Stasiun Manggarai, Saksi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan dan Kemajuan Transportasi Indonesia
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 05:29 WIB
loading...
A
A
A
Ada keunikan pada Stasiun Manggarai yang sekarang jadi bangunan cagar budaya, yaitu kanopi kayu di peron lama. Dulu kanopi tersebut pernah ada kembarannya yaitu di Stasiun Kroya karena pembangunan Stasiun Manggarai dan renovasi Stasiun Kroya dilakukan pada periode yang sama.
Sejatinya desain asli kanopi kedua stasiun itu berupa kanopi baja cor yang diimpor langsung dari Eropa. Tetapi karena material baja kanopi tidak tersedia di pabriknya akibat Perang Dunia I (1914-1918), pesanan dibatalkan. Kini kanopi peron hasil desain ‘dadakan’ itu masih berdiri dan terawat baik di tengah modernisasi Stasiun Manggarai.
Dalam penataan ulang rel kereta api di Batavia 1913-1921,dekat Stasiun Manggarai juga dibangun Balai Yasa untuk merawat, merehabilitasi, merakit kereta, gerbong dan lokomotif uap. Pembangunan fisik Balai Yasa dimulai pada 1915 dan mulai beroperasi 1920. Menempati sebidang tanah di sebelah barat daya stasiun seluas 13,9 hek tare lebih.
Balai Yasa Manggarai mampu membuat sendiri berbagai jenis onderdil kereta api, menguji kereta, gerbong dan lokomotif yang baru datang dari Eropa. Pada era elektrifikasi kereta api, ketika Kereta Rel Listrik (KRL) Tanjung Priok–Jatinegara diresmikan pada 6 April 1925, Balai Yasa ini juga menanggani perbaikan kereta dan lokomotif listrik yang rusak.
![Stasiun Manggarai, Saksi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan dan Kemajuan Transportasi Indonesia]()
Kekinian, Stasiun Manggarai menjadi saksi kemajuan sistem transportasi kereta api. Pada 25 September 2021, Stasiun Manggarai mengoperasikan jalur layang (elevated track) untuk KRL Bogor Line. Pada lantai 2 bangunan baru, jalur 10, 11, 12, dan 13, difungsikan untuk melayani naik/turun pengguna KRL relasi Bogor/Depok-Jakarta Kota PP.
Stasiun Manggarai juga menjadi saksi sejumlah peristiwa bersejarah, sejak masa penjajahan hingga perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Nama wilayah Manggarai di Batavia mulai dikenal 400 tahun lalu, tatkala Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mulai mendatangkan orang-orang dari daerah taklukan VOC untuk dijadikan budak.
Walau terletak 10 kilometer dari Tembok Batavia (Kota Tua Jakarta), tempat tersebut terus berkembang menjadi Kampung Manggarai. Semakin berkembang ketika transportasi kereta api dikembangkan pemerintah Hindia Belanda dan berdirinya Stasiun Manggarai pada 1918. (Baca juga; 26 Hari di Batavia, Jejak Terakhir Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa )
Sejatinya desain asli kanopi kedua stasiun itu berupa kanopi baja cor yang diimpor langsung dari Eropa. Tetapi karena material baja kanopi tidak tersedia di pabriknya akibat Perang Dunia I (1914-1918), pesanan dibatalkan. Kini kanopi peron hasil desain ‘dadakan’ itu masih berdiri dan terawat baik di tengah modernisasi Stasiun Manggarai.
Dalam penataan ulang rel kereta api di Batavia 1913-1921,dekat Stasiun Manggarai juga dibangun Balai Yasa untuk merawat, merehabilitasi, merakit kereta, gerbong dan lokomotif uap. Pembangunan fisik Balai Yasa dimulai pada 1915 dan mulai beroperasi 1920. Menempati sebidang tanah di sebelah barat daya stasiun seluas 13,9 hek tare lebih.
Balai Yasa Manggarai mampu membuat sendiri berbagai jenis onderdil kereta api, menguji kereta, gerbong dan lokomotif yang baru datang dari Eropa. Pada era elektrifikasi kereta api, ketika Kereta Rel Listrik (KRL) Tanjung Priok–Jatinegara diresmikan pada 6 April 1925, Balai Yasa ini juga menanggani perbaikan kereta dan lokomotif listrik yang rusak.

Kekinian, Stasiun Manggarai menjadi saksi kemajuan sistem transportasi kereta api. Pada 25 September 2021, Stasiun Manggarai mengoperasikan jalur layang (elevated track) untuk KRL Bogor Line. Pada lantai 2 bangunan baru, jalur 10, 11, 12, dan 13, difungsikan untuk melayani naik/turun pengguna KRL relasi Bogor/Depok-Jakarta Kota PP.
Stasiun Manggarai juga menjadi saksi sejumlah peristiwa bersejarah, sejak masa penjajahan hingga perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Nama wilayah Manggarai di Batavia mulai dikenal 400 tahun lalu, tatkala Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mulai mendatangkan orang-orang dari daerah taklukan VOC untuk dijadikan budak.
Walau terletak 10 kilometer dari Tembok Batavia (Kota Tua Jakarta), tempat tersebut terus berkembang menjadi Kampung Manggarai. Semakin berkembang ketika transportasi kereta api dikembangkan pemerintah Hindia Belanda dan berdirinya Stasiun Manggarai pada 1918. (Baca juga; 26 Hari di Batavia, Jejak Terakhir Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa )
Lihat Juga :