Kesucian Ramadhan dan Detik-detik Pangeran Diponegoro Ditangkap Belanda saat Lebaran
Senin, 11 April 2022 - 04:52 WIB
loading...
A
A
A
Pada tengah hari 8 Maret 1830 (kahri ke-12 Ramadhan), Diponegoro dan pasukan bertombaknya memasuki kota Magelang untuk sebentar bertemu Letnan Jenderal de Kock dan pejabat lain di kantor Residen Kedu.
Ia masuk bersama “para panglimanya yang masih muda-muda, serta anggota rombongan yang jumlahnya sudah membengkak menjadi 800 orang." Dalam pertemuan itu, tulis Carey, "de Kock dan Diponegoro saling cerita bertukar lelucon dan menemukan mata saat bertemu."
Tidak ada penangkapan atau pertikaian pada hari itu, meski de Kock bisa saja melakukannya. Jika Diponegoro diringkus saat itu juga, menurut Carey, “Belanda takut mereka akan menghadapi pertempuran baru lagi jika pemimpin Perang Jawa itu ditangkap secara paksa dengan kekuatan militer."
Letnan Jenderal de Kock merasa, Diponegoro bisa saja kabur dan terus melawan lagi lain waktu bila dibiarkan. Panglima tertinggi tentara Belanda itu juga sadar, sebagaimana dikutip Carey, “[Penangkapan macam itu] tidak terpuji, tidak ksatria, dan curang karena Diponegoro telah datang ke Magelang dengan niat baik bertemu saya."
"De Kock tampaknya telah bertemu dengan Diponegoro dalam tiga kesempatan yang berbeda pada masa ini, dua kali dalam acara jalan subuh di taman keresidenan dan sekali ketika ia datang sendiri ke pesanggrahan Pangeran itu sebelum mulai puasa hari itu," ucap Carey.
Menurut kesaksian Diponegoro, tiga pertemuan ini berlangsung dalam suasana menyenangkan dan santai, dengan kedua¬nya bertukar canda dan merasa senang bertemu. Bahwa keduanya masih berkabung atas kematian istri masing-masing yang sangat mereka kasihi serta yang meninggal dalam waktu yang terpaut satu tahun antara November 1827 dan November 1828, tampak telah membuat mereka merasa istimewa dekatnya.
Setelah pertemuan itu, Diponegoro dan pengikutnya berkemah di Matesih, sebuah daerah di tepi Kali Progo. Di mana perwira bernama Mayor Francois Victor Henri Antoine Ridder de Steur, yang tak lain mantu de Kock, melukis perkemahan tersebut.
Carey mencatat, Belanda nyatanya tak semurah hati itu. Residen Yogyakarta Frans Gerhardus Valck menempatkan Tumenggung Mangunkusumo dalam rombongan Diponegoro sebagai mata-mata. .
Ia masuk bersama “para panglimanya yang masih muda-muda, serta anggota rombongan yang jumlahnya sudah membengkak menjadi 800 orang." Dalam pertemuan itu, tulis Carey, "de Kock dan Diponegoro saling cerita bertukar lelucon dan menemukan mata saat bertemu."
Tidak ada penangkapan atau pertikaian pada hari itu, meski de Kock bisa saja melakukannya. Jika Diponegoro diringkus saat itu juga, menurut Carey, “Belanda takut mereka akan menghadapi pertempuran baru lagi jika pemimpin Perang Jawa itu ditangkap secara paksa dengan kekuatan militer."
Letnan Jenderal de Kock merasa, Diponegoro bisa saja kabur dan terus melawan lagi lain waktu bila dibiarkan. Panglima tertinggi tentara Belanda itu juga sadar, sebagaimana dikutip Carey, “[Penangkapan macam itu] tidak terpuji, tidak ksatria, dan curang karena Diponegoro telah datang ke Magelang dengan niat baik bertemu saya."
"De Kock tampaknya telah bertemu dengan Diponegoro dalam tiga kesempatan yang berbeda pada masa ini, dua kali dalam acara jalan subuh di taman keresidenan dan sekali ketika ia datang sendiri ke pesanggrahan Pangeran itu sebelum mulai puasa hari itu," ucap Carey.
Menurut kesaksian Diponegoro, tiga pertemuan ini berlangsung dalam suasana menyenangkan dan santai, dengan kedua¬nya bertukar canda dan merasa senang bertemu. Bahwa keduanya masih berkabung atas kematian istri masing-masing yang sangat mereka kasihi serta yang meninggal dalam waktu yang terpaut satu tahun antara November 1827 dan November 1828, tampak telah membuat mereka merasa istimewa dekatnya.
Setelah pertemuan itu, Diponegoro dan pengikutnya berkemah di Matesih, sebuah daerah di tepi Kali Progo. Di mana perwira bernama Mayor Francois Victor Henri Antoine Ridder de Steur, yang tak lain mantu de Kock, melukis perkemahan tersebut.
Carey mencatat, Belanda nyatanya tak semurah hati itu. Residen Yogyakarta Frans Gerhardus Valck menempatkan Tumenggung Mangunkusumo dalam rombongan Diponegoro sebagai mata-mata. .
Lihat Juga :