Kisah Jenderal Benny Moerdani Hentikan Baku Hantam Pasukan RPKAD dengan Cakrabirawa

Sabtu, 27 Agustus 2022 - 19:15 WIB
loading...
Kisah Jenderal Benny Moerdani Hentikan Baku Hantam Pasukan RPKAD dengan Cakrabirawa
Mayor Infanteri Benny Moerdani dan Presiden Soekarno seusai penyematan Bintang Sakti di halaman Istana Merdeka pada November 1960. Foto/Repro/Ist
A A A
JAKARTA - Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno atau Bung Karno, ketegangan antar pasukan pernah terjadi di tubuh ABRI (sekarang TNI).

Pada pertengahan tahun 1964, antara pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD (sekarang Kopassus) dengan pasukan Tjakrabirawa atau Cakrabirawa dari unsur KKO (sekarang Marinir) saling berhadap-hadapan.

Baca juga: Kisah LB Moerdani yang Menolak Diambil Menantu Bung Karno

Gesekan yang berujung dengan baku hantam massal di Lapangan Banteng itu dipicu aksi saling ejek.

“Tanpa jelas yang menjadi penyebabnya, mendadak saja terjadi insiden. Dimulai dengan saling ejek-mengejek, kemudian berlanjut menjadi perkelahian massal,” kata Benny Moerdani atau LB Moerdani seperti dikutip dalam buku Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan (1993).

Adu fisik di lapangan Banteng pertengahan tahun 1964 itu membuat situasi semakin panas. Pasukan RPKAD yang merasa kalah jumlah dengan KKO Cakrabirawa yang asramanya di Kwini, yakni hanya berseberang jalan dengan lokasi kejadian, langsung berinisiatif mengontak rekan-rekannya di Cijantung.

Dalam waktu cepat datang bantuan dengan iring-iringan truk. Saling ejek yang berubah adu jotos ditengarai hanya akumulasi kecemburuan.

Baca juga: Jenderal Benny Moerdani, Pencetus Pasukan Antiteror Kopassus yang Disegani Dunia

Sebelum insiden terjadi, kehadiran Resimen Cakrabirawa yang dibentuk pada awal Mei 1963, sejak awal telah menimbulkan sentimen tersendiri bagi kesatuan lain, terutama RPKAD. Cakrabirawa merupakan kesatuan khusus yang bertugas menjaga keamanan Presiden Soekarno.

Dalam “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”, Maulwi Saelan mengatakan, gagasan pembentukan Cakrabirawa timbul pasca insiden percobaan pembunuhan Bung Karno pada saat salat Idul Adha 1962 di Istana Negara.

Sebagai kesatuan khusus, Cakrabirawa memiliki kekuatan 3.000 personil yang semuanya berasal dari empat unsur angkatan (AD, AL, AU dan Kepolisian). Mereka merupakan kumpulan dari para tentara pilihan.

“Mereka ini prajurit-prajurit para yang matang dan prajurit gerilya yang sempurna,” kata Bung Karno seperti dikutip dari Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.

Karena alasan khusus, pimpinan ABRI memperlakukan Cakrabirawa istimewa. Mulai pelat nomor kendaraan dinas yang dipakai, hingga seragam personel Cakrabirawa dibuatkan berbeda dengan yang lain.

Warna seragam pasukan Cakrabirawa juga tidak sama dengan kesatuan lainnya. Kendati demikian baret yang dipakai Cakrabirawa berwarna merah bata, nyaris mirip dengan baret merah kebanggaan pasukan RPKAD.

Menurut AKBP Mangil, Komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Cakrabirawa, saat pemakaian baret pertama kali dikenalkan, mereka masih meminjam baret RPKAD.

Untuk membedakan dengan warna merah RPKAD, ditambahkan zat pewarna. “Warnanya bisa kami ubah dari merah menyala menjadi merah bata,” kata Mangil.

Pasukan RPKAD memakai baret dengan posisi miring ke kanan. Sedangkan Cakrabirawa miring ke arah kiri. Dalam perjalanannya, kemiripan warna baret antara pasukan komando (RPKAD) dengan pasukan istimewa (Cakrabirawa) kerap menyulut perselisihan. Para anggota RPKAD berpendapat, sebagai bukan pasukan komando, Cakrabirawa tidak pantas mengenakan baret merah.

“Sebaliknya, pasukan Cakrabirawa sebagai pengawal Presiden/Panglima Tertinggi, selalu merasa paling berjasa dalam mengamankan jalannya revolusi,” tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.

