Remaja Unggah Tawuran di IG: Normal Baru?
Senin, 13 Juli 2020 - 07:27 WIB
loading...
A
A
A
Misalnya, di masa pandemi ini, anak dan remaja dari keluarga berada mampu ikut tren membeli sepeda baru, lalu mengunggah aktivitas bersepedanya di media sosial; atau menunjukkan atribut dan simbol keistimewaan lain yang tidak bisa ditiru oleh anak dan remaja dari keluarga yang secara ekonomi relatif tidak mampu. Lalu, muncul rasa frustrasi anak dan remaja kelas bawah karena tidak mampu ikut tren dan kemudian mengelompok dengan sesamanya yang “senasib”, dan selanjutnya membentuk subkultur baru dengan kebiasaan-kebiasaan baru pula yang khas kelompok mereka sendiri. Salah satu kebiasaan baru ini, menurut Cohen, adalah perkelahian dan pelanggaran norma. (Baca juga: Erdogan: jadi Masjid, Salat Pertama di Hagia Sophia 24 Juli)
Tentunya, tidak semua anak dan remaja dari keluarga tidak mampu pasti lekat dengan aktivitas tawuran dan anak dan remaja kelas menengah, bukan berarti terlepas dari potensi perilaku perkelahian massal. Hanya, kesejahteraan keluarga menjadi dimensi yang penting dalam mencegah berulangnya peristiwa serupa.
Eksistensi Virtual saat Normal Baru
Kemiskinan merupakan salah satu hal yang relevan dalam perilaku tawuran anak dan remaja, namun bukan satu-satunya sumber persoalan. Perilaku anak dan remaja dalam menggunakan media sosial dan telepon pintar ternyata sedikit banyak juga berpengaruh dalam perilaku tawuran hari-hari ini.
Terkait itu, kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa yang fokus pada perkembangan dan masalah anak-anak (Unicef/United Nations Children’s Fund), enam tahun lalu melaporkan bahwa anak dan remaja Indonesia yang menggunakan internet mencapai 30 juta yang tersebar baik di wilayah urban maupun rural.
Pada masa normal baru ini, ketika interaksi virtual lebih dominan dibandingkan interaksi fisik maka relasi anak dan remaja dengan lingkungan sosialnya lebih banyak dilakukan dalam jaringan (daring). Media sosial menjadi platform yang memfasilitasi keterhubungan para remaja dengan lingkungan pertemanannya. Untuk selalu hadir (eksis) dalam percakapan di media sosial, para pengguna internet dari kalangan anak dan remaja ini harus terus menghasilkan konten yang dapat dilihat dan direspons oleh lingkungan pertemanan mereka. Semakin tidak biasa kontennya, semakin berpotensi seorang anak atau remaja mendapatkan atensi, tanda suka (likes atau loves) dari pengguna lain, ataupun menjadi viral.
Problemnya adalah pada dua tawuran di Jakarta pekan lalu, anak dan remaja menggunakan platform media sosial mereka untuk saling menunjukkan eksistensi diri dan kelompok pertemanan mereka, namun dengan materi percakapan yang menyinggung perasaan. Ucapan saling singgung dan saling tantang dalam dunia maya, kemudian berujung pada perkelahian fisik di dunia riil. (Baca juga: Provokasi di Media Sosial Berbuntuk Saling Serang Dua Kelompok Remaja di Jakbar
Tentunya, tidak semua anak dan remaja dari keluarga tidak mampu pasti lekat dengan aktivitas tawuran dan anak dan remaja kelas menengah, bukan berarti terlepas dari potensi perilaku perkelahian massal. Hanya, kesejahteraan keluarga menjadi dimensi yang penting dalam mencegah berulangnya peristiwa serupa.
Eksistensi Virtual saat Normal Baru
Kemiskinan merupakan salah satu hal yang relevan dalam perilaku tawuran anak dan remaja, namun bukan satu-satunya sumber persoalan. Perilaku anak dan remaja dalam menggunakan media sosial dan telepon pintar ternyata sedikit banyak juga berpengaruh dalam perilaku tawuran hari-hari ini.
Terkait itu, kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa yang fokus pada perkembangan dan masalah anak-anak (Unicef/United Nations Children’s Fund), enam tahun lalu melaporkan bahwa anak dan remaja Indonesia yang menggunakan internet mencapai 30 juta yang tersebar baik di wilayah urban maupun rural.
Pada masa normal baru ini, ketika interaksi virtual lebih dominan dibandingkan interaksi fisik maka relasi anak dan remaja dengan lingkungan sosialnya lebih banyak dilakukan dalam jaringan (daring). Media sosial menjadi platform yang memfasilitasi keterhubungan para remaja dengan lingkungan pertemanannya. Untuk selalu hadir (eksis) dalam percakapan di media sosial, para pengguna internet dari kalangan anak dan remaja ini harus terus menghasilkan konten yang dapat dilihat dan direspons oleh lingkungan pertemanan mereka. Semakin tidak biasa kontennya, semakin berpotensi seorang anak atau remaja mendapatkan atensi, tanda suka (likes atau loves) dari pengguna lain, ataupun menjadi viral.
Problemnya adalah pada dua tawuran di Jakarta pekan lalu, anak dan remaja menggunakan platform media sosial mereka untuk saling menunjukkan eksistensi diri dan kelompok pertemanan mereka, namun dengan materi percakapan yang menyinggung perasaan. Ucapan saling singgung dan saling tantang dalam dunia maya, kemudian berujung pada perkelahian fisik di dunia riil. (Baca juga: Provokasi di Media Sosial Berbuntuk Saling Serang Dua Kelompok Remaja di Jakbar
Lihat Juga :