Bioavtur J2.4, Seribu Langkah Kurangi Emisi Langit

Rabu, 27 Oktober 2021 - 23:01 WIB
loading...
A A A
Kemandirian Energi

Pemanfaatan minyak nabati sawit memberi harapan besar bagi masyarakat Indonesia. Banyak warga menggantungkan hidupnya di perkebunan kelapa sawit. Sementara melimpahnya potensi sumber alam Indonesia ini, belum memberi kesejahteraan maksimal akibat fluktuatif harga sawit.

Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 mencatat, luas lahan kelapa sawit Indonesia mencapai 14,6 juta hektare. Dari jumlah itu, sekitar 40,6 persen atau 5,8 juta hektare dikelola rakyat. Sementara 55 persen atau 7,9 juta hektare dikelola perusahaan besar swasta, dan sisanya korporasi pemerintah. Jutaan tenaga kerja menggantungkan hidupnya di sektor perkebunan ini.

Melimpahnya produksi sawit nusantara telah mencatat kapasitas produksi hingga 40,5 juta ton per tahun (2018) dan terus meningkat hingga saat ini. Misalnya produksi sawit pada Januari 2021 tercatat mencapai 3,76 juta ton dengan jenis crude palm oil (CPO) 3,42 juta ton, crude palm kernel oil (CPKO) 334.000 ton, dan lainnya. Dari produksi sawit Indonesia pada Januari 2021, dimanfaatkan untuk konsumsi dalam negeri hanya 1,52 juta ton. 763.000 ton untuk pangan, 178.000 ton untuk oleokimia, dan biodiesel sebanyak 580.000 ton.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, keberhasilan uji terbang bioavtur telah memberi kepercayaan tinggi terhadap kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya domestik, khususnya minyak sawit. "Ini sebagai upaya membangun kemandirian energi nasional. Keberhasilan ini akan berdampak pada pengurangan ketergantungan terhadap impor energi, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Airlangga.

Dengan perkiraan konsumsi avtur harian sekitar 14.000 kiloliter, potensi pasar bioavtur J2.4 diperkirakan akan mencapai Rp1,1 triliun per tahun. Potensi ini akan menjadi prospek besar bagi pengembangan industri sawit nasional.

Komitmen Bersama

Pengamat Energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, pengembangan bioavtur menggunakan bahan minyak nabati kelapa sawit relatif baru. Apalagi jika temuan ini bisa dikembangkan dalam skala komersial. Dari aspek energi, adalah upaya Indonesia menuju ketahanan energi bahan bakar minyak.

"Temuan bioavtur J2.4 ini sangat bagus. Karena kita punya bahan baku minyak sawit cukup banyak. Sehingga kedepan, kita tidak hanya bergantung kepada minyak fosil saja," kata Komaidi.

Menurut dia, dalam konsep pengembangan energi baru terbarukan (EBT) memang mesti diselaraskan dengan potensi lokal. Bioavtur dinilai langkah tepat menuju pemanfaatan potensi sawit Indonesia yang jumlahnya cukup melimpah. Potensi ini menjadi daya ungkit Indonesia dalam konteks ketahanan energi nasional di mata internasional.

Apalagi, saat ini, kata dia, porsi pemanfaatan EBT baru sekitar 14 persen dari total konsumsi BBM di Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari. "Tapi bagaimanapun upaya ini harus kita dukung dan kembangkan. Seribu langkah perjalanan, harus dimulai dari satu langkah perjalanan," katanya.

Walaupun, lanjut dia, nantinya pemerintah akan dihadapkan pada dua pilihan dilematis dalam penggunaan bioavtur ini. Dalam konteks ketahanan energi, temuan ini sangat bagus. Tetapi tidak demikian jika dilihat dari perspektif ekonomi. Sehingga pengembangan bioavtur ini, kata dia, harus lihat lebih utuh lagi.

"Apakah ini hanya dilihat dalam konteks ekonomi murni. Kalau konteksnya ekonomi, bisa jadi ini bukan pilihan untuk dikembangkan. Bisa saja kemudian akan lebih efisien mengolah avtur dari minyak mentah (fosil)," ujar dia.

Tapi jika dilihat dari aspek ketahanan energi dan upaya mengurangi neraca dagang, pengembangan bioavtur berbahan minyak sawit menjadi logis untuk bisa dikembangkan. Oleh karenanya, pemerintah harus melihat konteks ini secara utuh, tergantung pada tujuan pengembangannya.

