HUT DKI ke-493, Anggota DPRD: Pekerjaan Rumah Pak Anies Masih Banyak
Senin, 22 Juni 2020 - 23:20 WIB
loading...
A
A
A
Ada beberapa pekerjaan Pemprov DKI Jakarta yang sangat menonjol dan menjadi polemik, seperti revitalisasi Monumen Nasional (Monas) dan penyelenggaraan Formula E. Dua proyek tersebut bisa dibilang rentan untuk merusak sejarah dan keaslian dari Monas.
"Dua program tersebut membuktikan bahwa Pemprov DKI tidak paham akan sejarah tentang ibu kota Jakarta dan tidak perduli sama sekali. Program kegiatan ini akan bisa menghilangkan keaslian dari arti Monas itu sendiri. Bagaimanapun juga Monas adalah salah satu ikon dan sejarah yang membuat Ibu Kota Jakarta dijadikan Ibu Kota Indonesia. Jadi tolong dihargai dan jangan dirusak keasliannya," tuturnya.
Kent juga menilai, salah satu hal yang nyata terlihat berubah saat ini hanyalah di bidang transportasi, seperti Mass Rapid Transit (MRT) saja. Namun itu juga bukan semata-mata hasil kinerja Gubernur Anies Baswedan, melainkan suatu proses panjang yang telah dilakukan sejak era gubernur-gubernur sebelumnya.
"MRT itu bukan hasil kinerja dari Pak Anies, Pak Anies hanya meresmikan MRT saja pada saat ini. MRT itu hasil dari proses panjang era gubernur-gubernur sebelumnya," tuturnya. ( Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Begini Perayaan HUT Jakarta ke-493 secara Virtual)
Menurut Kent, untuk menata Jakarta sangatlah mudah, hanya ikuti saja yang sudah direncanakan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Jakarta 2030. "Ikuti saja RTRW dan RDTR Jakarta 2030, asal tidak keluar dan melenceng dari jalur tersebut maka ibukota otomatis akan tertib dan manusiawi," tuturnya.
Di tengah pandemi Covid-19 ini, Kent juga menyikapi kinerja Gubernur Anies Baswedan yang dinilai masih belum adil terhadap warga menengah ke bawah. Seperti pembagian bantuan sosial (bansos) yang tidak merata di DKI Jakarta. Banyak warga yang justru membutuhkan tetapi tidak mendapatkan bansos.
"Dua program tersebut membuktikan bahwa Pemprov DKI tidak paham akan sejarah tentang ibu kota Jakarta dan tidak perduli sama sekali. Program kegiatan ini akan bisa menghilangkan keaslian dari arti Monas itu sendiri. Bagaimanapun juga Monas adalah salah satu ikon dan sejarah yang membuat Ibu Kota Jakarta dijadikan Ibu Kota Indonesia. Jadi tolong dihargai dan jangan dirusak keasliannya," tuturnya.
Kent juga menilai, salah satu hal yang nyata terlihat berubah saat ini hanyalah di bidang transportasi, seperti Mass Rapid Transit (MRT) saja. Namun itu juga bukan semata-mata hasil kinerja Gubernur Anies Baswedan, melainkan suatu proses panjang yang telah dilakukan sejak era gubernur-gubernur sebelumnya.
"MRT itu bukan hasil kinerja dari Pak Anies, Pak Anies hanya meresmikan MRT saja pada saat ini. MRT itu hasil dari proses panjang era gubernur-gubernur sebelumnya," tuturnya. ( Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Begini Perayaan HUT Jakarta ke-493 secara Virtual)
Menurut Kent, untuk menata Jakarta sangatlah mudah, hanya ikuti saja yang sudah direncanakan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Jakarta 2030. "Ikuti saja RTRW dan RDTR Jakarta 2030, asal tidak keluar dan melenceng dari jalur tersebut maka ibukota otomatis akan tertib dan manusiawi," tuturnya.
Di tengah pandemi Covid-19 ini, Kent juga menyikapi kinerja Gubernur Anies Baswedan yang dinilai masih belum adil terhadap warga menengah ke bawah. Seperti pembagian bantuan sosial (bansos) yang tidak merata di DKI Jakarta. Banyak warga yang justru membutuhkan tetapi tidak mendapatkan bansos.
Lihat Juga :