Derita Kanker Stadium 3, Bocah 7 Tahun Warga Tangsel Ini Butuh Biaya
Jum'at, 29 Mei 2020 - 21:12 WIB
loading...
A
A
A
Sejak dirawat itulah, pembengkakannya jadi parah. Untuk bernapas, Doni mendapatkan bantuan alat pernapasan dari selang yang dimasukan lewat leher. Makan pun demikian, dimasukan selang dari mulut. Namun karena sulit, akhirnya langsung dimasukan dari lambung.
Dokter memvonis, Boni menderita kanker ganas stadium 3 rabdomiosarkoma. Penyakit yang memiliki kadar kesembuhan 3 dari 10 setelah dioperasi ini, bukan perkara mudah yang bisa dijinakkan, apalagi disembuhkan.
"Kata dokter tumor ganas, rabdomiosarkoma stadium 3. Sekarang kita lagi menjalani kemoterapi. Kita disuruh rawat jalan, karena saat ini masa pandemi Covid-19," paparnya.
Selama dirawat di rumah, Doni tetap berada dalam pengawasan RSCM. Hanya saja, setiap kali pulang dari kemo, tubuhnya panas hingga 1 minggu, dan bisa menghabiskan berbotol-botol sanmol obat penurun panas.
Kondisi Doni pun mulai membaik. Mulutnya sudah mulai bisa bergerak dari yang sebelumnya kaku. Pembengkakan di bagian depan kepala dan wajahnya pun menciut. Doni pun siap menjalani operasi pertama.
"Rasanya kita kayak divonis hukuman mati sendiri. Enggak percaya dan enggak pernah terbayangkan. Apalagi anaknya aktif banget, dan jarang sakit. Makanya kaget tiba-tiba kayak begini. Bisa parah begini," ungkapnya.
Jika sesuai jadwal, setelah 11 minggu kemo, dan kondisi Doni sudah membaik, Boni harus menjalani operasi pertama. Pihak dokter pun mewanti-wanti biaya operasi itu. "Saya takutnya pas operasi nanti, apakah ini tercover BPJS atau tidak. Kalau dokter bilang, tanpa BPJS biayanya Rp100 juta keatas. Sedang untuk keperluan di RS selama 2 bulan saja, sudah habis Rp20 juta," sambungnya.
Dokter memvonis, Boni menderita kanker ganas stadium 3 rabdomiosarkoma. Penyakit yang memiliki kadar kesembuhan 3 dari 10 setelah dioperasi ini, bukan perkara mudah yang bisa dijinakkan, apalagi disembuhkan.
"Kata dokter tumor ganas, rabdomiosarkoma stadium 3. Sekarang kita lagi menjalani kemoterapi. Kita disuruh rawat jalan, karena saat ini masa pandemi Covid-19," paparnya.
Selama dirawat di rumah, Doni tetap berada dalam pengawasan RSCM. Hanya saja, setiap kali pulang dari kemo, tubuhnya panas hingga 1 minggu, dan bisa menghabiskan berbotol-botol sanmol obat penurun panas.
Kondisi Doni pun mulai membaik. Mulutnya sudah mulai bisa bergerak dari yang sebelumnya kaku. Pembengkakan di bagian depan kepala dan wajahnya pun menciut. Doni pun siap menjalani operasi pertama.
"Rasanya kita kayak divonis hukuman mati sendiri. Enggak percaya dan enggak pernah terbayangkan. Apalagi anaknya aktif banget, dan jarang sakit. Makanya kaget tiba-tiba kayak begini. Bisa parah begini," ungkapnya.
Jika sesuai jadwal, setelah 11 minggu kemo, dan kondisi Doni sudah membaik, Boni harus menjalani operasi pertama. Pihak dokter pun mewanti-wanti biaya operasi itu. "Saya takutnya pas operasi nanti, apakah ini tercover BPJS atau tidak. Kalau dokter bilang, tanpa BPJS biayanya Rp100 juta keatas. Sedang untuk keperluan di RS selama 2 bulan saja, sudah habis Rp20 juta," sambungnya.
Lihat Juga :