alexa snippet

Kisah Anak Penjahit Asal Sumedang yang Raih Cumlaude di Taiwan

Kisah Anak Penjahit Asal Sumedang yang Raih Cumlaude di Taiwan
Erlin Tresna Nurlianti (kanan) berfoto bersama kedua orangtuanya di ruang kerja orangtuanya yang berprofesi sebagai penjahit rumahan. (Aam Aminullah/KORAN SINDO)
A+ A-
SUMEDANG - "Anak-anak saya nanti jangan sampai hidup seperti orangtuanya sekarang. Maka dari itu, anak-anak saya harus mengenyam pendidikan minimal sampai S1, jangan seperti ayahnya yang hanya lulusan SMP."

Itulah tekad Ade Wahyudin (57), seorang penjahit rumahan asal Lingkungan Kebon Kol, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang dalam membesarkan anaknya.

Berkat semangat pantang menyerah, dengan menekuni jasa jahit baju, celana hingga permak jeans di rumahnya, cita-cita suami dari Mulyati (52), untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan tertinggi pun, kini terwujud.

Saat ini, satu dari dua orang anaknya, Erlin Tresna Nurlianti, pada usianya yang ke-24, berhasil merengkuh gelar M.Sc dari National Cheng Kung University, Taiwan dengan Indeks Prestasi 4.0/cumlaude. Yang membanggakan lagi, gelar S2 yang diraihnya ini dengan beasiswa penuh dari Pemerintah Taiwan.

Tak sampai di situ, saat ini, kakak dari Khafid Fatturachman (17), akan menempuh internship di King Abdullah University of Science and Technology (KAUST).

"Harapannya bisa secepatnya meraih gelar S3. Insya Allah, pada 15 Juli ini, Erlin akan berangkat ke Jeddah untuk internship di KAUST," ujarnya ditemui KORAN SINDO.

Semua capaian itu, kata Erlin, didapat berkat spirit yang ditularkan kedua orangtuanya. Bahkan, pascalulus S1 dari Politeknik Bandung, saat itu, Erlin mengaku bingung karena tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

"Setelah lulus S1 dari Polban dengan hasil cumlaude, karena ketiadaan biaya, saya bekerja di P&G selama 2 tahun sebagai quality assurance. Selama dua tahun bekerja di P&G itu, satu tahun kerjanya di Indonesia, tahun berikutnya di Jepang," tutur gadis kelahiran 28 Juni 1992 ini.

Kemudian, lanjut dia, ketika menerima beasiswa dari Taiwan, Erlin memutuskan untuk resign dan memilih meneruskan pendidikan di Cheng Kung University.

"Alhamdulillah, semuanya berkat dorongan dari orangtua, yang tak henti memotivasi dan mengingatkan Erlin dalam menempuh pendidikan dan mengejar cita-cita," ucap juara tiga tari topeng se-Asia Pasifik dalam kegiatan Asia Pasifik Art Contest di Bandung tahun 2010 ini.

dibaca 32.257x
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top