Jawa Barat Siap Tampung Relokasi Investasi dari China

Kamis, 25 Juni 2020 - 17:27 WIB
loading...
Jawa Barat Siap Tampung...
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menyatakan, siap menyambut relokasi investasi dari China menyusul fenomena penarikan investasi negara produsen akibat pandemi COVID-19 dari Negeri Tirai Bambu itu. Foto/Dok/Koran Sindo
A A A
BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyatakan, Provinsi Jawa Barat siap menampung relokasi investasi dari China menyusul fenomena penarikan investasi sejumlah negara produsen dari Negeri Tirai Bambu itu.

Diketahui, pandemi COVID-19 secara langsung mengganggu rantai pasokan global yang dalam dua dekade terakhir berpusat di China. Hal tersebut menyebabkan negara-negara produsen, seperti Amerika Serikat dan Jepang berencana merelokasi rantai pasokannya dari China. (Baca: Selama Pandemi, Bea Cukai Bandung Gagalkan 6 Kali Penyelundupan Narkoba)

Fenomena tersebut menjadi angin segar bagi peluang investasi dalam negeri karena perusahaan-perusahaan Amerika dan Jepang berencana merelokasi investasinya dari China ke negara-negara lain di Asia Tenggara.

Peluang tersebut juga didukung pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang akan mengatur strategi memuluskan datangnya peluang investasi ke Indonesia dengan membentuk Tim Satuan Tugas (Satgas) khusus yang bertugas memfasilitasi calon investor.

Ridwan Kamil menyambut baik upaya yang dilakukan BKPM. Dia menyatakan, siap menampung relokasi investasi dari China. Terlebih, saat ini, Provinsi Jabar menjadi salah satu jantung industri nasional. Setidaknya, terdapat lebih dari 20 kawasan industri di Jabar dengan luas lahan yang tergolong besar dibandingkan kawasan industri di daerah lain.

Bahkan, Gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini menyebutkan, kawasan industri yang tergolong terbesar di Asia Tenggara berada di Provinsi Jabar, yakni kawasan industri Karawang, Bekasi, dan Cikarang.

Sejak tahun lalu, lanjut Kang Emil, pihaknya pun sudah mengincar peluang investasi dengan maraknya relokasi investasi dari China. Pada acara West Java Investment Summit 2019 misalnya, sebanyak 26 memoramdum of understanding (MoU) diteken antara pihak-pihak yang terlibat dalam proyek investasi di Jabar.

Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi investasi di Jabar pun beberapa kali menduduki peringkat pertama di Indonesia. Sepanjang 2019 saja, realisasi investasi di Jabar mencapai Rp137,5 triliun. Beberapa investor besar yang masuk ke Jabar tahun lalu, di antaranya Amazon dengan investasi sebesar Rp40 triliun dan Hyundai yang menggelontorkan investasi sebesar Rp100 triliun.

"Namun, dengan adanya COVID-19, industri di Jawa Barat mengalami penurunan. Sektor jasa mengalami penurunan mencapai 4,8 persen, dan sektor industri manufaktur menurun 4,2 persen, akibat pandemi COVID-19," ungkap Kang Emil dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2020).

Oleh karenanya, lanjut Kang Emil, Provinsi Jabar harus terus menarik investasi yang lebih besar untuk mengembalikan kondisi perekonomian pascapandemi-COVID-19 dan pihaknya siap menyambut peluang investasi yang masuk ke Jabar.

"Jawa Barat akan terus meningkatkan kemudahan birokrasi dan proaktif menjemput investasi. Kami optimistis, investasi ke Jawa Barat akan mulai pulih seiring baiknya penanganan dan pengendalian COVID-19 di Provinsi Jabar," tandasnya.

Meski begitu, menarik relokasi investasi dari China tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara lain, seperti Vietnam dan Thailand yang menyiapkan berbagai daya tarik untuk menampung relokasi investasi dari China.

