Harga Minyak Goreng Turun, Pedagang di Pasar Minta Perhatian Pemerintah
Kamis, 20 Januari 2022 - 20:55 WIB
loading...
Stok minyak ukuran satu liter habis di salah satu toko ritel modern di Kabupaten Maros, Kamis (20/1/2022). Foto: SINDOnews/Najmi Limonu
A
A
A
MAROS - Pemerintah resmi menurunkan harga minyak goreng menjadi satu harga, yakni Rp14.000 per liter di seluruh Indonesia. Kebijakan ini berlaku mulai Rabu 19 Januari 2022.
Kebijakan ini membuat warga Kebupaten Maros langsung menyerbu toko ritel modern yang menjual minyak goreng harga rendah. Dari pantauan SINDOnews, stok minyak goreng di ritel modern yang ada, ludes diborong warga.
Baca juga:Minyak Goreng Rp14.000/Liter Akan Tersedia di Toko, Warung dan Pasar
Pegawai Alfamart, Ayu mengatakan, perubahan harga tersebut terjadi kemarin, Rabu 19 Januari 2022. Di tokonya, kebijakan itu berlaku pukul 09.00 pagi. Adapun harganya, minyak goreng ukuran satu liter yang semula Rp20.000, turun jadi Rp14.000.
“Untuk ukuran satu liter semua merek itu harganya Rp14.000, untuk Bimoli yang dua liter dari harga Rp39.000 kini menjadi Rp28.000, Tropikal dari harga Rp40.000 juga turun menjadi Rp28.000,” Ayu merinci.
Dia mengatakan, turunnya harga minyak ini membuat masyarakat yang datang ke Alfamart tidak terkendali. Untuk menghindari pembelian berlebih, maka transaksi setiap konsumen dibatasi hanya satu kemasan.
“Kemarin masyarakat sempat heboh, bahkan dari pagi hingga malam mereka bela-belain datang ke sini (Alfamart), dan hari ini stok minyak goreng sudah tidak ada” katanya.
Sementara itu, salah satu pembeli, Nurul mengaku senang dengan kebijakan ini. “Karena sudah dua bulan ini harga minyak naik, terakhir saya beli itu harganya Rp21.000 per liter, sekarang hanya Rp14.000,” imbuhnya.
Berdasarkan informasi yang diterima, kebijakan pemerintah ini bakal berlangsung selama 6 bulan ke depan. Namun, kondisi berbeda terjadi di Pasar Tramo Maros. Harga minyak goreng kemasan masih belum turun.
Salah satu pedagang di Pasar Tramo, Ismail, mengaku telah mendengar kabar turunnya harga minyak goreng di ritel modern. Hanya saja, bagi dia dan pedagang lain, harga minyak jualannya tak bisa diturunkan sesuai kebijakan pemerintah.
Baca juga:Ada Ritel Jual Minyak Goreng di Atas Rp14.000, Segera Laporkan ke Kontak Ini Bun!
"Kami pedagang di pasar tradisional beda dengan toko-toko ritel. Pedagang itu tidak disubsidi dari pemerintah, sedangkan ritel itu dapat subsidi dari pemerintah,” ungkapnya.
Dia mengusulkan, jika ingin menyatukan harga, sebaiknya pemerintah mendata pedagang yang ada di pasar, kemudian memberikan subsidi juga. Sebab jika mengikuti harga yang ditentukan oleh pemerintah, para pedagang akan mengalami kerugian yang cukup besar.
"Jika kami menjual dengan harga Rp14.000, maka kami akan merugi untuk satu dus itu sekitar Rp120.000," beber Ismail.
Di sisi lain, mereka masih punya stok minyak goreng dengan harga normal. Karena itu, ia akan mengabiskan stok lama terlebih dahulu, dengan harga Rp22.000 untuk minyak ukuran satu liter.
"Kitakan masih menjual stok yang lama, dalam satu pcs itu kita bisa rugi Rp13.000 jika mengikuti arahan pemerintah," ungkap Ismail, sembari berharap pemerintah turun ke pasar tradisional memberikan subsidi.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Kopumdag) Maros, To Wadeng mengatakan, penurunan harga minyak goreng tersebut merupakan arahan Menteri Perdagangan.
"Untuk penyaluran minyak goreng masih dipercayakan kepada toko-toko ritel, dan diharapkan dengan harga yang telah turun, minyak goreng bisa tersalurkan secara adil kepada masyarakat," ucapnya.
Baca juga:Pedagang Minyak Goreng yang Naikkan Harga Bakal Disanksi
Untuk harga di pasar tradisional pihaknya masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari pemerintah pusat. Dia berharap bulan ini akan segara ada kebijakan subsidi. "Pemerintah juga harus menyediakan anggaran dalam rangka menstabilkan harga minyak goreng di pasar tradisional,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, untuk pedagang di pasar masih diberikan waktu satu minggu untuk menjual dengan harga pasar. "Namun untuk di toko ritel tidak boleh menjual di atas Rp14.000,” tutupnya.