Bagaimanapun, harga BBM yang dihasilkan dari sumber yang bisa diperbaharui (nabati) akan lebih mahal ketimbang minyak fosil. Begitupun harga bioavtur yang diprediksi bakal lebih mahal dari avtur jet A1. Ini karena energi yang diperbaharui mesti diolah atau dibuat dari nol. Berbeda dengan minyak fosil yang sudah disediakan alam dan tinggal mengolahnya.

Namun begitu, Komaidi menyebut, salah satu solusi untuk mendapatkan skala keekonomian adalah menaikkan komposisi bahan nabati minyak sawit lebih dari 2,4 persen serta memproduksi dalam skala massal. Biasanya, produk yang diproduksi massal akan diraih harga jual jauh lebih murah. "Jadi kalau memang ingin mendapat skala ekonomi, volumenya harus ditambah. Silahkan dihitung pemerintah, kira-kira titik optimalnya di mana," ujar dia.

Kendati begitu, pengembangan minyak sawit menjadi bioavtur, perlu mendapat dorongan regulator dalam rangka memberi kepastian market (pasar). Tanpa ada kepastian market, pengembangan energi ramah lingkungan ini akan sulit berkembang, apalagi jika bersaing dengan sumber energi fosil.

"Market harus ada jaminan, supaya produknya bisa terserap pasar. Misalnya pemerintah menerbitkan aturan bahwa penerbangan domestik harus menggunakan bioavtur, seperti mandatory B30 untuk kendaraan di darat," ujar Komaidi Notonegoro yang juga menjabat Direktur Eksekutif Reforminer Institute.

Pemanfaatan energi ramah lingkungan ini, juga bisa didorong pemerintah melalui pemberian insentif fiskal kepada produsen atau konsumen. Keringanan pajak, akan meringankan beban konsumen, jika harga BBM nabati lebih mahal ketimbang minyak fosil.
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bandung Jewellery Fair...
Bandung Jewellery Fair 2026 Dorong Industri Perhiasan Nasional
Survei Nasional: 83,7...
Survei Nasional: 83,7 Persen Publik Puas Kinerja Pertamina
3 Tahun Jangkau 12 Ribu...
3 Tahun Jangkau 12 Ribu Warga, Dexa Group Perluas Akses Cek Kesehatan Gratis
May Day Anarkis di Bandung,...
May Day Anarkis di Bandung, Massa Bakar Videotron dan Pospol
Siswa SMA di Bandung...
Siswa SMA di Bandung Tewas Dikeroyok, Sahroni: Jangan Normalisasi Pelaku Anak, Hukum Berat!
Bukan Sekadar Penertiban:...
Bukan Sekadar Penertiban: Sisi Lain Satpol PP Bandung yang Hangat Melayani
Pertamina Hulu Rokan...
Pertamina Hulu Rokan Buka Magang Kerja 2026 untuk Lulusan D3-S1, Cek Syaratnya
Harga Pertamax Melejit...
Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit
Pangkas 79 Ton Emisi...
Pangkas 79 Ton Emisi per Tahun, Pertamina Perluas Penggunaan Energi Bersih di Kapal Tanker
Rekomendasi
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai Besok 15 Juni 2026, Usaha Nasional Didata Tanpa Terkecuali
Jerman vs Curacao: Sang...
Jerman vs Curacao: Sang Debutan Jadi Ujian Perdana Die Mannschaft
Berita Terkini
10 Ruas Jalan di Jakarta...
10 Ruas Jalan di Jakarta Ditutup saat Presiden Jerman Melintas Besok Pagi
Megawati Ziarah ke Makam...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, Hasto: Untuk Merawat Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam
Jakarta Fair 2026, Dishub...
Jakarta Fair 2026, Dishub DKI Jakarta Siapkan 6 Kantong Parkir
Dorong Pengembangan...
Dorong Pengembangan Sport Tourism, PPK Kemayoran Gelar Turnamen Padel
Bangun MIN 5 Pidie Jaya...
Bangun MIN 5 Pidie Jaya yang Hanyut Akibat Banjir, Kemenag Alokasikan Rp12 Miliar
Perikhsa Riders Touring...
Perikhsa Riders Touring Perdana Malang-Bali, Bamsoet Tekankan Disiplin dan Persatuan
Infografis
Arab Saudi Bangun Gedung...
Arab Saudi Bangun Gedung Pencakar Langit Tertinggi di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved