Mengenal Margonda, Pahlawan asal Bogor yang Diabadikan sebagai Nama Jalan di Depok
Sabtu, 25 September 2021 - 07:32 WIB
loading...
Margonda salah satu pahlawan asal Bogor yang diabadikan sebagai nama jalan di Kota Depok.Foto/Istimewa/sejarahbogor.com
A
A
A
JAKARTA - Margonda bila mendengar nama ini pastinya yang ada dibenak masyarakat adalah nama salah satu jalan di Kota Depok , yakni Jalan Margonda. Tapi tahukah Anda siapa sosok Margonda, sehingga namanya diabadikan sebagai nama jalan.
Dilansir dari laman sejarahbogor.com, Margonda adalah salah satu pejuang revolusi yang gugur demi membela bangsa dan negara. Sosok Margonda mungkin kurang begitu dikenal banyak orang, padahal beliau ini menjadi pimpinan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI).
Dalam buku Sejarah Perjuangan Bogor terbitan tahun 1986, diterangkan AMRI pimpinan Margonda ini sudah lebih dahulu berdiri daripada BKR (Badan Keamanan Rakjat). AMRI bermarkas di Jalan Merdeka, umur kelompok ini relatif singkat lantaran sebagian anggotanya banyak yang bergabung dengan BKR, Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dan sebagainya.
Pada 11 Oktober 1945, Margonda bersama pasukannya dari AMRI dan para pejuang dari berbagai laskar di Bogor dan sekitarnya menyerbu Depok, oleh karena kota tersebut tidak mau bergabung dengan Republik Indonesia. Dengan dilepas sang istri tercinta, Maemunah, Margonda dan kawan-kawan berangkat dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Bogor.
Saat itu situasi di Depok sudah tidak terkendali, ribuan pemuda yang mengepung sudah berhasil menguasi Kota Depok. Namun tidak berapa lama, datang pasukan Sekutu untuk merebut Depok kembali. Pertempuran yang tidak seimbang itu pun membuat para pejuang mundur untuk menyusun kekuatan.
Puncaknya, serangan balik dilangsungkan pada 16 November 1945, dengan sandi "Serangan Kilat'. Pertempuran antara Sekutu dengan para pejuang semakin sengit, sampai-sampai perang tersebut berlangsung hingga sehari-semalam. Dalam peristiwa tersebut, banyak pejuang Republik yang gugur, termasuk Margonda yang tertembak di daerah Kalibata, Depok.
Margonda lahir di Baros Cimahi, Bandung, pada tahun 1918 ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 27 tahun. Namanya tertulis bersama nama para pejuang lain yang gugur dalam berbagai pertempuran di dinding Museum Perjoangan Bogor. Baca: Si Gantang dan Entong Tolo, Dua Bandit Pondok Gede Bikin Pusing Polisi Batavia dan Tuan Tanah
Dilansir dari laman sejarahbogor.com, Margonda adalah salah satu pejuang revolusi yang gugur demi membela bangsa dan negara. Sosok Margonda mungkin kurang begitu dikenal banyak orang, padahal beliau ini menjadi pimpinan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI).
Dalam buku Sejarah Perjuangan Bogor terbitan tahun 1986, diterangkan AMRI pimpinan Margonda ini sudah lebih dahulu berdiri daripada BKR (Badan Keamanan Rakjat). AMRI bermarkas di Jalan Merdeka, umur kelompok ini relatif singkat lantaran sebagian anggotanya banyak yang bergabung dengan BKR, Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dan sebagainya.
Pada 11 Oktober 1945, Margonda bersama pasukannya dari AMRI dan para pejuang dari berbagai laskar di Bogor dan sekitarnya menyerbu Depok, oleh karena kota tersebut tidak mau bergabung dengan Republik Indonesia. Dengan dilepas sang istri tercinta, Maemunah, Margonda dan kawan-kawan berangkat dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Bogor.
Saat itu situasi di Depok sudah tidak terkendali, ribuan pemuda yang mengepung sudah berhasil menguasi Kota Depok. Namun tidak berapa lama, datang pasukan Sekutu untuk merebut Depok kembali. Pertempuran yang tidak seimbang itu pun membuat para pejuang mundur untuk menyusun kekuatan.
Puncaknya, serangan balik dilangsungkan pada 16 November 1945, dengan sandi "Serangan Kilat'. Pertempuran antara Sekutu dengan para pejuang semakin sengit, sampai-sampai perang tersebut berlangsung hingga sehari-semalam. Dalam peristiwa tersebut, banyak pejuang Republik yang gugur, termasuk Margonda yang tertembak di daerah Kalibata, Depok.
Margonda lahir di Baros Cimahi, Bandung, pada tahun 1918 ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 27 tahun. Namanya tertulis bersama nama para pejuang lain yang gugur dalam berbagai pertempuran di dinding Museum Perjoangan Bogor. Baca: Si Gantang dan Entong Tolo, Dua Bandit Pondok Gede Bikin Pusing Polisi Batavia dan Tuan Tanah
Lihat Juga :