Saat pecah insiden RPKAD dan Cakrabirawa pada pertengahan 1964, Benny Moerdani baru saja menyelesaikan bermain tenis di lapangan Senayan.

Benny Moerdani berpangkat Mayor Infanteri dengan jabatan sebagai Komandan Batalyon I RPKAD. Ia belum lama mendapat anugerah Bintang Sakti yang disematkan langsung oleh Presiden Soekarno.

Penghargaan Bintang Sakti diberikan kepada tentara yang telah berjasa dalam operasi pembebasan Irian Barat (sekarang Papua). Benny yang usai main tenis melihat di jalan masuk menuju asrama Cijantung penuh iring-iringan truk operasional RPKAD yang sarat penumpang. Semuanya anggota RPKAD berpakaian sipil.

Masih mengenakan baju olah raga, Benny diam-diam mencari tahu apa yang sedang terjadi. Iring-iringan truk RPKAD yang ia ikuti berhenti di jalan raya Kramat Raya. Para anggota yang berpakaian sipil itu berloncatan turun dari atas truk dan langsung berlari menuju arah Simpang Lima Senen.

Mereka adalah anggota RPKAD yang dikontak rekan mereka yang berkelahi dengan Cakrabirawa di lapangan Banteng.

Situasi di sepanjang jalan sontak gaduh. Dengan berjalan kaki Benny menembus keramaian lalu lalang orang yang tengah berlarian. Ketika melihat seseorang tengah digotong masuk Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dia langsung menuju ke sana.

Di rumah sakit, Benny mendapat keterangan apa yang terjadi dari seorang dokter yang juga bekas anak buahnya di Pasukan Naga. Diceritakan bahwa konflik diawali aksi saling ejek saat anggota KKO latihan baris berbaris dan pasukan RPKAD belajar mengemudikan mobil.

“Saya tengok ke dalam ruang perawatan. Kira-kira ada tiga anggota RPKAD dan sepuluh KKO ngglethak, terbaring berlumuran darah,” katanya.

Benny langsung berfikir perselisihan harus segera dihentikan. Sebab jika tidak, akan semakin meluas. Dari RSPAD ia berjalan menuju asrama Kwini. Di pos jaga Kwini, terlihat puluhan anggota KKO berseragam Resimen Cakrabirawa dengan bersenjata lengkap. Mereka dalam posisi bersiap-siap mempertahankan asramanya.

Benny dengan mudah masuk ke dalam asrama KKO Cakrabirawa, karena sebagian anggota KKO yang direkrut Cakrabirawa adalah bekas anak buahnya di Irian Barat. Ia bertemu perwira KKO, Mayor Saminu yang kebetulan kenalan lamanya dan sekaligus sama-sama berasal dari Solo.

Benny meminta Saminu menjaga pasukannya agar jangan sampai keluar asrama. Sebaliknya ia akan mengendalikan anggota RPKAD yang dikabarkan hendak melakukan penyerangan.

Saminu setuju. Celakanya, di saat yang sama, menyebar isu di kalangan anak buahnya bahwa Benny yang datang ke asrama Kwini tengah ditangkap KKO.



Mendengar kabar itu anggota RPKAD langsung menduduki asrama perawat puteri RSPAD yang berlokasi persis di samping Kwini. “Dari lantai atas asrama perawat tersebut, sepucuk bazooka siap ditembakkan, tepat mengarah ke dalam asrama KKO”.

Saat bersiap menembak itu, anggota RPKAD melihat Benny melenggang keluar meninggalkan Kwini.

Benny langsung memerintahkan semua anggota RPKAD kembali ke markas mereka di Cinjantung. Sejumlah anggota yang terlihat masih ragu, didorongnya segera naik kendaraan.

Insiden baku hantam antara anggota RPKAD dan KKO Cakrabirawa dan nyaris meluas menjadi pertempuran itu memang berhasil dihentikan.

Namun kabar itu sampai juga ke telinga Bung Karno, dan membuat sang Proklamator itu marah. Pertikaian antara anggota RPKAD dengan KKO Cakrabirawa bisa dihentikan setelah para pimpinan pasukan, yakni Benny Moerdani, Mayor Saminu dan Komandan Resimen Cakrabirawa Kolonel CPM Moh Sabur bertemu di Markas Garnizun Jakarta.
(shf)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1994 seconds (11.210#12.26)