Balita di Jakbar Alami Gizi Buruk, Anggota DPRD DKI: Ini Sangat Dramatis dan Miris
Kamis, 12 Mei 2022 - 16:40 WIB
loading...
A
A
A
Lalu Jakarta Barat sebanyak 1.823 balita, Jakarta Pusat sebanyak 989 balita, Jakarta Selatan sebanyak 803 kasus, dan Jakarta Utara sebanyak 498 balita.
Menurut Kent-sapaan akrab Hardiyanto Kenneth, banyak faktor yang membuat banyak balita di Jakarta menderita gizi buruk, salah satunya faktor ekonomi yang mendera keluarga saat pandemi Covid-19.
"Kita ketahui bersama bahwa pandemi Covid-19 membuat sejumlah warga di Jakarta mengalami kesulitan ekonomi. Hal itu berdampak terhadap pemberian nutrisi kepada anak-anak balita. Nutrisi yang kurang diberikan kepada balita ini akan memiliki dampak negatif yang sangat panjang. Hal ini secara otomatis akan mengakibatkan balita di DKI Jakarta rentan terkena penyakit," tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP DKI Jakarta itu.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta itu menilai hal tersebut bukan murni kesalahan dari Dinas Kesehatan Jakarta Barat. Akan tetapi timbul karena ketidakpekaan dari Camat dan Lurah Kalideres terhadap kasus tersebut.
"Menurut saya bahwa Ini bukan sepenuhnya kesalahan Dinkes Jakbar, mereka sifatnya hanya menerima laporan dan segera langsung melakukan penanganan. Secara prinsip kan tidak mungkin Dinkes Jakbar mengetahui orang yang sakit kalau tidak ada aduan. Seharusnya Camat dan Lurah Kalideres bisa lebih sensitif, mereka bisa memaksimalkan peran RT, RW dan FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat) di wilayahnya masing masing," beber Kent.
Menurut Kent, jika Camat dan Lurah bekerja maksimal pasti bisa diantisipasi dari awal dan tidak perlu adanya balita yang terjangkit gizi buruk di Kalideres. Sebab tupoksi cegah dini dan deteksi dini ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG), serta menjadi katalisator program pemerintah daerah, secara otomatis melekat di badan organisasi RT, RW, dan FKDM.
Menurut Kent-sapaan akrab Hardiyanto Kenneth, banyak faktor yang membuat banyak balita di Jakarta menderita gizi buruk, salah satunya faktor ekonomi yang mendera keluarga saat pandemi Covid-19.
"Kita ketahui bersama bahwa pandemi Covid-19 membuat sejumlah warga di Jakarta mengalami kesulitan ekonomi. Hal itu berdampak terhadap pemberian nutrisi kepada anak-anak balita. Nutrisi yang kurang diberikan kepada balita ini akan memiliki dampak negatif yang sangat panjang. Hal ini secara otomatis akan mengakibatkan balita di DKI Jakarta rentan terkena penyakit," tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP DKI Jakarta itu.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta itu menilai hal tersebut bukan murni kesalahan dari Dinas Kesehatan Jakarta Barat. Akan tetapi timbul karena ketidakpekaan dari Camat dan Lurah Kalideres terhadap kasus tersebut.
"Menurut saya bahwa Ini bukan sepenuhnya kesalahan Dinkes Jakbar, mereka sifatnya hanya menerima laporan dan segera langsung melakukan penanganan. Secara prinsip kan tidak mungkin Dinkes Jakbar mengetahui orang yang sakit kalau tidak ada aduan. Seharusnya Camat dan Lurah Kalideres bisa lebih sensitif, mereka bisa memaksimalkan peran RT, RW dan FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat) di wilayahnya masing masing," beber Kent.
Menurut Kent, jika Camat dan Lurah bekerja maksimal pasti bisa diantisipasi dari awal dan tidak perlu adanya balita yang terjangkit gizi buruk di Kalideres. Sebab tupoksi cegah dini dan deteksi dini ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG), serta menjadi katalisator program pemerintah daerah, secara otomatis melekat di badan organisasi RT, RW, dan FKDM.
Lihat Juga :