Beragam Nama Jakarta Sejak Tahun 397 hingga Sekarang
Jum'at, 08 April 2022 - 18:02 WIB
loading...
A
A
A
Jakarta (1945-sekarang)
Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin gubernur.
Yang menjadi gubernur pertama adalah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno. Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dan gubernurnya tetap dijabat Soemarno.
Dalam waktu 5 tahun penduduk Jakarta berlipat lebih dari dua kali. Berbagai kantung permukiman kelas menengah baru kemudian berkembang seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Pulo Mas, Tebet, dan Pejompongan. Pusat-pusat permukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar antara lain Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional (Monas). Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara.
Laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai “kota tertutup” bagi pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk seperti banjir dan kemacetan.
Sumber: jakarta.go.id; pinterpandai.com
Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin gubernur.
Yang menjadi gubernur pertama adalah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno. Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dan gubernurnya tetap dijabat Soemarno.
Dalam waktu 5 tahun penduduk Jakarta berlipat lebih dari dua kali. Berbagai kantung permukiman kelas menengah baru kemudian berkembang seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Pulo Mas, Tebet, dan Pejompongan. Pusat-pusat permukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar antara lain Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional (Monas). Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara.
Laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai “kota tertutup” bagi pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk seperti banjir dan kemacetan.
Sumber: jakarta.go.id; pinterpandai.com
(jon)
Lihat Juga :