Ini Tujuh Bangunan Tua di Salatiga yang Memiliki Nilai Sejarah

loading...
Ini Tujuh Bangunan Tua di Salatiga yang Memiliki Nilai Sejarah
Gedung Papak yang kini difungsikan sebagai Kantor Wali Kota Salatiga terlihat berdiri megah. FOTO/SINDOnews/Angga Rosa
SALATIGA -
Kota Salatiga merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki nilai sejarah. Di kota berhawa sejuk ini ada ratusan bangunan tua yang dibangun pada zaman pemerintah Kolonial Belanda.

Bahkan sejumlah bangunan diantaranya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang terjadi di Kota Salatiga. Ratusan bangunan kuno itu, beberapa tahun silam ditetapkan menjadi benda cagar budaya (BCB).

Pengkaji cagar budaya dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah Bagus Ujianto menyatakan, berdasarkan data kajian dan pendataan bangunan bersejarah di Salatiga yang masuk BCB pada 2009 ada 144 unit. Kemudian pada 2013 jumlah BCB di Salatiga bertambah menjadi 157 unit.

"Penambahan jumlah BCB tersebut didapat dari hasil penelitian sejarah BCB di Kota Salatiga. Namun dalam catatan kami, ada sembilan bangunan yang rusak atau terjadi perubahan fasad dan fungsinya," katanya.

Sayangnya, ada sejumlah bangunan kuno peninggalan pemerintah kolonial Belanda tersebut yang rusak lantaran tidak terawat. Itu terjadi karena pemiliknya tidak memiliki dana untuk merawat bangunan tua itu.

Padahal bangunan tua itu, sebenarnya bisa dijadikan modal untuk membangun kota wisata dan budaya. Terlebih, pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, Salatiga sudah dijadikan kota wisata dan sempat memperoleh julukan Paris de Java.



Adapaun bangunan BCB di Salatiga yang memiliki nilai sejarah dan bisa dijadikan destinasi wisata budaya antara lain:

1. Pendapa Pakuwon
Ini Tujuh Bangunan Tua di Salatiga yang Memiliki Nilai Sejarah

Pendapa Pakuwon yang berada di selatan Lapangan Pancasila, tepatnya di Jalan Brigjen Sudiarto terlihat tak terawat dan sebagian bangunan mengalami kerusakan. FOTO/SINDOnews/Angga Rosa

BCB yang berada di selatan Lapangan Pancasila, tepatnya di Jalan Brigjen Sudiarto. Sebenarnya bangunan tersebut merupakan saksi bisu penandatanganan perjanjian Salatiga antara Pangeran Sambernyowo alias Raden Mas Said dan pemerintah Kolonial Belanda pada 17 Maret 1757 silam. Adapun isi perjanjian tersebut antara lain memisahkan Surakarta menjadi dua bagian, yakni Kasunanan dan Mangkunegara.

Perjanjian Salatiga merupakan penyelesaian masalah perebutan kekuasaan yang mengakhiri Kesultanan Mataram. Hamengkubuwono I dan Pakubuwono III melepaskan beberapa wilayahnya untuk Pangeran Sambernyawa.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top