Cari Solusi, Polda Papua Hadirkan Tokoh Pro dan Kontra DOB di FGD

Kamis, 28 April 2022 - 08:52 WIB
loading...
Cari Solusi, Polda Papua...
Polda Papua melalui Direktorat Intelkam menggelar acara Focus Groub Discussion (FGD) menyikapi pro kontra Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Papua. Foto SINDOnews
A A A
JAYAPURA - Polda Papua melalui Direktorat Intelkam menggelar Focus Groub Discussion (FGD) menyikapi pro kontra Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Papua. FGD yang digelar di Abepura Kota Jayapura Selasa (26/4/2022) dengan tema 'Manfaat dan Kerugian Otsus dan DOB bagi Orang Asli Papua,' menghadirkan tokoh adat, agama dan pihak akademisi yang pro maupun kontra DOB.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Muh. Thaha Alhamid selaku tokoh muslim Papua, Isak H.A Rumbarar selaku Dosen Universitas Saint dan Teknologi Jayapura, Dr. Melkias Hetharia selaku Dosen Uncen, termasuk juga para aktivis dan BEM Universias di Kota Jayapura. Baca juga: Mantan Tokoh Papua Merdeka Nicolas Masset Apresiasi Daerah Otonomi Baru



Kompol Sujono, mewakili Direktur Intelkam Polda Papua dalam kesempatan tersebut mengatakan, pihak Polda Papua merasa perlu menyelenggarakan FGD sebagai bentuk sharing aspirasi atas persoalan yang terjadi di Papua, yakni terkait pro kontra Otsus dan DOB.

Kompol Sujono mengakui, selama ini setelah DPR RI mengesahkan tiga DOB di Provinsi Papua, masih ada yang menolak dan menerima kebijakan tersebut.

"Kami dari kepolisian menyampaikan bahwa pro dan kontra dalam kebijakan itu hal yang biasa. Namun kita dapat menyikapi dan menyampaikan bagaimana sudut pandang kita semua terhadap adanya kebijakan ini," kata Kompol Sujono.

Dirinya berharap, FGD yang diselenggarakan dapat menghasilkan solusi. Semua pihak yang hadir bisa menyampaikan argumennya, namun mesti dengan acuan data yang valid, sehingga diskusi benar-benar mendapat hasil.

Dosen Universitas Cendrawasih Prof Dr Melkias Hetharia, menyebut jika Otsus menekankan pada asas afirmasi, sehingga berbeda dengan daerah lain. Namun pertanyaannya apakah afirmasi itu berlaku selamanya.

"Orang Papua harusnya bisa bersaing. Otsus harus ada masa berlakunya, jangan seterusnya. Nanti kita bisa terbuai dan tidak mampu bersaing. Kita harus mampu, Papua harus bisa, Otsus ini jangan lagi lama-lama ada di Papua, itulah sebabnya ada UU keuangan dalam Otsus sampai tahun 2020, namun ternyata di Papua saat ini PAD masih rendah sehingga Otsus diperpanjang dan direvisi," ucapnya.

APBD Provinsi Papua Rp14 triliun, dana Otsus sekitar Rp8 triliun, Dana DPA hanya Rp6 triliun. Kenyataanya di kabupaten kota hanya sekita Rp300-Rp600 miliar saja dana yang diterima.

Soal DOB, kata Melkias, DOB banyak mendatangkan nilai positif daripada negatif. Berbagai keraguan akan permasalahan yang timbul dapat diatasi dengan regulasi. Baca juga: Tokoh Adat Papua Sebut Penolakan DOB Cenderung karena Persoalan Kekuasaan

"Saya ingin simpulkan, bahwa sebenarnya DOB mendatangkan kebaikan, sisi positifnya lebih banyak, dan mungkin saya ingin mengatakan bahwa sisi negatifnya tidak ada. Apakah kita takut penjarahan di hutan yang membuat hutan jadi rusak, padahal sudah ada banyak aturan pada negara ini, dan perusak itu merupakan orang yang nakal dari antara pengusaha dan penguasa," bebernya.

Hal senada disampaikan Dosen Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Isak H.A Rumbarar. "Pemekaran ini sebenarnya hal yang luar biasa, kita harus memikirkan konsep dasar, seperti di Pancasila semua mudah diwujudkan, dimulai dari sila pertama sampai dengan sila keempat. Namun yang kelima sangat sulit diwujudkan. Sehingga DOB ada untuk mejawab keadilan sosial tersebut," pungkasnya.
(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Bakal Bangun Pusat...
China Bakal Bangun Pusat Padi dan Sekolah Vokasi di Papua
Operasi SAR Ledakan...
Operasi SAR Ledakan Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak Ditutup
10 Sampel DNA Keluarga...
10 Sampel DNA Keluarga Korban Ledakan Bom Peninggalan PD II di Biak Dikirim ke Puslabfor
12 Rumah hingga Gereja...
12 Rumah hingga Gereja Rusak Akibat Ledakan Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak Numfor
Gempa Magnitudo 5,4...
Gempa Magnitudo 5,4 Guncang Sarmi Papua
Ini Identitas Korban...
Ini Identitas Korban Tewas dan Hilang Akibat Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
Polemik Voters Munas...
Polemik Voters Munas HIPMI Mengemuka: BPD DOB Pertanyakan Dasar Pengurangan Hak Suara
Semangat Otsus Harus...
Semangat Otsus Harus Tercermin dalam Desain Politik Papua
Rekomendasi
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Ikut Audisi Miss Indonesia...
Ikut Audisi Miss Indonesia 2026, Wakil dari Sumut Ini Ingin Menginspirasi Perempuan Indonesia
Berita Terkini
Pramono Bangun Pedestrian...
Pramono Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas untuk Tingkatkan Konektivitas
Kadishub DKI Sangkal...
Kadishub DKI Sangkal Anak Buahnya Minta Duit Rp250 Ribu ke Ojol yang Motornya Diangkut
Gempa Magnitudo 4,1...
Gempa Magnitudo 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Gempa Susulan Pascagempa M6,7
Kasus Pemuda Tewas di...
Kasus Pemuda Tewas di Selokan Mustikajaya: 4 Orang Ditangkap, Motif Digali Polisi
Dukung Rumah Pastori...
Dukung Rumah Pastori GPdI Eklesia Amban, Kemenag Komitmen Pembangunan Sarana Keagamaan
Aktivitas Gunung Anak...
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Masyarakat Diimbau Waspada
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved