ITB Nobel Mulai Lirik Akreditasi Internasional
Jum'at, 14 Januari 2022 - 17:32 WIB
loading...
Pimpinan Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia (kiri) menerima kunjungan Manajemen SINDO Media, Jumat (14/1/2022)
A
A
A
MAKASSAR - Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia ingin terus meningkatkan kualitasnya. Mereka kini mulai melirik akreditasi internasional untuk setiap program studi (prodi).
Hal tersebut diungkapkan Rektor ITB Nobel, Badaruddin, saat menerima kunjungan tim SINDO Media di ruangannya, di Kampus ITB Nobel, Jalan Sultan Alauddin, Jumat (14/1/2022). Wakil Rektor I Bidang Akademik Ahmad Firman, dan Sekretaris Rektor Rachmawati turut mendampingi.
Baca juga:Prof Husain Syam Minta Alumni UNM Lebih Militan
Dia mengemukakan, sebenarnya ada tiga hal yang akan mereka tekankan setelah status ITB Nobel beralih dari sekolah tinggi ke institut. Penekanan tersebut mulai dari kualitas, relevansi, dan pembelajaran yang atraktif.
“Nobel ini sudah punya kualitas, karena dulu waktu menjadi STIE, dia sekolah tinggi terbaik versi LLDikti. Nah ini modal bagus secara peringkat ini pengakuan dari Nobel,” ujar dia.
Kendati begitu, capaian tersebut tidak membuat ITB Nobel puas. Mereka ingin melangkah lebih jauh dengan mempersiapkan diri menuju akreditasi internasional.
Baca juga:UMI Harap Media Ikut Kembangkan Kualitas Perguruan Tinggi
“Kalau itu terjadi mungkin Nobel akan menjadi PTS pertama di sini yang terakreditasi internasional. Sejak berubah menjadi institut, kita sudah mencanangkan visi baru sebagai PT internasional jadi kita memang membangun kualitas dan kelas itu bukan kualitas lokal,” paparnya.
Perjalanan menuju akreditasi internasional ini sudah mulai mereka jalankan. Mereka menarget sudah bisa rampung pada 2022 ini dan sudah bisa meraih akreditasi internasional pada 2023 nanti.
Selain akreditasi internasional , penekanan ITB Nobel juga terkait relevansi. Dalam hal ini, yakni bagaimana menyelaraskan kebutuhan dunia industri dengan metode pembelajaran di kampus.
Baca juga:Rektor UMI Hadiri Seminar Nasional dan Rakon FRI di Malang
“Itulah kenapa dosen itu kita 70 persen di antaranya praktisi. Mereka punya akademik yang bagus dibarengi praktisi, di bidang pemerintahan, perbankan, industri, semua ada di Nobel,” sebutnya.
Badaruddin menjelaskan, penekanan lainnya yakni membangun pembelajaran yang atraktif. Menurutnya, kelas memang perlu dibuat menjadi nyaman dengan metode belajar yang menarik.
“Kita mulai dari melatih dosen kita membangun yang aktraktif. Kalau tidak mampu membangun kelas aktraktif yang berhadapan dengan generasi Z, mereka akan datang melongo dan tidak dapat apa-apa,” kata dia.
Baca juga:Sambangi Malino, Mahasiswa Modul Nusantara Bagikan Tempat Sampah
Badaruddin menambahkan, seluruh kegiatan yang akan dilakukan oleh ITB Nobel ini tidak bisa sukses tanpa adanya peran media. Sebab, media disebutnya menjadi salah satu wadah yang bisa turut membantu eksistensi mereka.
“Organisasi apapun itu pasti butuh simbiosis dengan media. Apalagi eranya begitu, pasarnya perguruan tinggi itu sekarang di generasi Z. Mereka yang 90 persen di gadgetnya, jadi media-media seperti SINDO tentu menjadi ruang bagi Nobel untuk menyebarluaskan informasi,” tukasnya.
Hal tersebut diungkapkan Rektor ITB Nobel, Badaruddin, saat menerima kunjungan tim SINDO Media di ruangannya, di Kampus ITB Nobel, Jalan Sultan Alauddin, Jumat (14/1/2022). Wakil Rektor I Bidang Akademik Ahmad Firman, dan Sekretaris Rektor Rachmawati turut mendampingi.
Baca juga:Prof Husain Syam Minta Alumni UNM Lebih Militan
Dia mengemukakan, sebenarnya ada tiga hal yang akan mereka tekankan setelah status ITB Nobel beralih dari sekolah tinggi ke institut. Penekanan tersebut mulai dari kualitas, relevansi, dan pembelajaran yang atraktif.
“Nobel ini sudah punya kualitas, karena dulu waktu menjadi STIE, dia sekolah tinggi terbaik versi LLDikti. Nah ini modal bagus secara peringkat ini pengakuan dari Nobel,” ujar dia.
Kendati begitu, capaian tersebut tidak membuat ITB Nobel puas. Mereka ingin melangkah lebih jauh dengan mempersiapkan diri menuju akreditasi internasional.
Baca juga:UMI Harap Media Ikut Kembangkan Kualitas Perguruan Tinggi
“Kalau itu terjadi mungkin Nobel akan menjadi PTS pertama di sini yang terakreditasi internasional. Sejak berubah menjadi institut, kita sudah mencanangkan visi baru sebagai PT internasional jadi kita memang membangun kualitas dan kelas itu bukan kualitas lokal,” paparnya.
Perjalanan menuju akreditasi internasional ini sudah mulai mereka jalankan. Mereka menarget sudah bisa rampung pada 2022 ini dan sudah bisa meraih akreditasi internasional pada 2023 nanti.
Selain akreditasi internasional , penekanan ITB Nobel juga terkait relevansi. Dalam hal ini, yakni bagaimana menyelaraskan kebutuhan dunia industri dengan metode pembelajaran di kampus.
Baca juga:Rektor UMI Hadiri Seminar Nasional dan Rakon FRI di Malang
“Itulah kenapa dosen itu kita 70 persen di antaranya praktisi. Mereka punya akademik yang bagus dibarengi praktisi, di bidang pemerintahan, perbankan, industri, semua ada di Nobel,” sebutnya.
Badaruddin menjelaskan, penekanan lainnya yakni membangun pembelajaran yang atraktif. Menurutnya, kelas memang perlu dibuat menjadi nyaman dengan metode belajar yang menarik.
“Kita mulai dari melatih dosen kita membangun yang aktraktif. Kalau tidak mampu membangun kelas aktraktif yang berhadapan dengan generasi Z, mereka akan datang melongo dan tidak dapat apa-apa,” kata dia.
Baca juga:Sambangi Malino, Mahasiswa Modul Nusantara Bagikan Tempat Sampah
Badaruddin menambahkan, seluruh kegiatan yang akan dilakukan oleh ITB Nobel ini tidak bisa sukses tanpa adanya peran media. Sebab, media disebutnya menjadi salah satu wadah yang bisa turut membantu eksistensi mereka.
“Organisasi apapun itu pasti butuh simbiosis dengan media. Apalagi eranya begitu, pasarnya perguruan tinggi itu sekarang di generasi Z. Mereka yang 90 persen di gadgetnya, jadi media-media seperti SINDO tentu menjadi ruang bagi Nobel untuk menyebarluaskan informasi,” tukasnya.
(luq)
Lihat Juga :