Sekoper ‘Menyulap’ Emak-emak di Gresik Menjadi Lebih Kritis
Selasa, 30 Oktober 2018 - 17:20 WIB
Emak-emak saat mengikuti Sekolah Perempuan (Sekoper) di Desa Kedung Kembar, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik. Dari Sekoper, emak-emak lebih berani dan tidak penakut lagi. Foto/SINDOnews/Ashadi Iksan
A
A
A
Awalnya Sekolah Perempuan (Sekoper) diremehkan keberadaannya. Kini, Sekoper menjadi idola emak-emak atau para ibu rumah tangga di desa-desa di Kabupaten Gresik.
Keberadaan Skoper, lahir dari inisiasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kelompok Perempuan dan Sumber-sumber Kehidupan (KPS2K) Jawa Timur, lewat program Gender Watch.
Awalnya, Sekoper dibuka 2013 di Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Saat itu hanya ada empat Sekoper di empat desa, yang ada di wilayah ujung selatan Kabupaten Gresik.
Desa-desa awal yang membangun Skoper, antara lain Desa Kesambenkulon, Desa Mondoluku, Desa Sooko, dan Desa Sumbergede. Kala itu, jumlah murid kaum perempuan sangat terbatas.
Kini, Sekoper telah direplikasi di 14 desa. Ada di Pulau Bawean. Bahkan, ada Desa Pulopancikan, dan Desa Kramatinggil yang ada di Kecamatan Gresik. Desa Gunungteguh, Kecamatan Sangkapura, Desa Kepuhlegundi, Kecamatan Tambak, serta empat desa di Kecamatan Wringinanom.
Selain itu ada di Desa Dooro, dan Desa Dungus, Kecamatan Cerme. Desa Wonorejo, dan Desa Kedungsumber di Kecamatan Balongpanggang. Desa Sidomukti, dan Desa Kramat Kecamatan Bungah.
Dari sebanyak 14 desa yang mendirikan Skoper tersebut, jumlah muridnya telah mencapai lebih dari 1.300 perempuan desa.
"Program ini didanai APBD Kabupaten Gresik, melalui Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KBP3A) Kabupaten Gresik," ujar Kepala Dinas KBP3A Kabupaten Gresik, Adi Yumanto, Selasa (30/10/2018).
Program ini merupakan salah satu bentuk baru kerjasama antara pemerintah daerah, dan organisasi non pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan melalui peningkatan akses keadilan gender.
"Sekoper sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menyasar perempuan miskin. Program utama dari Gender Watch ini, mampu membuktikan bahwa ada peningkatan kapasitas perempuan pedesaan menjadi kader-kader desa, dan telah mempercepat terbukanya akses-akses dalam pemenuhan hak-hak dasar bagi perempuan," ungkap Adi Yumanto.
Kendati awalnya diremehkan dan dicibir. Namun, dengan ketekunan dan kesabaran, akhirnya Sekoper menjadi sarana pembelajaran bagi kaum emak-emak di pedasaam untuk menjadi lebih berani.
Melalui pembelajaran di Sekoper, mampu mendobrak pembatasan akses perempuan di ruang publik.
"Kegiatan Sekoper, banyak memberikan porsi membangun kesadaran kritis terhadap hak-hak perempuan, agar mereka mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan publik," tandas Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Pengarusutamaan Gender, Soerati Mardiyaningsih.
Peserta Skoper, Suparti (42) warga Desa Mondoluku, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, mengaku, sekarang sudah berani mengurus surat-surat sendiri. Bahkan, pihaknya berani usul saat rapat. Padahal biasanya tidak berani.
"Pernah disuruh memimpin rapat saat ada kegiatan di dusun maupun desa. Bahkan oleh kepala desa, saya diikutkan dalam Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes)," paparnya bangga.
Warga Desa Sooko, Kecamatan Wringinanom, Fitri (41) mengaku, dirinya mendapat banyak kemajuan setelah ikut Sekoper. Saat ini dia lebih berani dan percaya diri, sehingga dirinya dipercaya untuk memberikan pendampingan kepada warga dalam mengurus jaminan sosial. "Intinya saya lebih berani, tidak penakut," akunya.
