Ratusan Ekor Babi di Bartim Mati Terpapar ASF, Belum Ada Penanganan Pemerintah
Jum'at, 11 Maret 2022 - 11:24 WIB
loading...
A
A
A
Babi yang mati di Desa Gumpa rata-rata sudah besar, karena itu Salakman memperkirakan total kerugian akibat kematian babi mencapai ratusan juta rupiah.
"Kita rata-rata saja per ekor babi yang mati beratnya 30 kilogram, dikalikan 200 ekor, kemudian dikalikan harga daging babi Rp45 ribu per kilogram," urainya. Baca juga: Kelaparan Babi Hutan Masuk Permukiman Bikin Panik Warga Hambalang Bogor
Camat Patangkep Tutui, Nina Marissa membenarkan adanya kasus ASF di beberapa desa. Namun hingga kini Nina belum mendapatkan laporan dari pemerintah desa jumlah kematian babi. "Belum ada laporan masuk ke kami, mungkin ke dinas terkait," jawabnya saat dihubungi MNC Portal Jumat, (12/3/2022).
Terpisah, Dokter Hewan Akhmad Rizaldi mengatakan, tanda klinis babi yang terpapar ASF yakni kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum. Selain itu, babi juga mengalami diare berdarah, kemerahan pada telinga, demam 41 derajat celsius, konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis dan kejang.
Kadang babi juga mengalami muntah, diare atau sembelit, pendarahan kulit sianosis yang menyebabkan babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas dan tidak mau makan.
"Kita rata-rata saja per ekor babi yang mati beratnya 30 kilogram, dikalikan 200 ekor, kemudian dikalikan harga daging babi Rp45 ribu per kilogram," urainya. Baca juga: Kelaparan Babi Hutan Masuk Permukiman Bikin Panik Warga Hambalang Bogor
Camat Patangkep Tutui, Nina Marissa membenarkan adanya kasus ASF di beberapa desa. Namun hingga kini Nina belum mendapatkan laporan dari pemerintah desa jumlah kematian babi. "Belum ada laporan masuk ke kami, mungkin ke dinas terkait," jawabnya saat dihubungi MNC Portal Jumat, (12/3/2022).
Terpisah, Dokter Hewan Akhmad Rizaldi mengatakan, tanda klinis babi yang terpapar ASF yakni kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum. Selain itu, babi juga mengalami diare berdarah, kemerahan pada telinga, demam 41 derajat celsius, konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis dan kejang.
Kadang babi juga mengalami muntah, diare atau sembelit, pendarahan kulit sianosis yang menyebabkan babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas dan tidak mau makan.
Lihat Juga :