Bandung Selatan Zona Merah Jika Sesar Lembang Bergerak
Jum'at, 05 Oktober 2018 - 23:52 WIB
Peneliti Utama PVMBG Asdani. Foto/SINDOnews/Agus Warsudi
A
A
A
Kawasan Bandung selatan, terutama Gedebage dan sekitarnya masuk zona merah atau paling rawan terdampak jika patahan atau sesar Lembang bergerak.
Peneliti Utama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Asdani mengatakan, dari peta subzonasi yang disusun peneliti PVMBG, Bandung selatan diprediksi paling terdampak jika patahan Lembang bergerak.
Penyebabnya, kondisi geologinya kawasan itu tersusun dari endapan batuan kuarter sangat muda dan bersifat lepas sehingga sangat rentan terhadap gempa bumi. Sifat amplifikasinya cukup tinggi, 2,2.
Namun, Asdani memprediksi, sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer dari utara ke selatan itu tidak akan lebih besar dari gempa yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Berdasarakan perkiraan Asdani, gempa bumi yang ditimbulkan jika sesar Lembang bergerak magnitudenya tak lebih dari 6.
“Pasalnya patahan Lembang tidak seperti sesar Palu-Koro yang berdekatan dengan sumber gempa bumi. Selain itu, sesar Lembang memiliki tiga segmen, 1, 2, dan 3, yakni barat, tengah, dan timur. Jadi apabila bergerak, tidak serta merta bergerak secara bersamaan, tapi segmen per segmen,” kata Asdani di PVMBG, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (5/10/2018).
Pascagempa besar mengguncang Palu dan Donggala, ujar dia, peneliti survei geologi melakukan penelitian lebih mendalam terhadap sesar yang ada di Jawa Barat. Sesar Lembang membentang horizontal sepanjang 29 kilometer dari Ngamprah-Cisarua-Parompong hingga Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Sesar Lembang merupakan patahan aktif di Jawa Barat. Para peneliti melihat sesar ini sebagai patahan normal atau turun. Tetapi, para peneliti menduga di bawah permukaan patahan itu, ada patahan lain yang belum teridentifikasi.
Fenomena ini perlu dikaji. “Diharapkan jika ada gempa bumi yang terjadi di Kota bandung masyarakat harus tetap waspada dan berlindung ke tempat terbuka,” ujar dia.
Peneliti Utama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Asdani mengatakan, dari peta subzonasi yang disusun peneliti PVMBG, Bandung selatan diprediksi paling terdampak jika patahan Lembang bergerak.
Penyebabnya, kondisi geologinya kawasan itu tersusun dari endapan batuan kuarter sangat muda dan bersifat lepas sehingga sangat rentan terhadap gempa bumi. Sifat amplifikasinya cukup tinggi, 2,2.
Namun, Asdani memprediksi, sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer dari utara ke selatan itu tidak akan lebih besar dari gempa yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Berdasarakan perkiraan Asdani, gempa bumi yang ditimbulkan jika sesar Lembang bergerak magnitudenya tak lebih dari 6.
“Pasalnya patahan Lembang tidak seperti sesar Palu-Koro yang berdekatan dengan sumber gempa bumi. Selain itu, sesar Lembang memiliki tiga segmen, 1, 2, dan 3, yakni barat, tengah, dan timur. Jadi apabila bergerak, tidak serta merta bergerak secara bersamaan, tapi segmen per segmen,” kata Asdani di PVMBG, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (5/10/2018).
Pascagempa besar mengguncang Palu dan Donggala, ujar dia, peneliti survei geologi melakukan penelitian lebih mendalam terhadap sesar yang ada di Jawa Barat. Sesar Lembang membentang horizontal sepanjang 29 kilometer dari Ngamprah-Cisarua-Parompong hingga Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Sesar Lembang merupakan patahan aktif di Jawa Barat. Para peneliti melihat sesar ini sebagai patahan normal atau turun. Tetapi, para peneliti menduga di bawah permukaan patahan itu, ada patahan lain yang belum teridentifikasi.
Fenomena ini perlu dikaji. “Diharapkan jika ada gempa bumi yang terjadi di Kota bandung masyarakat harus tetap waspada dan berlindung ke tempat terbuka,” ujar dia.
(awd)