Kabupaten Bone Ikut Program Ketahanan Pangan Pemerintah Indonesia-Kanada
Kamis, 24 Februari 2022 - 19:48 WIB
loading...
Kabupaten Bone terpilih untuk mengikuti program ketahanan pangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kanada. Foto: SINDOnews/Dok
A
A
A
MAKASSAR - Kabupaten Bone menjadi daerah pengembangan program Sustainable Landscapes For Climate-Resilient Livelihood In Indonesia (Land4Lives) atau lahan untuk kehidupan di Sulawesi Selatan. Bone jadi satu di antara tiga daerah di Indonesia yang terpilih.
Program ini terlaksana atas kerja sama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia dan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada (GAC).
Baca juga:Berkat Inovasi, Bakrie Group Panen Raya Padi Gogo 84 Hektar
Program ini telah berlangsung sejak Maret 2021 sampai Maret 2026 mendatang. Pelaksana program ini adalah World Agroforestry (ICRAF) Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan .
Sebagai langkah awal, telah dilakukan lokakarya dengan tajuk Lahan untuk Kehidupan: Bersama Mewujudkan Penghidupan Berketahanan Iklim, Kamis (24/2/2022). Kegiatan ini dilaksankan di Hotel Claro, Kota Makassar.
Perwakilan ICRAF, James Reshetko menjelaskan, program Land4Lives ini merupakan proyek kerja sama untuk perubahan iklim dengan tujuan meningkatkan ketahanan pangan, pengelolaan bentang lahan yang peka gender, dan menguatnya penghidupan berketahanan iklim, khususnya untuk masyarakat kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
Selama lima tahun jalannya program ini, GAC mengucurkan anggaran USD 16,8 juta atau sekitar Rp192 miliar. Namun duit itu bukan hanya untuk Bone saja. Tetapi Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Timur.
"Kabupaten Bone sebagai salah satu daerah yang wilayahnya terbesar, dan dipilih 12 desa sebagai lokus dan percontohan. Yang dipastikan akan ikut memberi dampak ke desa lain di Bone, bahkan kabupaten lain di Sulsel," ungkap James.
Baca juga:Perkuat Ketahanan Pangan, Menko Airlangga Dorong Optimalisasi Budidaya Padi Gogo
"Untuk Sumatera Selatan akan fokus mitigasi perubahan iklim, di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, fokus kegiatan adaptasi perubahan iklim, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan Nusa Tenggara Timur fokus adaptasi perubahan iklim," sambungnya.
Perwakilan ICRAF lainnya, Fery Johan menambahkan program ini merupakan wujud dukungan kepada Pemerintah Indonesia untuk memenuhi komitmen nasional yang diperbaharui atau Updated Nationally Determined Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% (dengan usaha sendiri) dan 41% (dengan dukungan internasional) pada 2030.
"Ada tiga hal yang ingin dicapai dalam program ini yang dibagi menjadi tiga paket kerja, yaitu penguatan tata kelola penggunaan lahan dan pembuatan kebijakan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang bermanfaat bagi masyarakat tertinggal dan rentan pada beberapa provinsi di Indonesia serta mengurangi emisi dari sektor lahan," ucapnya.
Kedua, perbaikan pengelolaan bentang lahan oleh pengelola dan pengguna lahan dalam menjaga fungsi dan jasa lingkungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, baik kaum wanita maupun pria. "Dan ketiga, peningkatan penghidupan dan ketahanan pangan secara cerdas iklim bagi masyarakat tertinggal dan rentan, terutama kaum perempuan," tukasnya.
Sementara itu, Kepala Bappelitbangda Sulsel, Andi Darmawan Bintang berharap program ini bakal berjalan baik dapat memberikan peningkatan kesejahteraan utamanya di bidang pengolahan lahan yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
"Dengan adanya kegiatan ini nantinya bisa direduplikasi metode dalam hal pertanian yang punya ketahanan dalam perubahan iklim," kata Darmawan.
Baca juga:Lewat Kerja Sama Ketahanan Pangan, Prabowo Disebut Upayakan Normalisasi dengan Israel
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bone, Ade Fariq mengaku jika ada beberapa aspek yang tentu bisa diraih Bone dengan program tersebut seperti mitigasi, pemberdayaan dan pengembangan.
