Cegah Banjir, Kenneth: Prioritaskan Early Warning System Curah Hujan, Jangan Manual
Kamis, 21 Oktober 2021 - 15:17 WIB
loading...
A
A
A
”Sekali lagi, terapan teknologi harus diciptakan. Jangan juga hanya mengandalkan sumur resapan saja, sumur resapan itu cocok kalau digunakan untuk menggantikan fungsi wilayah yang tangkapan airnya semakin berkurang. Namun tidak bisa mengatasi permasalahan luapan air sungai," bebernya.
Kata Kent, terdapat tiga aspek yang memengaruhi banjir di DKI Jakarta. Pertama, hujan di hulu yang mengakibatkan banjir kiriman. Kedua,hujan di atas Jakarta (hujan lokal). Ketiga, kondisi air laut pasang naik yang menyebabkan aliran sungai tidak bisa masuk ke laut. Poin pertama dan kedua adalah fenomena meteorologi, sementara poin ketiga merupakan fenomena astronomi.
"Yang berbahaya adalah jika ketiga fenomena tersebut terjadi dalam waktu yang bersamaan, akibatnya banjir besar seperti yang terjadi pada awal tahun 2020 lalu," katanya.
Kent membeberkan, drainase di DKI Jakarta hanya bisa menampung 100-150 mm per hari. Tetapi yang terjadi pada awal Januari 2020 curah hujan yang turun mencapai 377 mm per hari. Drainase tidak mampu menampung air hujan sehingga tumpah ke jalan dan mengakibatkan banjir.
"Kalau kita siap secara teknologi, kita akan mampu menghitung berapa curah hujan yang akan turun per harinya dan bisa disandingkan dengan kesiapan volume drainase kita. Kita mau menanggulangi banjir ini tidak cukup hanya dalam konsep pembangunan infrastruktur saja, data itu penting. Jadi saat kita berbicara tidak terkesan asbun (asal bunyi)," ketus Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) PPRA Angkatan LXII itu.
Kent mengkritisi statemen Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakilnya Ahmad Riza Patria yang menyebut DKI telah mempersiapkan lokasi pengungsian untuk penanganan banjir. Ia menilai hal ini terkesan pasrah. ”Apa tidak ada strategi lain untuk menekan dampak banjir selain hanya menyiapkan tempat pengungsian saja. Kalau berbicara seperti itu, berarti sama saja mengangkat bendera putih dong," katanya.
Kata Kent, terdapat tiga aspek yang memengaruhi banjir di DKI Jakarta. Pertama, hujan di hulu yang mengakibatkan banjir kiriman. Kedua,hujan di atas Jakarta (hujan lokal). Ketiga, kondisi air laut pasang naik yang menyebabkan aliran sungai tidak bisa masuk ke laut. Poin pertama dan kedua adalah fenomena meteorologi, sementara poin ketiga merupakan fenomena astronomi.
"Yang berbahaya adalah jika ketiga fenomena tersebut terjadi dalam waktu yang bersamaan, akibatnya banjir besar seperti yang terjadi pada awal tahun 2020 lalu," katanya.
Kent membeberkan, drainase di DKI Jakarta hanya bisa menampung 100-150 mm per hari. Tetapi yang terjadi pada awal Januari 2020 curah hujan yang turun mencapai 377 mm per hari. Drainase tidak mampu menampung air hujan sehingga tumpah ke jalan dan mengakibatkan banjir.
"Kalau kita siap secara teknologi, kita akan mampu menghitung berapa curah hujan yang akan turun per harinya dan bisa disandingkan dengan kesiapan volume drainase kita. Kita mau menanggulangi banjir ini tidak cukup hanya dalam konsep pembangunan infrastruktur saja, data itu penting. Jadi saat kita berbicara tidak terkesan asbun (asal bunyi)," ketus Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) PPRA Angkatan LXII itu.
Kent mengkritisi statemen Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakilnya Ahmad Riza Patria yang menyebut DKI telah mempersiapkan lokasi pengungsian untuk penanganan banjir. Ia menilai hal ini terkesan pasrah. ”Apa tidak ada strategi lain untuk menekan dampak banjir selain hanya menyiapkan tempat pengungsian saja. Kalau berbicara seperti itu, berarti sama saja mengangkat bendera putih dong," katanya.
Lihat Juga :