Telkom Laba Rp18 Triliun, Pengamat: Bisnis Telekomunikasi Memang Moncer
Kamis, 04 Juni 2020 - 16:27 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, kemampuan PT Telkom meningkatkan pertumbuhan laba pada satu sisi, juga diikuti kinerja yang semakin baik dalam menekan biaya operasional. Prinsipnya, secara korporasi, potensi ekonomi di bisnis telekomunikasi mampu dikelola dan dimanfaatkan TLKM secara optimal, sehingga menjadi pendorong utama pendapatan dan laba perusahaan.
"Itu poin penting yang menjadi value utama bisnis Telkom. Saya juga menilai, dalam banyak hal, kondisi kinerja Telkom merefleksikan kondisi industri telekomunikasi secara nasional," sambung Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan itu.
(Baca: Penggunaan Internet Tinggi, Trafik Telkom Melonjak 25%)
Hal senada disampaikan Luqman El Hakiem, founder aplikasi analisa saham TetraXchange sekaligus founder komunitas saham Teman Trader. Menurutnya, kinerja TLKM relatif baik dibandingkan emiten sejenis sekalipun sedang masa pandemi sekarang.
"Saat pandemi, saham TLKM sempat sentuh harga terendah Rp2.450, level ini terakhir dialami pada Minggu ke-2 Februari 2015. Walaupun terkoreksi tajam, tapi akhir pekan ini (akhir Mei 2020) sudah pulih ditutup di harga Rp3.150," pungkasnya.
Investasi TLKM ke anak perusahaan juga harus dipastikan terkendali dan tidak menggerogoti induk. Melalui cara ini, sambung Luqman, maka pertumbuhan EPS (Earning per Share) bisa lebih baik dari laporan keuangan 2019 sebesar 3,2%.
"Itu poin penting yang menjadi value utama bisnis Telkom. Saya juga menilai, dalam banyak hal, kondisi kinerja Telkom merefleksikan kondisi industri telekomunikasi secara nasional," sambung Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan itu.
(Baca: Penggunaan Internet Tinggi, Trafik Telkom Melonjak 25%)
Hal senada disampaikan Luqman El Hakiem, founder aplikasi analisa saham TetraXchange sekaligus founder komunitas saham Teman Trader. Menurutnya, kinerja TLKM relatif baik dibandingkan emiten sejenis sekalipun sedang masa pandemi sekarang.
"Saat pandemi, saham TLKM sempat sentuh harga terendah Rp2.450, level ini terakhir dialami pada Minggu ke-2 Februari 2015. Walaupun terkoreksi tajam, tapi akhir pekan ini (akhir Mei 2020) sudah pulih ditutup di harga Rp3.150," pungkasnya.
Investasi TLKM ke anak perusahaan juga harus dipastikan terkendali dan tidak menggerogoti induk. Melalui cara ini, sambung Luqman, maka pertumbuhan EPS (Earning per Share) bisa lebih baik dari laporan keuangan 2019 sebesar 3,2%.
Lihat Juga :