Peringati Harlah Ansor, Anggota Dewan Ini Kenang Pengalaman Saat Jadi Banser
Sabtu, 25 April 2020 - 05:20 WIB
loading...
A
A
A
"Saat itu semua santri PETA yang jumlahnya ribuan bergabung di GP Ansor, termasuk saya. Tapi saat awal kita masih menggunakan nama ANO yaitu Anak Nahdlatul Ulama untuk menghindari represif penguasa," ujarnya.
Chusainuddin mengaku banyak bekal yang ia dapatkan saat aktif sebagai Banser di GP Ansor Tulungagung. Baik bekal fisik, mental maupun wawasan berorganisasi. Semua itu landasannya ikhlas dan tawadhu pada kiai.
Pria asal kelurahan Botoran, Tulungagung ini mengaku pernah nekat meninggalkan istrinya untuk mengikuti diklan selama seminggu. Padahal saat itu, istrinya baru sebulan melahirkan anak pertama.
"Saya di Ansor seangkatan dengan Kasatkornas Banser Almarhum Ir. Alfa Isnaeni dan Prof Akhyak, guru besar IAIN Tulungagung. Kita semua modalnya ikhlas dan patuh kiai. Atribut, seragam, pelatihan semua pakai uang sendiri," tutur suami Yuli Nadhifah Triswati, anggota DPRD Tulungagung
Chusainuddin mengaku banyak bekal yang ia dapatkan saat aktif sebagai Banser di GP Ansor Tulungagung. Baik bekal fisik, mental maupun wawasan berorganisasi. Semua itu landasannya ikhlas dan tawadhu pada kiai.
Pria asal kelurahan Botoran, Tulungagung ini mengaku pernah nekat meninggalkan istrinya untuk mengikuti diklan selama seminggu. Padahal saat itu, istrinya baru sebulan melahirkan anak pertama.
"Saya di Ansor seangkatan dengan Kasatkornas Banser Almarhum Ir. Alfa Isnaeni dan Prof Akhyak, guru besar IAIN Tulungagung. Kita semua modalnya ikhlas dan patuh kiai. Atribut, seragam, pelatihan semua pakai uang sendiri," tutur suami Yuli Nadhifah Triswati, anggota DPRD Tulungagung
(msd)
Lihat Juga :