Pengembangan kegiatan yang mampu memperkuat kepercayaan diri perempuan ini, menjadi pintu masuk pada program Skoper berikutnya. Yakni, pembelajaran publik speaking, belajar pendataan kemiskinan, berkesenian, dan menulis.
Tak heran bila inovasi Dinas KBP3A Kabupaten Gresik, selain berhasil menanggulangi kemiskinan di desa, juga telah menyabet berbagai penghargaan.
Keberadaan Skoper, lahir dari inisiasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kelompok Perempuan dan Sumber-sumber Kehidupan (KPS2K) Jawa Timur, lewat program Gender Watch.
Awalnya, Sekoper dibuka 2013 di Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Saat itu hanya ada empat Sekoper di empat desa, yang ada di wilayah ujung selatan Kabupaten Gresik.
Desa-desa awal yang membangun Skoper, antara lain Desa Kesambenkulon, Desa Mondoluku, Desa Sooko, dan Desa Sumbergede. Kala itu, jumlah murid kaum perempuan sangat terbatas.
Kini, Sekoper telah direplikasi di 14 desa. Ada di Pulau Bawean. Bahkan, ada Desa Pulopancikan, dan Desa Kramatinggil yang ada di Kecamatan Gresik. Desa Gunungteguh, Kecamatan Sangkapura, Desa Kepuhlegundi, Kecamatan Tambak, serta empat desa di Kecamatan Wringinanom.
Selain itu ada di Desa Dooro, dan Desa Dungus, Kecamatan Cerme. Desa Wonorejo, dan Desa Kedungsumber di Kecamatan Balongpanggang. Desa Sidomukti, dan Desa Kramat Kecamatan Bungah.
Dari sebanyak 14 desa yang mendirikan Skoper tersebut, jumlah muridnya telah mencapai lebih dari 1.300 perempuan desa.
"Program ini didanai APBD Kabupaten Gresik, melalui Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KBP3A) Kabupaten Gresik," ujar Kepala Dinas KBP3A Kabupaten Gresik, Adi Yumanto, Selasa (30/10/2018).
Program ini merupakan salah satu bentuk baru kerjasama antara pemerintah daerah, dan organisasi non pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan melalui peningkatan akses keadilan gender.
"Sekoper sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menyasar perempuan miskin. Program utama dari Gender Watch ini, mampu membuktikan bahwa ada peningkatan kapasitas perempuan pedesaan menjadi kader-kader desa, dan telah mempercepat terbukanya akses-akses dalam pemenuhan hak-hak dasar bagi perempuan," ungkap Adi Yumanto.
Kendati awalnya diremehkan dan dicibir. Namun, dengan ketekunan dan kesabaran, akhirnya Sekoper menjadi sarana pembelajaran bagi kaum emak-emak di pedasaam untuk menjadi lebih berani.
Melalui pembelajaran di Sekoper, mampu mendobrak pembatasan akses perempuan di ruang publik.
"Kegiatan Sekoper, banyak memberikan porsi membangun kesadaran kritis terhadap hak-hak perempuan, agar mereka mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan publik," tandas Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Pengarusutamaan Gender, Soerati Mardiyaningsih.
Peserta Skoper, Suparti (42) warga Desa Mondoluku, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, mengaku, sekarang sudah berani mengurus surat-surat sendiri. Bahkan, pihaknya berani usul saat rapat. Padahal biasanya tidak berani.
"Pernah disuruh memimpin rapat saat ada kegiatan di dusun maupun desa. Bahkan oleh kepala desa, saya diikutkan dalam Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes)," paparnya bangga.
Warga Desa Sooko, Kecamatan Wringinanom, Fitri (41) mengaku, dirinya mendapat banyak kemajuan setelah ikut Sekoper. Saat ini dia lebih berani dan percaya diri, sehingga dirinya dipercaya untuk memberikan pendampingan kepada warga dalam mengurus jaminan sosial. "Intinya saya lebih berani, tidak penakut," akunya.
Pengembangan kegiatan yang mampu memperkuat kepercayaan diri perempuan ini, menjadi pintu masuk pada program Skoper berikutnya. Yakni, pembelajaran publik speaking, belajar pendataan kemiskinan, berkesenian, dan menulis.
Tak heran bila inovasi Dinas KBP3A Kabupaten Gresik, selain berhasil menanggulangi kemiskinan di desa, juga telah menyabet berbagai penghargaan.
(eyt)