Makin Diminati, Limbah Kopi Petani Garut Diolah Jadi Produk Kaya Nutrisi
Sabtu, 04 Desember 2021 - 14:17 WIB
loading...
Program budidaya kopi di Kamojang Garut makin diminati setelah mampu mengolah limbah jadi produk kaya nutrisi. Foto/Ist
A
A
A
GARUT - Industri kopi di Indonesia semakin berkembang seiring diminati oleh semua kalangan masyarakat. Budidaya kopi harus didukung secara masif guna mengembangkan potensi tersebut.
Salah satu petani kopi dari Kamojang, Garut, Jawa Barat, Darmin menceritakan hasil budidaya kopinya hingga membuka lapangan pekerjaan di dekat tinggalnya itu. Apalagi sedikitnya ada 21,65 persen masyarakat usia produktif tidak memiliki pekerjaan tetap dan 3,671 hanya lulusan sekolah dasar.
Baca juga: Teken Kontrak Rp1,1 Triliun, Spanyol Borong Kopi, Manggis hingga Jeruk Purut Indonesia
Sebanyak 587 masyarakat merupakan keluarga miskin dan di sana pula ada 9 ton per tahun limbah kopi yang belum dimanfaatkan.
Menurut Darmi, program budidaya kopi bernama Kopi Wanakan dan Pelag yang melibatkan kelompok tani Gunung Kamojang ini cukup efektif. Sebab, sudah menghasilkan sederet manfaat bagi masyarakat sekitar dan lingkungan.
Manfaat untuk lingkungan misalnya dengan pengurangan pencemaran tanah sebesar 321 kg PO 4-3, menekan pencemaran air 1.140 kg SO 2eq, dan penyerapan CO2 Ton CO 2eq.
Sementara itu, manfaat sosial dengan memberikan akses kepada kelompok tani yang berjumlah 271 orang untuk terlibat budidaya kopi dari hulu sampai hilir.
"Untuk segi ekonomi, budidaya itu menghasilkan peningkatan nilai jual kopi dari Rp5.000 per kilo menjadi Rp120.000 per kilo. Pendapatan pelaku budidaya kopi juga meningkat 67 persen dan pengentasan kemiskinan 65 persen," kata Darmin, Sabtu (4/12/2021).
Salah satu petani kopi dari Kamojang, Garut, Jawa Barat, Darmin menceritakan hasil budidaya kopinya hingga membuka lapangan pekerjaan di dekat tinggalnya itu. Apalagi sedikitnya ada 21,65 persen masyarakat usia produktif tidak memiliki pekerjaan tetap dan 3,671 hanya lulusan sekolah dasar.
Baca juga: Teken Kontrak Rp1,1 Triliun, Spanyol Borong Kopi, Manggis hingga Jeruk Purut Indonesia
Sebanyak 587 masyarakat merupakan keluarga miskin dan di sana pula ada 9 ton per tahun limbah kopi yang belum dimanfaatkan.
Menurut Darmi, program budidaya kopi bernama Kopi Wanakan dan Pelag yang melibatkan kelompok tani Gunung Kamojang ini cukup efektif. Sebab, sudah menghasilkan sederet manfaat bagi masyarakat sekitar dan lingkungan.
Manfaat untuk lingkungan misalnya dengan pengurangan pencemaran tanah sebesar 321 kg PO 4-3, menekan pencemaran air 1.140 kg SO 2eq, dan penyerapan CO2 Ton CO 2eq.
Sementara itu, manfaat sosial dengan memberikan akses kepada kelompok tani yang berjumlah 271 orang untuk terlibat budidaya kopi dari hulu sampai hilir.
"Untuk segi ekonomi, budidaya itu menghasilkan peningkatan nilai jual kopi dari Rp5.000 per kilo menjadi Rp120.000 per kilo. Pendapatan pelaku budidaya kopi juga meningkat 67 persen dan pengentasan kemiskinan 65 persen," kata Darmin, Sabtu (4/12/2021).
Lihat Juga :