Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa yang Telah Dikenal Sejak Abad 12

Minggu, 18 September 2022 - 06:11 WIB
loading...
Sejarah Pelabuhan Sunda...
Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan tertua di Indonesia yang menyimpan sejarah panjang dari perjalanan Ibu Kota. Foto/SINDOphoto/Dok
A A A
JAKARTA - Sebagai negara maritim, pelabuhan di Indonesia memegang peranan penting dalam konektivitas industri negara. Pelabuhan menjadi infrastruktur strategis yang mendukung kegiatan ekonomi dan mobilitas penduduk, dari era kerajaan hingga saat ini.

Salah satu pelabuhan bersejarah di Indonesia adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan tertua di Indonesia yang menyimpan sejarah panjang dari perjalanan Ibu Kota.

Melansir dari laman Pelindo, Pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikenal sejak abad ke-12 yang berada di bawah kepemilikan Kerajaan Sunda atau Kerajaan Pakuan Padjajaran. Mengingat letaknya yang strategis, pelabuhan ini menjadi tempat singgah bagi kapal-kapal Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah.

Mereka membawa komoditas berupa kopi, porselen, hingga kain sutera. Untuk ditukarkan dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas Nusantara saat itu.

Pada tahun 1511, bangsa Portugis datang ke Nusantara, tepatnya ke daerah Malaka. Ekspansi mereka mengelilingi dunia ditujukan untuk mencari rempah-rempah dan melakukan perdangan, hingga sampailah mereka ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Sejarah mencatat bahwa Portugis berhasil membuat perjanjian dagang dengan Kerajaan Sunda pada 1522. Perjanjian tersebut juga memberikan kebebasan bagi Portugis untuk berdagang melalui Sunda Kelapa. Mereka juga mendapat izin untuk membangun gudang sebagai tempat menampung barang dagangannya.

Pada 1527, Portugis kembali datang untuk memperpanjang perjanjian, namun saat itu Pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikuasai Kesultanan Demak. Tidak seperti Kerajaan Sunda, Kesultanan Demak melihat kedatangan Portugis sebagai ancaman.

Oleh karenanya, Fatahillah yang merupakan Raja Kerajaan Demak menurunkan bala tentaranya utuk mengusir Portugis. Dalam peperangan tersebut, Kerajaan Demak yang dibantu oleh Kerajaan Cirebon meraih kemenangan dan berhasil mengusir Portugis pada 22 Juni 1527.

Fatahillah kemudian mengganti nama Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi Pelabuhan Jayakarta yang berarti kemenangan yang gilang-gemilang. Baca: Terungkap, Asal Usul Ciracas Jaktim dari Salah Satu Anak Kali Cipinang

Kekuasaan Fatahillah yang mulai meredup digantikan oleh Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Pangeran Wijayakrama. Saat masa pemerintahan Kesultanan Banten, Belanda datang ke Jayakarta dan menjalin komunikasi.

Kedatangan perusahaan dagang Belanda VOC yang semula baik-baik berakhir dengan penghimpunan tentara dan terjadi perlawanan. Jan Pieterszoon Coen yang merupakan Gubernur Jenderal VOC kala itu memimpin peperangan melawan Kesultanan Demak yang berakhir dengan kemenangan Belanda.

Di bawah kekuasaan Belanda, Pelabuhan Sunda Kelapa kembali berganti nama menjadi Pelabuhan Batavia. Namun, seiring berjalannya waktu, Pelabuhan Sunda Kelapa mulai tergantikan dengan Pelabuhan Tanjung Priok yang dinilai lebih strategis.

Pelabuhan yang sudah beberapa kali berubah nama ini kembali berganti nama di masa pemerintahan Indonesia. Sesuai dengan SK Gubernur DKI Jakarta tanggal 6 Maret 1974, pelabuhan yang terletak di Jakarta Utara ini kembali menggunakan nama Sunda Kelapa sebagai nama resmi.

Walaupun sudah tidak sejaya dulu, Pelabuhan Sunda Kelapa memegang sejarah penting kemaritiman Indonesia. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa dijadikan destinasi yang dapat dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara.

(hab)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pakai Mobil Listrik...
Pakai Mobil Listrik di Jakarta Bisa Dapat Insentif PKB 0%, Ini Ketentuannya
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru, Ini Lokasinya
Cara Mengajukan Pembetulan...
Cara Mengajukan Pembetulan Data PBB-P2 secara Online, Simak Syarat dan Tahapannya
Rekomendasi
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Selesai Diperiksa, 2 Mobil Tahanan Siaga di Kejagung
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Berita Terkini
Sopir dan Penumpang...
Sopir dan Penumpang Alphard yang Cekcok dengan Satpam di Bundaran HI Ternyata Personel Polda Jabar
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026 Resmi Dibuka, UMKM dan Ekraf Lokal Siap Naik Kelas
Punya Usaha di Bangunan...
Punya Usaha di Bangunan Cagar Budaya? Ini Ketentuan Pengurangan PBB-P2 di Jakarta
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved