
Pecah, Puluhan Ribu...
Pecah, Puluhan Ribu Orang Padati Sakura Matsuri 2025 di Jababeka
Indonesia Bertutur 2024,...
Indonesia Bertutur 2024, Upaya Perkuat Ekosistem Budaya
Tanamkan Cinta Budaya...
Tanamkan Cinta Budaya sejak Dini, SDN 22 Jakbar Gelar Pameran Karya Seni Betawi
Berita Terkini
Polda Papua: Mortir...
Polda Papua: Mortir Sisa PD II di Biak Meledak saat Digergaji 5 Orang
44 menit yang lalu
KM Nurul Salsa Tenggelam...
KM Nurul Salsa Tenggelam di Perairan Pulau Polassi Sulsel: 1 Meninggal dan 23 Hilang
1 jam yang lalu
Gus Salam, Calon Ketum...
Gus Salam, Calon Ketum PBNU yang Dukung Argentina Sejak 1986
1 jam yang lalu
Dilaporkan ke Polres...
Dilaporkan ke Polres Jaksel, Roy Suryo Langsung Pamerkan IPK 3,86
2 jam yang lalu
Kasus Dugaan Korupsi...
Kasus Dugaan Korupsi Bupati Fadia Arafiq Dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang
2 jam yang lalu
Ledakan Bom Sisa Perang...
Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor Papua, 9 Tewas, 6 Luka-luka
3 jam yang lalu
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved