Kesetiaan 2 Istri Ronggolawe, Rela Tusuk Diri dengan Keris di Depan Jasad Sang Suami

Rabu, 13 Oktober 2021 - 13:25 WIB
loading...
Kesetiaan 2 Istri Ronggolawe,...
Dua orang istri Adipati Tuban Ronggalawe bersikukuh menempuh jalan Sati begitu tahu suaminya gugur dalam pertempuran dengan Kebo Anabrang di Sungai Tambak Beras. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
TUBAN - Dua orang istri Adipati Tuban Ronggalawe bersikukuh menempuh jalan Sati begitu tahu suaminya gugur dalam pertempuran di Sungai Tambak Beras. Sati adalah tradisi bela pati untuk orang terkasih. Ritual kematian dengan cara membakar diri atau menusukkan keris pada tubuh sendiri.

Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga yang dirundung duka teramat sangat, menginginkan Sati. Bagi keduanya, bela pati sebagai bukti cinta sekaligus kesetiaan istri kepada suami. Begitu siuman dari pingsannya, keduanya langsung mengungkapkan niatnya.

Dalam Serat Ranggalawe karya R Ranggawirawangsa, keinginan bela pati disampaikan kedua istri Ronggalawe di saat seluruh isi Kadipaten Tuban menangis. "Kedua putri itu segera memastikan diri untuk ikut bela pati seiring dengan ajalnya sang suami," tulis R Ranggawirawangsa.

Baca juga: Pemberontakan Ronggolawe, Duel Maut Dua Ksatria Majapahit di Sungai Tambak Beras

Kabar kematian Ronggalawe dalam pertempuran melawan pasukan Majapahit di aliran Sungai Tambak Beras, membuat semua berduka. Di Kabupaten Tuban. Arya Wiraraja atau Arya Adikara atau Banyak Wide, ayah Ronggalawe sontak terdiam sekaligus tertunduk lesu.

Yang ia ingat, Ronggalawe adalah satu-satunya putra, yang di pundaknya ia menaruh harapan tinggi. Cita-cita dan kebesaran. Adipati Ronggalawe layak menerima pengharapan itu. Sosok, kepandaian, keberanian sekaligus jiwa ksatria Raden Soreng (nama kecil Ronggalawe) disegani lawan maupun kawan.

Teringat jasa besar Ronggalawe yang ikut mendirikan Kerajaan Majapahit. Bersama Lembu Sora, dan Nambi serta para loyalis Raden Wijaya lain, Lawe bertempur habis-habisan mengusir ratusan ribu prajurit Khubilai Khan. Ronggalawe bersama Raden Wijaya juga berperang melawan pasukan Kediri.

Baca juga: Paregreg Perang Saudara yang Picu Hancurnya Majapahit

Di saat Raden Wijaya masih dikejar-kejar pengikut Jayakatwang, Adipati Sumenep Banyak Wide juga yang menjadi pelindungnya. Di Kadipaten Sumenep Madura, menantu Raja Kertanegara itu bersembunyi.

Atas saran Banyak Wide juga, Raden Wijaya memperoleh hutan Tarik yang kelak berdiri Kerajaan Majapahit.

Banyak Wide hanya bisa tertegun dan merenung. Ronggalawe, putranya telah gugur secara tragis. Mati dengan cap sebagai pemberontak karena melawan Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang ia pernah ikut mendirikannya.

Pada hari kelima peperangan antara prajurit Tuban dengan Majapahit, Ronggalawe bertemu Mantri Jaladi Kebo Anabrang.

Duel tak terelakkan. Di aliran sungai Tambak Beras, Jombang. Ronggalawe yang berani melawan Majapahit karena menolak pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih tidak berkutik.

Pitingan tubuh Kebo Anabrang yang sekaligus membenamkan kepala Ronggalawe ke dalam air, membuat Adipati Tuban itu meregang nyawa.

Lembu Sora yang merupakan paman Ranggalawe, tidak tega menyaksikan proses kematian keponakannya. Sora sontak meradang, begitu melihat Kebo Anabrang masih juga mencaci Ranggalawe yang sudah menjadi mayat.

Dengan sebilah keris, Patih Kediri itu menikam Kebo Anabrang hingga tewas.

Sementara usai menyatakan tekad berbela pati menyusul suami (Ranggalawe), Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga, langsung meminta restu Ki Ageng Palandhongan, ayahnya. Kaki Ki Ageng Palandhongan dan istri, dicium sekaligus memohon pamit.

Melihat suasana duka yang berlarut-larut itu, Arya Adikara atau Banyak Wide, mencoba mencairkan suasana. "Marilah kita sabar dan tawakal, menerima apa adanya. Rupanya semua ini sudah takdir belaka. Tentu baginda raja tak akan melupakan jasa-jasa dan darmabakti si Lawe," kata Banyak Wide seperti dikisahkan Serat Ranggalawe.

Keesokan harinya. Diiringi upacara, rombongan dari Kadipaten Tuban berangkat menuju Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Palandhongan dan Arya Adikara mengiringi kedua istri Ronggalawe yang ingin bertemu jenazah suaminya yang berada di Istana Majapahit.

Kuda Anyampiani, putra Ronggalawe yang masih berusia anak-anak, turut serta. Setiba di Majapahit, rombongan disambut langsung Raja Wijaya.

Di depan Banyak Wide, dengan wajah muram, Raja Wijaya menyatakan rasa duka yang mendalam. Meski akhirnya harus berperang, baginya Ronggalawe sudah seperti saudara.

"Agaknya sudah menjadi nasibku pula, memiliki saudara terkasih harus putus dan kehilangan sampai di sini," kata Raja Wijaya kepada Banyak Wide. Jenazah Ronggalawe disemayamkan di tengah balairung yang luas. Selembar kain hijau menutupinya. Raja Wijaya mempersilahkan kedua istri Ronggalawe melihat jenazah suaminya.

Dengan hati remuk redam Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga menciumi jasad Ronggalawe. Sebentar terdengar sedu sedan serta ratapan pilu. Begitu selesai berbela sungkawa dengan suara tersendat-sendat, kedua istri Ranggalawe melanjutkan rencana bela patinya. Masing-masing menghunus keris.

Dengan gerak cepat, Nyi Tirtawati dan Nyi Mertaraga menusukkan keris ke dada masing -masing. Seketika itu ambruk. Jasad kedua perempuan setia itu tergeletak di bawah kaki jasad Ronggalawe, suaminya. Melalui sebuah upacara, Kerajaan Majapahit menyucikan jenazah Ronggalawe beserta kedua istrinya.

Ketiga jenazah dibakar di sebuah pancaka, yang kemudian abunya dilarung ke samudera. "Semua telah menjalani takdirnya masing-masing. Rasanya dinda Ranggalawe tidaklah mati. Dia hanya pergi tanpa pamit padaku lebih dulu," kata Raja Wijaya seperti terkisah dalam Serat Ranggalawe.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Pilu Mpu Prapanca,...
Kisah Pilu Mpu Prapanca, Difitnah Kaum Bangsawan dan Diusir dari Istana Majapahit
Kasus Suami Tabrak Penjambret...
Kasus Suami Tabrak Penjambret di Sleman hingga Tewas Diselesaikan lewat Restorative Justice
Sang Suami Dijadikan...
Sang Suami Dijadikan Tersangka Kasus Penjambret Tewas di Sleman, Istri Minta Keadilan
Kisah Moksa Mahapatih...
Kisah Moksa Mahapatih Gajah Mada di Air Terjun Madakaripura
Harmonisasi Majapahit...
Harmonisasi Majapahit dan Campa Mulai dari Pernikahan Politik hingga Pemberian Suaka ke Raja
Kisah Raja Tribhuwana...
Kisah Raja Tribhuwana Tunggadewi Mempercayakan Perempuan Memimpin di Majapahit
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka: Dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
10 Contoh Puisi Hari...
10 Contoh Puisi Hari Ibu yang Menyentuh Hati, Cocok Dibagikan Anak dan Suami
Rekomendasi
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Jokowi Mulai Safari...
Jokowi Mulai Safari Politik, Feri Amsari: Sah, Cuma Nggak Tahu Diri Saja
5 Calon Manajer KDMP...
5 Calon Manajer KDMP Meninggal, DPR: Hentikan Sementara Latsarmil
Berita Terkini
Rembug Tani Jabar di...
Rembug Tani Jabar di Tasikmalaya, Apkarindo Perkuat Sinergi Demi Masa Depan Karet Rakyat
Mahasiswa Gelar Solidarity...
Mahasiswa Gelar Solidarity Campaign di Area CFD Sudirman-MH Thamrin, Buka Percakapan dengan Rakyat
Cegah Stunting lewat...
Cegah Stunting lewat Program Genting, Menteri Wihaji Salurkan Bantuan RTLH di Sleman
Jelang Hari Bhayangkara...
Jelang Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Riau Tuntaskan 110 Jembatan Merah Putih Presisi
Deteksi Bibit Siklon...
Deteksi Bibit Siklon Tropis 96W, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Tinggi
Dukung Generasi Alpha...
Dukung Generasi Alpha dan Beta, S-26 Gelar Event di Surabaya dan Jakarta
Infografis
Profil Sarifah Suraidah...
Profil Sarifah Suraidah Istri Gubernur Kaltim yang Viral di Tengah Polemik Pengadaan Mobdin Rp8,5 Miliar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved