Menggelorakan Gerakan Jakarta Sadar Sampah
Senin, 25 Oktober 2021 - 05:42 WIB
loading...
A
A
A
Bela melihat, salah satu bentuk keseriusan Pemprov DKI dalam menangani persoalan sampah, yakni dengan membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada November 2021. Diyakini, FPSA yang dibangun nantinya memberikan dampak besar pada pengelolaan sampah Ibu Kota, yang sejauh ini masih mengandalkan TPST Bantargebang. Terlebih, sistem yang dibuat ramah lingkungan dan menggunakan teknologi modern.
“Yang membanggakan lagi, ternyata teknologi yang digunakan asli karya anak bangsa, dan ini patut didukung. Ke depan tentu dibutuhkan lebih banyak lagi FPSA. Karena volume sampah di Jakarta ini akan terus bertambah seiring meningkatnya mobilitas dan jumlah masyarakat Ibu Kota. Belum lagi tumpukan sampah di Bantargebang yang tingginya sudah mencapai 50 meter, itu juga mesti diberesi. Karena tumpukan sampah bukan hanya mencemari lingkungan, tapi juga membahayakan masyarakat sekitar dan menimbulkan beragam penyakit,” tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan ini.
baca juga: Bangun FPSA Tebet, Sarana Jaya Siapkan Pemantau Emisi
Bela mengungkapkan, sebenarnya banyak lahan di Jakarta yang notabene aset Pemprov DKI, bisa dijadikan tempat untuk pengolahan sampah. Salah satunya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. “Arealnya kan luas itu, ada sekitar 60 hektare. Sangat mungkin jika mau dijadikan kawasan terpadu pengelolaan sampah. Masyarakat sekitar juga bisa diberdayakan dalam hal pengelolaan sampah yang baik. Karena kebetulan juga KSH mempunyai kelompok-kelompok masyarakat binaan di Ciganjur, yang selama ini aktif di program pembibitan buah dan konservasi,” kata Bela.
Khusus mengenai program pemberdayaan dan konservasi, Bela mengaku, tak hanya dilakukan di kawasan Ciganjur. Pihaknya bahkan telah lama merajut program konnservasi kawasan muara sungai Cisadane, dari kerusakan lingkungan. Lokasi persisnya di Desa Tanjung Burung dan Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang. “Kita berdayakan masyarakat di sana menanam mangrove, membangun ekonominya, dan menggali potensi serta kearifan lokal masyarakat setempat, termasuk menangani sampah di muara sungai Cisadane. Akan percuma rajin menanam mangrove tetapi abai terhadap sampah. Kan sampah-sampah di muara sungai mengalirnya ke laut Jakarta juga,” tandasnya.
Teknologi Ramah Lingkungan
Wakil Gubernur DKI, Ahmad Riza Patria (Ariza) juga menyatakan, model pendekatan kolaborasi dalam penanganan sampah di Jakarta adalah sebuah keniscayaan. Jakarta Sadar Sampah merupakan wadah kolaborasi tersebut, untuk tujuan mewujudkan Jakarta lebih bersih dan hijau. “Mulai dari pemerintah, komunitas, bisnis hingga individu, diajak untuk bekerja sama dan turut terlibat melalui tiga aksi, yaitu mengurangi, memilah dan mengolah sampah,” kata Ariza, belum lama ini.
baca juga: Sarana Jaya Bangun Taman FPSA Tebet, Solusi Pengolahan Sampah Ramah Lingkungan
Selain pendekatan kolaborasi, penanganan sampah juga dilakukan dengan pendekatan teknologi. Adalah Perumda Pembangunan Sarana Jaya, salah satu pihak yang ditugaskan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk membangun dua Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) atau Intermediete Treatment Facility (ITF). Dalam proyek tersebut, beragam teknologi pengolahan sampah akan diterapkan secara tepat guna dan ramah lingkungan dengan cara perubahan bentuk, komposisi, karakteristik dan volume sampah.
Teknologi yang akan digunakan pada proyek tersebut, salah satunya akan mengacu pada teknologi FPSA Tebet yang menggunakan teknologi Hydrodrive (bahan bakar air) untuk pemusnahan sampah yang tak bisa dimanfaatkan secara organik dan ekonomi; serta pengolahan sampah organik Black Soldier Fly (BSF). Dilengkapi dengan teknologiHybrid Hydrodrive,FPSA Mikro Tebet mampu mengintegrasi teknologi thermal dan non-thermal dalam mengurai sampah.
baca juga: Salip Truk Sampah, Warga Bantargebang Bekasi Tewas Terlindas
Tercatat, bahwa teknologi thermal ini telah digunakan di beberapa negera maju, seperti Jepang, Australia, dan Austria yang penggunaannya terus meningkat dari 12% menjadi 27% sejak 1995 hingga 2019. Efektivitas FPSA Mikro Tebet ini juga terwujud dengan menerapkan pendekatan “di sumber dan habis di sumber” sehingga proses pengolahan sampah berlangsung lebih cepat dan dapat memotong jumlah emisi yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Terbukti, teknologi ini mampu mengurangi residu sampah hingga tersisa 10%.
