Derita Kanker Stadium 3, Bocah 7 Tahun Warga Tangsel Ini Butuh Biaya
Jum'at, 29 Mei 2020 - 21:12 WIB
loading...
Rumah keluarga M Boni Alviano (7) bocah penderita kanker stadium 3 yang membutuhkan biaya pengobatan.Foto/SINDOnews/Hasan Kurniawan
A
A
A
TANGERANG SELATAN - Seorang bocah laki-laki bernama M Boni Alviano (7) hanya bisa terbaring lemah di rumah kontrakan yang ditempati kedua orang tuanya di Jalan H Som, RT03/01, Pondok Pucung, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel). Boni menderita kanker ganas stadium 3 rabdomiosarkoma yang membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya.
Boni merupakan putra bungsu dari empat bersaudara pasangan suami istri, Boy Nalriska (39) dan Anita Palyani (37). Boy menuturkan, awalnya mulanya sang anak yang saat itu tinggal bersama neneknya di Kampung Babakan Girang, Desa Nayagati, Lebak, Banten, mengalami sakit gigi, kepala pusing dan tiba-tiba mengeluarkan darah di hidung.
"Dalam waktu 15 hari, penyakit anak saya ini tidak kunjung sembuh. Sebaliknya, malah semakin parah, mata, pipi, dan rahang mulut bagian atasnya jadi bengkak-bengkak," kata Boy saat ditemui di rumah kontrakannya pada Jumat (29/5/2020). (Baca: Wartawan Detik Diteror, Forum Pemred Desak Polisi Bertindak)
Sejak saat itu, siswa kelas 1 SDN di Rangkas Bitung, Leuwidamar, Kampung Babakan Girang, Desa Nayagati, Lebak, Banten, ini pun tidak pernah masuk sekolah lagi. Kondisinya saat ini, sudah berubah jauh dari sebelum dia sakit gigi pada Februari 2020. Tengkorak kepala bagian depan dan bagian depan wajahnya kian membengkak dan indra penglihatannya sudah tak berfungsi.
Bocah yang dahulu dikenal sangat aktif dan tidak bisa diam ini, dalam beberapa bulan saja sudah menjadi lumpuh. Tubuhnya juga menjadi kurus kering, pasrah menanti nasib.Boy menuturkan, Boni sempat mendapatkan tindakan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sejak 17 Maret hingga 17 Mei 2020 lalu.
Boni merupakan putra bungsu dari empat bersaudara pasangan suami istri, Boy Nalriska (39) dan Anita Palyani (37). Boy menuturkan, awalnya mulanya sang anak yang saat itu tinggal bersama neneknya di Kampung Babakan Girang, Desa Nayagati, Lebak, Banten, mengalami sakit gigi, kepala pusing dan tiba-tiba mengeluarkan darah di hidung.
"Dalam waktu 15 hari, penyakit anak saya ini tidak kunjung sembuh. Sebaliknya, malah semakin parah, mata, pipi, dan rahang mulut bagian atasnya jadi bengkak-bengkak," kata Boy saat ditemui di rumah kontrakannya pada Jumat (29/5/2020). (Baca: Wartawan Detik Diteror, Forum Pemred Desak Polisi Bertindak)
Sejak saat itu, siswa kelas 1 SDN di Rangkas Bitung, Leuwidamar, Kampung Babakan Girang, Desa Nayagati, Lebak, Banten, ini pun tidak pernah masuk sekolah lagi. Kondisinya saat ini, sudah berubah jauh dari sebelum dia sakit gigi pada Februari 2020. Tengkorak kepala bagian depan dan bagian depan wajahnya kian membengkak dan indra penglihatannya sudah tak berfungsi.
Bocah yang dahulu dikenal sangat aktif dan tidak bisa diam ini, dalam beberapa bulan saja sudah menjadi lumpuh. Tubuhnya juga menjadi kurus kering, pasrah menanti nasib.Boy menuturkan, Boni sempat mendapatkan tindakan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sejak 17 Maret hingga 17 Mei 2020 lalu.
Lihat Juga :