Penguatan Toleransi dan Moderasi Beragama Jadi Prioritas Cegah Intoleransi
Sabtu, 08 Januari 2022 - 04:15 WIB
loading...
Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo menjelaskan pentingnya penguatan toleransi dan moderasi beragama. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Penguatan toleransi dan moderasi beragama bagi masyarakat menjadi prioritas digalakkan pada 2022 ini agar tidak terjadi lagi praktek intoleransi. Caranya dengan membuka musyawarah mufakat, mencari titik temu dalam pemahaman agama secara utuh kepada masyarakat demi mewujudkan perdamaian antar umat beragama.
"Ini membantu seseorang untuk mencintai, menghargai dan menerima perbedaan itu sebagai rahmat. Juga memberikan pemahaman bahwa perbedaan keyakinan tidak membuat jarak, namun justru mempersatukan untuk saling menghargai meskipun berbeda," kata tokoh rohaniawan Katolik, Pastor Antonius Benny Susetyo, Sabtu (8/1/2021).
Baca juga: BPIP: Nahdlatul Ulama Penting Dalam Pengarusutamaan Pancasila
Menurutnya, persoalan intoleransi kerap terjadi dalam lingkungan masyarakat majemuk dan dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman beragama seseorang. Terutama tidak memaknai agama secara utuh.
"Intoleransi persoalan agama dari masing-masing individu yang memahami agama tidak secara utuh, tetapi harus dilihat bahwa ini adalah fakta yang terjadi di berbagai tempat diseluruh belahan dunia," jelas pria yang akrab disapa Romo Benny ini.
Dia prihatin adanya praktik-praktik intoleransi yang salah satunya adalah perenggutan hak untuk beribadah. Karena itu, diharapkan pada tahun ini bisa menjadi awal baru, di mana nilai toleransi sebagai nilai kemanusiaan yang universal dapat tergugah.
"Saya berharap, di tahun 2022 ini toleransi dapat menjadi hal yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak dan bernalar. Sehingga kita dapat beragama sesuai jaminan konstitusi di mana semua orang berhak menjalankan agama, dan saya berharap pelarangan (beribadah) itu tidak terjadi lagi," tandasnya.
Baca juga: Membaca Keberagaman dari Masjid Agung Solo
"Ini membantu seseorang untuk mencintai, menghargai dan menerima perbedaan itu sebagai rahmat. Juga memberikan pemahaman bahwa perbedaan keyakinan tidak membuat jarak, namun justru mempersatukan untuk saling menghargai meskipun berbeda," kata tokoh rohaniawan Katolik, Pastor Antonius Benny Susetyo, Sabtu (8/1/2021).
Baca juga: BPIP: Nahdlatul Ulama Penting Dalam Pengarusutamaan Pancasila
Menurutnya, persoalan intoleransi kerap terjadi dalam lingkungan masyarakat majemuk dan dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman beragama seseorang. Terutama tidak memaknai agama secara utuh.
"Intoleransi persoalan agama dari masing-masing individu yang memahami agama tidak secara utuh, tetapi harus dilihat bahwa ini adalah fakta yang terjadi di berbagai tempat diseluruh belahan dunia," jelas pria yang akrab disapa Romo Benny ini.
Dia prihatin adanya praktik-praktik intoleransi yang salah satunya adalah perenggutan hak untuk beribadah. Karena itu, diharapkan pada tahun ini bisa menjadi awal baru, di mana nilai toleransi sebagai nilai kemanusiaan yang universal dapat tergugah.
"Saya berharap, di tahun 2022 ini toleransi dapat menjadi hal yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak dan bernalar. Sehingga kita dapat beragama sesuai jaminan konstitusi di mana semua orang berhak menjalankan agama, dan saya berharap pelarangan (beribadah) itu tidak terjadi lagi," tandasnya.
Baca juga: Membaca Keberagaman dari Masjid Agung Solo
Lihat Juga :