Kebijakan ini membuat warga Kebupaten Maros langsung menyerbu toko ritel modern yang menjual minyak goreng harga rendah. Dari pantauan SINDOnews, stok minyak goreng di ritel modern yang ada, ludes diborong warga.
Baca juga:Minyak Goreng Rp14.000/Liter Akan Tersedia di Toko, Warung dan Pasar
Pegawai Alfamart, Ayu mengatakan, perubahan harga tersebut terjadi kemarin, Rabu 19 Januari 2022. Di tokonya, kebijakan itu berlaku pukul 09.00 pagi. Adapun harganya, minyak goreng ukuran satu liter yang semula Rp20.000, turun jadi Rp14.000.
“Untuk ukuran satu liter semua merek itu harganya Rp14.000, untuk Bimoli yang dua liter dari harga Rp39.000 kini menjadi Rp28.000, Tropikal dari harga Rp40.000 juga turun menjadi Rp28.000,” Ayu merinci.
Dia mengatakan, turunnya harga minyak ini membuat masyarakat yang datang ke Alfamart tidak terkendali. Untuk menghindari pembelian berlebih, maka transaksi setiap konsumen dibatasi hanya satu kemasan.
“Kemarin masyarakat sempat heboh, bahkan dari pagi hingga malam mereka bela-belain datang ke sini (Alfamart), dan hari ini stok minyak goreng sudah tidak ada” katanya.
Sementara itu, salah satu pembeli, Nurul mengaku senang dengan kebijakan ini. “Karena sudah dua bulan ini harga minyak naik, terakhir saya beli itu harganya Rp21.000 per liter, sekarang hanya Rp14.000,” imbuhnya.
Berdasarkan informasi yang diterima, kebijakan pemerintah ini bakal berlangsung selama 6 bulan ke depan. Namun, kondisi berbeda terjadi di Pasar Tramo Maros. Harga minyak goreng kemasan masih belum turun.
Salah satu pedagang di Pasar Tramo, Ismail, mengaku telah mendengar kabar turunnya harga minyak goreng di ritel modern. Hanya saja, bagi dia dan pedagang lain, harga minyak jualannya tak bisa diturunkan sesuai kebijakan pemerintah.
Baca juga:Ada Ritel Jual Minyak Goreng di Atas Rp14.000, Segera Laporkan ke Kontak Ini Bun!
"Kami pedagang di pasar tradisional beda dengan toko-toko ritel. Pedagang itu tidak disubsidi dari pemerintah, sedangkan ritel itu dapat subsidi dari pemerintah,” ungkapnya.
Dia mengusulkan, jika ingin menyatukan harga, sebaiknya pemerintah mendata pedagang yang ada di pasar, kemudian memberikan subsidi juga. Sebab jika mengikuti harga yang ditentukan oleh pemerintah, para pedagang akan mengalami kerugian yang cukup besar.
"Jika kami menjual dengan harga Rp14.000, maka kami akan merugi untuk satu dus itu sekitar Rp120.000," beber Ismail.
Di sisi lain, mereka masih punya stok minyak goreng dengan harga normal. Karena itu, ia akan mengabiskan stok lama terlebih dahulu, dengan harga Rp22.000 untuk minyak ukuran satu liter.
"Kitakan masih menjual stok yang lama, dalam satu pcs itu kita bisa rugi Rp13.000 jika mengikuti arahan pemerintah," ungkap Ismail, sembari berharap pemerintah turun ke pasar tradisional memberikan subsidi.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Kopumdag) Maros, To Wadeng mengatakan, penurunan harga minyak goreng tersebut merupakan arahan Menteri Perdagangan.
"Untuk penyaluran minyak goreng masih dipercayakan kepada toko-toko ritel, dan diharapkan dengan harga yang telah turun, minyak goreng bisa tersalurkan secara adil kepada masyarakat," ucapnya.
Baca juga:Pedagang Minyak Goreng yang Naikkan Harga Bakal Disanksi
Untuk harga di pasar tradisional pihaknya masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari pemerintah pusat. Dia berharap bulan ini akan segara ada kebijakan subsidi. "Pemerintah juga harus menyediakan anggaran dalam rangka menstabilkan harga minyak goreng di pasar tradisional,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, untuk pedagang di pasar masih diberikan waktu satu minggu untuk menjual dengan harga pasar. "Namun untuk di toko ritel tidak boleh menjual di atas Rp14.000,” tutupnya.
(luq)
Lihat Juga :