Mengintip Pesona Nara Kupu Village, Surga Buku dan Penghasil Sayuran Organik

Rabu, 10 November 2021 - 06:27 WIB
loading...
A A A
Sosok Dewi Sri seakan mengingatkan kembali bahwa Indonesia adalah negara agrarisyang telah ditinggalkan para petani mudanya, seraya mencari kerja ke sentra-sentra industri di kota. Kepada para pengunjung yang berasal dari kota-kota Jakarta, Bogor bahkan Bandung,Nara Kupu Village memang menyodorkan sebuah narasi pertanian: kisah perjalanan panjang sebelum sayur-mayur dari tanah pertanian yang subur itu dihidangkan di ruang makan keluarga. Suatu ide sederhana, namun amat penting disimak anak-anak kota yang selama ini terasingkan dari kehidupan agraris. Baca juga: Bantu Petani Hidroponik, Tim ITS Rancang Alat Berbasis Energi Surya

Nara Kupu Village adalah secret gem yang bisa “bercerita” banyak. Tiap-tiap pagi Ismail, 19 tahun, pemuda asal Cianjur, Jawa Barat, mengontrolderetan sayur selada, kale, bayam dan caisim muda yang tertata rapi pada pipa-pipa paralon yang berlubang. Di lahan hidroponik ini, bibit-bibit tanaman itu disemai pada rockwool, spons mungil berukuran 2 x 2 cm yang berfungsi menggantikan tanah, dialiri air yang mengandung nutrisi tanaman AB Mixed, sebelum akhirnya bisa dipanen lima minggu kemudian.

Khusus untuk menghalau kutu, Ismail secara reguler menyemprotkan air yang mengandung brontowali dan tembakau pada daun-daun muda mereka. Ya, di lahan hidroponik yang tak banyak menyita ruang itu, bibit-bibit sayuran tumbuh menjadi tanaman “bayi”, menjadi “remaja,” lalu sayur yang siap dipanen dan dikemas, untuk dikirim ke Kedai Sayur Kendal, Jakarta.

Letak lahan kebun tanaman organic yang juga merupakan wilayah tanggung jawab Ismail-- berdampingan dengan kebun hidrofonik. Di kebun organik, kita menjumpai variasi tanaman yang relatif sama dengan kebun organik. Perbedaannya: untuk mengusir hama, Ismail selalu menggunakan pestisida nabati, yaitu cairan yang mengandung daun pepaya, patrawali dan bawang putih.

Sekitar 60 persen dari tiga hektar tanah Nara Kupu Village merupakan lahan pertanian hijau yang secara serius dikelola beberapa pemuda daerah seusia Ismail.

Ada Falah, misalnya, yang senantiasa sibuk mengurusi tanah yang ditanami kacang panjang, sereh dan jahe. Ada juga Yudi yang secara khusus mengelola “kebun digital” yang menggunakan tangan teknologi digital untuk menyiram dan mengawasi kebunnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Destinasi Ramah...
Ini Destinasi Ramah Anak untuk Mengisi Liburan Sekolah di Jakarta
Bukan Sekadar Tempat...
Bukan Sekadar Tempat Liburan, Tanjung Lesung Punya Potensi Jadi Sanctuary
47 Sekolah Swasta Gratis...
47 Sekolah Swasta Gratis di Depok 2026, dari Pancoran Mas, Beji, hingga Cinere
Rekomendasi
Airlangga Jadikan Catatan...
Airlangga Jadikan Catatan MSCI Sebagai Amunisi Tuntaskan Reformasi Pasar Modal
Universitas Brawijaya...
Universitas Brawijaya Tembus Peringkat 616 Dunia di QS WUR 2027
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri, Langsung Teriak: Siap!
Berita Terkini
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Turnamen Padel di Grand...
Turnamen Padel di Grand Opening Orozon, 80 Tim Perebutkan Hadiah Lebih dari Rp60 Juta
Ditpolairud Polda Metro...
Ditpolairud Polda Metro Jaya Salurkan Kursi Roda bagi Warga Pesisir Cilincing
Dasco Terima Audiensi...
Dasco Terima Audiensi Massa Mahasiswa di Gedung DPR
Gelar Unjuk Rasa di...
Gelar Unjuk Rasa di Monas, Ini Pernyataan Sikap BEM Persatuan Indonesia
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved