Pernah Jadi Penyimpanan Abu Jenazah Tentara Jepang, Begini Cerita Gereja Immanuel Jakarta
Selasa, 03 Agustus 2021 - 05:25 WIB
loading...
Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel Jakarta. Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
A
A
A
JAKARTA - Gedung Gereja Immanuel Jakarta awalnya dibangun untuk beribadat umat Protestan Lutheran dan Hervormd di Batavia. Hingga awal abad ke-19, masyarakat Protestan Hervormd tidak memiliki gereja.
Selama berpuluh tahun mereka terpaksa menggunakan salah satu ruangan yang terbuat dari bambu pada sebuah Sekolah Rendah di Weltevreden sekaligus diharuskan menggunakan ruang dalam sebuah gereja Portugis di Batavia.
Baca juga: Masuk Cagar Budaya, Pemprov DKI Lakukan Revitalisasi GPIB Immanuel Secara Hati-hati
Karena tidak memiliki gereja sendiri mereka merasa kurang nyaman dengan kondisi tersebut. Ditambah lagi karena sebagian besar masyarakat Eropa saat itu sudah berdiam di kawasan kota yang baru (Weltevreden) dan meninggalkan kota Batavia.
Umat Protestan Hervormd dan Lutheran telah sepakat mempunyai gereja yang akan digunakan bersama-sama. Pembangunan gereja tersebut dimulai pada tahun 1834 berdasarkan rancangan dari JH Horst, seorang kepala kantor pegadaian dan pengukur tanah.
Untuk pekerjaan merancang gereja ini, Horst mendapat imbalan sebesar f 10 ribu. Dalam perkembangannya, pembangunan gereja sempat mengalami kekurangan dana karena dana kedua umat tidak mencukupi untuk pembangunan gereja tersebut. Pada tahun 1838, mereka meminta bantuan dana dari pemerintah yang pada akhirnya diputuskan sebagai pinjaman dapat dicairkan sebelum waktunya.
Selama berpuluh tahun mereka terpaksa menggunakan salah satu ruangan yang terbuat dari bambu pada sebuah Sekolah Rendah di Weltevreden sekaligus diharuskan menggunakan ruang dalam sebuah gereja Portugis di Batavia.
Baca juga: Masuk Cagar Budaya, Pemprov DKI Lakukan Revitalisasi GPIB Immanuel Secara Hati-hati
Karena tidak memiliki gereja sendiri mereka merasa kurang nyaman dengan kondisi tersebut. Ditambah lagi karena sebagian besar masyarakat Eropa saat itu sudah berdiam di kawasan kota yang baru (Weltevreden) dan meninggalkan kota Batavia.
Umat Protestan Hervormd dan Lutheran telah sepakat mempunyai gereja yang akan digunakan bersama-sama. Pembangunan gereja tersebut dimulai pada tahun 1834 berdasarkan rancangan dari JH Horst, seorang kepala kantor pegadaian dan pengukur tanah.
Untuk pekerjaan merancang gereja ini, Horst mendapat imbalan sebesar f 10 ribu. Dalam perkembangannya, pembangunan gereja sempat mengalami kekurangan dana karena dana kedua umat tidak mencukupi untuk pembangunan gereja tersebut. Pada tahun 1838, mereka meminta bantuan dana dari pemerintah yang pada akhirnya diputuskan sebagai pinjaman dapat dicairkan sebelum waktunya.
Lihat Juga :