Masjid Jami Al-Atiq Menolak Jadi Cagar Budaya DKI Jakarta
Jum'at, 15 April 2022 - 03:19 WIB
loading...
A
A
A
Fahri mengatakan awalnya masjid tersebut dinamakan Masjid Kampung Melayu. Nama tersebut diberikan karena tempat ibadah itu digunakan sebagai lokasi pelarian para pejuang kemerdekaan pada masa lampau.
"Masjid ini bersejarah karena dulu kampung di sini juga menjadi pelarian para pejuang. Salah satunya si Pitung, jawara Betawi yang pernah singgah di sini. Selain Pitung, dulu ada Bung Karno, Bung Tomo bahkan Buya Hamka pernah singgah beribadah di masjid ini," katanya.
Terkait adanya empat tiang pancang di dalam masjid, Fahri menjelaskan dahulu keempat tiang itu difungsikan sebagai pondasi awal masjid yang sebelumnya Musala. Empat tiang tersebut yang menunjang berdirinya masjid hingga sekarang sehingga masih dipertahankan.
"Masjid ini kokoh berdiri sampai sekarang karena empat tiang pancang ini. Asal masjid ini dari empat tiang tersebut yang awalnya untuk surau (Musala)," tutur Fahri.
Terkait pemugaran surau hingga menjadi masjid karena banyaknya warga yang beribadah salat selepas bepergian menggunakan perahu getek di Kali Ciliwung. Fahri menceritakan Kali Ciliwung dahulu digunakan sebagai lalu lintas transportasi umum bagi warga Ibu Kota, sehingga selepas bepergian, banyak warga singgah untuk beribadah di Masjid Al-Atiq.
"Karena dulu ada lalu lintas perahu getek, banyak warga singgah untuk salat di surau. Karena banyaknya warga yang beribadah, akhirnya warga bersepakat untuk dipugar menjadi masjid seperti sekarang," ujarnya.
"Masjid ini bersejarah karena dulu kampung di sini juga menjadi pelarian para pejuang. Salah satunya si Pitung, jawara Betawi yang pernah singgah di sini. Selain Pitung, dulu ada Bung Karno, Bung Tomo bahkan Buya Hamka pernah singgah beribadah di masjid ini," katanya.
Terkait adanya empat tiang pancang di dalam masjid, Fahri menjelaskan dahulu keempat tiang itu difungsikan sebagai pondasi awal masjid yang sebelumnya Musala. Empat tiang tersebut yang menunjang berdirinya masjid hingga sekarang sehingga masih dipertahankan.
"Masjid ini kokoh berdiri sampai sekarang karena empat tiang pancang ini. Asal masjid ini dari empat tiang tersebut yang awalnya untuk surau (Musala)," tutur Fahri.
Terkait pemugaran surau hingga menjadi masjid karena banyaknya warga yang beribadah salat selepas bepergian menggunakan perahu getek di Kali Ciliwung. Fahri menceritakan Kali Ciliwung dahulu digunakan sebagai lalu lintas transportasi umum bagi warga Ibu Kota, sehingga selepas bepergian, banyak warga singgah untuk beribadah di Masjid Al-Atiq.
"Karena dulu ada lalu lintas perahu getek, banyak warga singgah untuk salat di surau. Karena banyaknya warga yang beribadah, akhirnya warga bersepakat untuk dipugar menjadi masjid seperti sekarang," ujarnya.
Lihat Juga :