Dikecam Warga, Gubernur Viktor Laiskodat Dibela Advokat Ini
Sabtu, 04 Desember 2021 - 23:32 WIB
loading...
Advokat Serfasius Serbaya Manek, SE, SH, MH angkat bicara terkait kecaman masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Foto ist
A
A
A
JAKARTA - Advokat Serfasius Serbaya Manek, SE, SH, MH angkat bicara terkait kecaman masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat. Serfasius menilai, publik NTT memberikan kecaman yang tidak adil terhadap Gubernur Viktor.
"Publik tidak melihat keutuhan informasi. Pertanyaannya, apakah benar informasi yang tersebar itu adalah utuh?. Kalau utuh faktor penyebabnya apa sehingga ada keadilan untuk semua pihak," ujar Serfasius di Jakarta, Sabtu (4/12/2021). Baca juga: Profile Singkat Razman Nasution, Mulai dari Wartawan hingga Menjadi Kuasa Hukum PP
Sebagaimana diketahui, perdebatan antara Gubernur Viktor dan masyarakat adat Sumba Timur viral di media sosial. Perdebatan terkait pembebasan lahan di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, NTT yang berujung ucapan 'monyet' oleh gubernur menuai kecaman keras warga.
Bahkan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Pemuda Nusa Tenggara Timur menggelar demonstrasi di Depan Gedung Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada Jumat (3/12/2021). Para mahasiswa tersebut mengecam keras tindakan rasisme yang dilontarkan Gubernur Viktor terhadap masyarakat adat Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur.
Serfasius mengatakan, Gubernur Viktor dalam pertemuan tersebut adalah pelayan publik yang melakukan kunjungan kerja. "Tentu dia datang bukan untuk memarahi rakyatnya tetapi untuk melayani masyarakatnya. Sehingga tidak adil kalau publik mengatakan gubernur buruk di dalam komunikasi publik, itu tidak adil," tegasnya. Baca juga: Percepat Digitalisasi di NTT, Pemerintah Menggelar Program Kupang Makin Cakap Digital
Serfasius menambahkan, karakteristik orang NTT sebenarnya ekstrover. Artinya selalu mengatakan sesuatu secara terbuka sehingga perdebatan dengan gubernur tersebut hanya insiden kecil dalam berkomunikasi."Itu sifatnya situasional dan kondisional, bukan sesuatu yang didesain. Karena itu masyarakat tidak boleh terkotak-kotak atas peristiwa itu. Harus melihat seutuhnya," katanya.
"Publik tidak melihat keutuhan informasi. Pertanyaannya, apakah benar informasi yang tersebar itu adalah utuh?. Kalau utuh faktor penyebabnya apa sehingga ada keadilan untuk semua pihak," ujar Serfasius di Jakarta, Sabtu (4/12/2021). Baca juga: Profile Singkat Razman Nasution, Mulai dari Wartawan hingga Menjadi Kuasa Hukum PP
Sebagaimana diketahui, perdebatan antara Gubernur Viktor dan masyarakat adat Sumba Timur viral di media sosial. Perdebatan terkait pembebasan lahan di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, NTT yang berujung ucapan 'monyet' oleh gubernur menuai kecaman keras warga.
Bahkan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Pemuda Nusa Tenggara Timur menggelar demonstrasi di Depan Gedung Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada Jumat (3/12/2021). Para mahasiswa tersebut mengecam keras tindakan rasisme yang dilontarkan Gubernur Viktor terhadap masyarakat adat Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur.
Serfasius mengatakan, Gubernur Viktor dalam pertemuan tersebut adalah pelayan publik yang melakukan kunjungan kerja. "Tentu dia datang bukan untuk memarahi rakyatnya tetapi untuk melayani masyarakatnya. Sehingga tidak adil kalau publik mengatakan gubernur buruk di dalam komunikasi publik, itu tidak adil," tegasnya. Baca juga: Percepat Digitalisasi di NTT, Pemerintah Menggelar Program Kupang Makin Cakap Digital
Serfasius menambahkan, karakteristik orang NTT sebenarnya ekstrover. Artinya selalu mengatakan sesuatu secara terbuka sehingga perdebatan dengan gubernur tersebut hanya insiden kecil dalam berkomunikasi."Itu sifatnya situasional dan kondisional, bukan sesuatu yang didesain. Karena itu masyarakat tidak boleh terkotak-kotak atas peristiwa itu. Harus melihat seutuhnya," katanya.
Lihat Juga :