Dalam kesempatan terpisah, Partner Fiscal Research DDTC Bawono Kristiaji menyampaikan, salah satu hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan daya saing industri pasca pandemi COVID-19 adalah dengan memberikan insentif fiskal yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing industri. (Baca: Paralayang Majalengka Siap Buka 27 Juni, River Tubing Belum )

Menurut Bawono, pemerintah sebetulnya sudah memberikan beragam insentif pajak bagi perusahaan-perusahaan yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. Namun, pemanfaatannya belum maksimal. "Jadi, perlu evaluasi bersama untuk menentukan bentuk insentif yang lebih tepat sasaran," katanya.

Menurutnya, lewat sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk insentif menarik dari Kementerian Keuangan dan fasilitasi realisasi investasi yang cepat dari BKPM, tidak mustahil Indonesia, khususnya Provinsi Jabar dapat menarik lebih banyak investasi pada masa pascapandemi COVID-19 serta meningkatkan daya saing bangsa di pasar global.

Sebelumnya, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, pembentukan tim satgas khusus bertujuan untuk jemput bola perusahaan-perusahaan yang akan melakukan relokasi investasi, agar tertarik masuk ke Indonesia. "Saya buat Satgas di bawah pimpinan saya langsung," kata Bahlil, Senin (22/6/2020).

Tim satgas tersebut memiliki tiga tugas khusus. Pertama, mendeteksi perusahaan-perusahaan yang akan melakukan relokasi. Kedua, mengecek kemudahan-kemudahan yang diberikan negara-negara lain. Ketiga, memberi kewenangan kepada mereka untuk membuat keputusan dalam bernegosiasi. "Itu penting diberikan agar cepat jalannya," tegas Bahlil.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kemendagri Bakal Batalkan...
Kemendagri Bakal Batalkan Surat Edaran Soal Larangan Truk Sumbu 3 Jika Tak Sesuai Hukum
Masyarakat Desak Gubernur...
Masyarakat Desak Gubernur Jabar Atasi Macet Horor di Cileungsi
Minta Pemprov Jabar...
Minta Pemprov Jabar Tutup Judol, Kemenko Polkam: Ada 2,6 Juta Pemain
Soal Pembatasan Truk...
Soal Pembatasan Truk AMDK di Jabar2026, Pengamat: Roadmap Kemenko Infrastruktur 2027
Aptrindo: Kebijakan...
Aptrindo: Kebijakan Gubernur Jabar Terkait Truk ODOL Membingungkan Pelaku Usaha
DPR dan DPD RI Soroti...
DPR dan DPD RI Soroti Sidak Gubernur Jabar ke Pabrik Air Mineral di Subang
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Tertipu, Waspadai Contoh Modus Investasi Ilegal Ini
Investasi Asing Lebih...
Investasi Asing Lebih Pilih Malaysia, Singapura, dan Vietnam daripada Indonesia
Porsi Investasi Asing...
Porsi Investasi Asing Cuma 1,8%, Ekonom: Perizinan Masih Berlarut-larut
Rekomendasi
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Insting Buruknya Jadi...
Insting Buruknya Jadi Nyata! Pengemudi Ojol Ngaku Jadi Target Ilmu Hitam hingga Alami Kecelakaan
CIMB Niaga Gelar Sustainability...
CIMB Niaga Gelar Sustainability Masterclass, 20 Jurnalis Berkontribusi Aksi Keberlanjutan
Berita Terkini
PT Pegadaian CPS Pondok...
PT Pegadaian CPS Pondok Aren Bersama Sahabat Berbagi Tangsel Gelar Santunan
3 Pengamen di Bekasi...
3 Pengamen di Bekasi Coba Bakar Rumah Warga, Sempat Ditangkap dan Diselesaikan Melalui RJ
Kang Cucun Santuni 1.448...
Kang Cucun Santuni 1.448 Anak Yatim di 12 Titik di Bandung dan Resmikan Rutilahu
Rekam Jejak Eks Ketua...
Rekam Jejak Eks Ketua PN Kudus yang Dipecat karena Tilep Uang Rp2 Miliar
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Polda NTT Perkuat Kesehatan Mental Personel lewat USEFT
Menkes Pastikan Korban...
Menkes Pastikan Korban Penyekapan di Bandung Jalani Rehabilitasi dan Rekonstruksi secara Optimal
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved