Pasukan Siluman Kera Huni Stadion Patra Jaya Palembang
Minggu, 14 Juni 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Kelompok pertama yang berjumlah sekitar 40 ekor berkeliaran menjaga makam Ratu Bagus Kuning, kelompok kedua berkeliaran di sebelah barat makam, yakni di Stadion Patra Jaya dan barak tentara Zeni Konstruksi, dan kelompok ketiga berkeliaran di arah timur makam di perumahan BUMN migas.
Di kawasan tersebut, termasuk makam dan stadion, memang terdapat cerita rakyat tentang Ratu Bagus Kuning dan Siluman Kera. Menurut cerita turun-temurun dari orang-orang setempat yang berhasil dihimpun, Ratu Bagus Kuning dipercaya sebagai salah satu penyebar ajaran agama Islam di Bumi Sriwijaya.
Lalu apa hubungannya dengan Siluman Kera? Kisahnya bermula tatkala Ratu Bagus Kuning menyebarkan ajaran Islam ke willayah Palembang dan sekitarnya. Di saat Sang Ratu menapaki wilayah perairan Batanghari, dirinya harus berhadapan dengan para pendekar setempat yang berilmu mumpuni.
Sang Ratu tak gentar sama sekali, sebab semua pendekar itu dihadapinya dengan sabar dan yakin bahwa Allah SWT akan menjadi pelindung dan penolong baginya. Dengan semua itu, ditambah dengan kesaktian yang dimilikinya, Sang Ratu mampu menundukkan para pendekar tadi.
Setelah menguasai wilayah Batanghari, Bagus Kuning dan pengikutnya pun melanjutkan perjalanan, memasuki wilayah tengah Kota Palembang. Singgahlah mereka di bagian hulu kota yang sekarang dikenal dengan nama Plaju.
Untuk melepaskan penat dan lelah, rombongan Ratu Bagus Kuning kemudian beristirahat di suatu dataran rendah yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang rindang dan teduh. Mereka pun beristirahat dengan nyaman.
Ketika gelap mulai menyelimuti, ketika sinar matahari berganti cahaya bulan, Ratu Bagus Kuning menyadari bahwa tempat tersebut memiliki penghuni lain. Tempat yang berada di tepian sungai Musi itu ternyata merupakan wilayah Kerajaan Siluman Kera.
Kehadiran Ratu Bagus Kuning dan para pengikutnya itu telah mengusik kenyamanan Siluman Kera dan tentaranya. Agar Ratu Bagus Kuning mengenyahkan diri dari wilayah itu, Siluman Kera dan pasukannya mencoba menakut-nakuti.
Di kawasan tersebut, termasuk makam dan stadion, memang terdapat cerita rakyat tentang Ratu Bagus Kuning dan Siluman Kera. Menurut cerita turun-temurun dari orang-orang setempat yang berhasil dihimpun, Ratu Bagus Kuning dipercaya sebagai salah satu penyebar ajaran agama Islam di Bumi Sriwijaya.
Lalu apa hubungannya dengan Siluman Kera? Kisahnya bermula tatkala Ratu Bagus Kuning menyebarkan ajaran Islam ke willayah Palembang dan sekitarnya. Di saat Sang Ratu menapaki wilayah perairan Batanghari, dirinya harus berhadapan dengan para pendekar setempat yang berilmu mumpuni.
Sang Ratu tak gentar sama sekali, sebab semua pendekar itu dihadapinya dengan sabar dan yakin bahwa Allah SWT akan menjadi pelindung dan penolong baginya. Dengan semua itu, ditambah dengan kesaktian yang dimilikinya, Sang Ratu mampu menundukkan para pendekar tadi.
Setelah menguasai wilayah Batanghari, Bagus Kuning dan pengikutnya pun melanjutkan perjalanan, memasuki wilayah tengah Kota Palembang. Singgahlah mereka di bagian hulu kota yang sekarang dikenal dengan nama Plaju.
Untuk melepaskan penat dan lelah, rombongan Ratu Bagus Kuning kemudian beristirahat di suatu dataran rendah yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang rindang dan teduh. Mereka pun beristirahat dengan nyaman.
Ketika gelap mulai menyelimuti, ketika sinar matahari berganti cahaya bulan, Ratu Bagus Kuning menyadari bahwa tempat tersebut memiliki penghuni lain. Tempat yang berada di tepian sungai Musi itu ternyata merupakan wilayah Kerajaan Siluman Kera.
Kehadiran Ratu Bagus Kuning dan para pengikutnya itu telah mengusik kenyamanan Siluman Kera dan tentaranya. Agar Ratu Bagus Kuning mengenyahkan diri dari wilayah itu, Siluman Kera dan pasukannya mencoba menakut-nakuti.
Lihat Juga :