"Yang pasti akan meningkatkan penghidupan yang tahan terhadapfluktuasi ekonomi dan iklim serta peningkatan ketahanan pangan bagi masyarakat tertinggal dan rentan, terutama perempuan dan anak perempuan, khususnya di Kabupaten Bone," tukasnya.
Program ini terlaksana atas kerja sama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia dan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada (GAC).
Baca juga:Berkat Inovasi, Bakrie Group Panen Raya Padi Gogo 84 Hektar
Program ini telah berlangsung sejak Maret 2021 sampai Maret 2026 mendatang. Pelaksana program ini adalah World Agroforestry (ICRAF) Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan .
Sebagai langkah awal, telah dilakukan lokakarya dengan tajuk Lahan untuk Kehidupan: Bersama Mewujudkan Penghidupan Berketahanan Iklim, Kamis (24/2/2022). Kegiatan ini dilaksankan di Hotel Claro, Kota Makassar.
Perwakilan ICRAF, James Reshetko menjelaskan, program Land4Lives ini merupakan proyek kerja sama untuk perubahan iklim dengan tujuan meningkatkan ketahanan pangan, pengelolaan bentang lahan yang peka gender, dan menguatnya penghidupan berketahanan iklim, khususnya untuk masyarakat kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
Selama lima tahun jalannya program ini, GAC mengucurkan anggaran USD 16,8 juta atau sekitar Rp192 miliar. Namun duit itu bukan hanya untuk Bone saja. Tetapi Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Timur.
"Kabupaten Bone sebagai salah satu daerah yang wilayahnya terbesar, dan dipilih 12 desa sebagai lokus dan percontohan. Yang dipastikan akan ikut memberi dampak ke desa lain di Bone, bahkan kabupaten lain di Sulsel," ungkap James.
Baca juga:Perkuat Ketahanan Pangan, Menko Airlangga Dorong Optimalisasi Budidaya Padi Gogo
"Untuk Sumatera Selatan akan fokus mitigasi perubahan iklim, di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, fokus kegiatan adaptasi perubahan iklim, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan Nusa Tenggara Timur fokus adaptasi perubahan iklim," sambungnya.
Perwakilan ICRAF lainnya, Fery Johan menambahkan program ini merupakan wujud dukungan kepada Pemerintah Indonesia untuk memenuhi komitmen nasional yang diperbaharui atau Updated Nationally Determined Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% (dengan usaha sendiri) dan 41% (dengan dukungan internasional) pada 2030.
"Ada tiga hal yang ingin dicapai dalam program ini yang dibagi menjadi tiga paket kerja, yaitu penguatan tata kelola penggunaan lahan dan pembuatan kebijakan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang bermanfaat bagi masyarakat tertinggal dan rentan pada beberapa provinsi di Indonesia serta mengurangi emisi dari sektor lahan," ucapnya.
Kedua, perbaikan pengelolaan bentang lahan oleh pengelola dan pengguna lahan dalam menjaga fungsi dan jasa lingkungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, baik kaum wanita maupun pria. "Dan ketiga, peningkatan penghidupan dan ketahanan pangan secara cerdas iklim bagi masyarakat tertinggal dan rentan, terutama kaum perempuan," tukasnya.
Sementara itu, Kepala Bappelitbangda Sulsel, Andi Darmawan Bintang berharap program ini bakal berjalan baik dapat memberikan peningkatan kesejahteraan utamanya di bidang pengolahan lahan yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
"Dengan adanya kegiatan ini nantinya bisa direduplikasi metode dalam hal pertanian yang punya ketahanan dalam perubahan iklim," kata Darmawan.
Baca juga:Lewat Kerja Sama Ketahanan Pangan, Prabowo Disebut Upayakan Normalisasi dengan Israel
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bone, Ade Fariq mengaku jika ada beberapa aspek yang tentu bisa diraih Bone dengan program tersebut seperti mitigasi, pemberdayaan dan pengembangan.
"Yang pasti akan meningkatkan penghidupan yang tahan terhadapfluktuasi ekonomi dan iklim serta peningkatan ketahanan pangan bagi masyarakat tertinggal dan rentan, terutama perempuan dan anak perempuan, khususnya di Kabupaten Bone," tukasnya.
(luq)
Lihat Juga :