“Yang membanggakan lagi, ternyata teknologi yang digunakan asli karya anak bangsa, dan ini patut didukung. Ke depan tentu dibutuhkan lebih banyak lagi FPSA. Karena volume sampah di Jakarta ini akan terus bertambah seiring meningkatnya mobilitas dan jumlah masyarakat Ibu Kota. Belum lagi tumpukan sampah di Bantargebang yang tingginya sudah mencapai 50 meter, itu juga mesti diberesi. Karena tumpukan sampah bukan hanya mencemari lingkungan, tapi juga membahayakan masyarakat sekitar dan menimbulkan beragam penyakit,” tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan ini.
baca juga: Bangun FPSA Tebet, Sarana Jaya Siapkan Pemantau Emisi
Bela mengungkapkan, sebenarnya banyak lahan di Jakarta yang notabene aset Pemprov DKI, bisa dijadikan tempat untuk pengolahan sampah. Salah satunya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. “Arealnya kan luas itu, ada sekitar 60 hektare. Sangat mungkin jika mau dijadikan kawasan terpadu pengelolaan sampah. Masyarakat sekitar juga bisa diberdayakan dalam hal pengelolaan sampah yang baik. Karena kebetulan juga KSH mempunyai kelompok-kelompok masyarakat binaan di Ciganjur, yang selama ini aktif di program pembibitan buah dan konservasi,” kata Bela.
Khusus mengenai program pemberdayaan dan konservasi, Bela mengaku, tak hanya dilakukan di kawasan Ciganjur. Pihaknya bahkan telah lama merajut program konnservasi kawasan muara sungai Cisadane, dari kerusakan lingkungan. Lokasi persisnya di Desa Tanjung Burung dan Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang. “Kita berdayakan masyarakat di sana menanam mangrove, membangun ekonominya, dan menggali potensi serta kearifan lokal masyarakat setempat, termasuk menangani sampah di muara sungai Cisadane. Akan percuma rajin menanam mangrove tetapi abai terhadap sampah. Kan sampah-sampah di muara sungai mengalirnya ke laut Jakarta juga,” tandasnya.
Teknologi Ramah Lingkungan
Wakil Gubernur DKI, Ahmad Riza Patria (Ariza) juga menyatakan, model pendekatan kolaborasi dalam penanganan sampah di Jakarta adalah sebuah keniscayaan. Jakarta Sadar Sampah merupakan wadah kolaborasi tersebut, untuk tujuan mewujudkan Jakarta lebih bersih dan hijau. “Mulai dari pemerintah, komunitas, bisnis hingga individu, diajak untuk bekerja sama dan turut terlibat melalui tiga aksi, yaitu mengurangi, memilah dan mengolah sampah,” kata Ariza, belum lama ini.
baca juga: Sarana Jaya Bangun Taman FPSA Tebet, Solusi Pengolahan Sampah Ramah Lingkungan
Selain pendekatan kolaborasi, penanganan sampah juga dilakukan dengan pendekatan teknologi. Adalah Perumda Pembangunan Sarana Jaya, salah satu pihak yang ditugaskan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk membangun dua Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) atau Intermediete Treatment Facility (ITF). Dalam proyek tersebut, beragam teknologi pengolahan sampah akan diterapkan secara tepat guna dan ramah lingkungan dengan cara perubahan bentuk, komposisi, karakteristik dan volume sampah.
Teknologi yang akan digunakan pada proyek tersebut, salah satunya akan mengacu pada teknologi FPSA Tebet yang menggunakan teknologi Hydrodrive (bahan bakar air) untuk pemusnahan sampah yang tak bisa dimanfaatkan secara organik dan ekonomi; serta pengolahan sampah organik Black Soldier Fly (BSF). Dilengkapi dengan teknologiHybrid Hydrodrive,FPSA Mikro Tebet mampu mengintegrasi teknologi thermal dan non-thermal dalam mengurai sampah.
baca juga: Salip Truk Sampah, Warga Bantargebang Bekasi Tewas Terlindas
Tercatat, bahwa teknologi thermal ini telah digunakan di beberapa negera maju, seperti Jepang, Australia, dan Austria yang penggunaannya terus meningkat dari 12% menjadi 27% sejak 1995 hingga 2019. Efektivitas FPSA Mikro Tebet ini juga terwujud dengan menerapkan pendekatan “di sumber dan habis di sumber” sehingga proses pengolahan sampah berlangsung lebih cepat dan dapat memotong jumlah emisi yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Terbukti, teknologi ini mampu mengurangi residu sampah hingga tersisa 10%.
Lihat Juga :