Blitar Bergolak, Pelaksanaan Proyek Perhutanan Sosial Dihadang Petani

Selasa, 27 Juli 2021 - 20:22 WIB
loading...
Blitar Bergolak, Pelaksanaan...
Tampak baliho yang dipasang petani penggarap eks perkebunan Gondang Tapen, Wates, Kabupaten Blitar. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
A A A
BLITAR - Sengketa agraria lahan eks perkebunan Gondang Tapen di Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, Jawa Timur kembali bergolak. Sejumlah orang yang mengatasnamakan Petugas Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) tiba tiba memasang patok tapal batas.

Baca juga: Peringatan Hari Anak Nasional, Puluhan Bocah Blitar Jadi Korban Kekerasan Seksual

Pemasangan di atas lahan 724,23 hektare tersebut sebagai pelaksanaan program perhutanan sosial. Ratusan petani penggarap yang mengatasnamakan Paguyuban Petani Gondang Tapen (PPGT) sontak melakukan penghadangan. Mereka menyatakan menolak pengukuran sekaligus pemasangan patok tapal batas.

Baca juga: Kisah Gifari, Orang Tua dan Kakeknya Meninggal COVID-19, Jadi Anak Asuh Polres Sukoharjo

"Kita tolak. Karena saat ini lahan yang dipasang patok tapal batas masih berstatus obyek sengketa agraria ," ujar Irfan aktivis Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Jawa Timur yang mendampingi petani penggarap, Selasa (27/7/2021).

Informasi yang dihimpun, pengukuran lahan diikuti pemasangan patok tapal batas dimulai Sabtu (24/7/2021).

Ada empat orang petugas BPKH, yakni lembaga di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang ditunjuk melaksanakan pekerjaan ini. Satu patok beton berhasil ditancapkan di atas tanah seluas 724,23 hektare dengan panjang batas tanah 13.603,42 meter.

Pemasangan patok tapal batas berlanjut hari Minggu (25/7/2021). Namun yang dipakai patok bambu. Hingga batas waktu 1 Oktober 2021, petugas BPKH ditarget sudah memasang 206 patok baru. Pengukuran sekaligus pemasangan patok tapal batas sebagai legitimasi lahan yang ada, berstatus kawasan hutan produksi.

Selanjutnya akan menjadi obyek perhutanan sosial. Mengetahui hal itu, pada Selasa ini (27/7) petani penggarap yang tergabung dalam PPGT langsung bergerak melakukan penghadangan. "Jadi hari ini saat mau dipasang lagi langsung dihalangi petani," kata Irfan. Ada belasan patok tapal batas yang berhasil dipasang petugas BPKH. Para petani tidak berusaha merusak atau mencabutnya.

Yang dilakukan para petani di lokasi adalah memasang spanduk penolakan pengukuran maupun pemasangan patok tapal batas. "Sebelum ada pembicaraan yang jelas dengan petani, pihak manapun yang hendak memasang patok, kami tolak," tegas Irfan.

PPGT beralasan lahan seluas 724,23 hektare masih berstatus obyek sengketa agraria. Sejak HGU perkebunan habis dan tidak diperpanjang, sebanyak 800 kepala keluarga petani yang tergabung dalam PPGT memperjuangkan hak redistribusi tanah. Proses penyelesaian hingga kini masih berjalan.

Menurut Irfan, dengan berubahnya status eks lahan perkebunan menjadi kawasan perhutanan sosial, perjuangan petani untuk mendapat redistribusi tanah akan sia-sia. "Kesempatan memiliki tanah redis akan hilang," papar Irfan. Untuk menghindari terjadinya benturan fisik, Irfan meminta pemasangan patok tapal batas untuk dihentikan.

Sebelum seluruh para pihak terkait bertemu dan bermusyawarah, Irfan meminta seluruh proses yang berlangsung sepihak tersebut untuk tidak dilanjutkan. "Kami meminta untuk dihentikan. Karena kalau dipaksakan tidak tertutup kemungkinan terjadi benturan," pungkas Irfan.

Sementara, surat tugas pemasangan tanda batas dan pengukuran batas kawasan hutan produksi ditandangani Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI Yogyakarta pada 6 Juli 2021. Empat orang yang ditugaskan ke lokasi eks perkebunan Gondang Tapen masing-masing selaku Ketua Tim, Kordinator Lapangan, Surveyor dan Asisten Surveyor. Hingga kini belum ada satupun yang bisa dikonfirmasi.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
Polinema Bantu Petani-UMKM...
Polinema Bantu Petani-UMKM Melon Blitar Go Digital dan Hemat Energi
Hadapi Musim Kemarau,...
Hadapi Musim Kemarau, Petani Jabar Ikuti Edukasi Pentingnya Perubahan Pola Budidaya
Apkarindo Sumsel dan...
Apkarindo Sumsel dan JICA Uji Coba Teknologi Pengendalian Gugur Daun Karet Skala 150 Hektare
2 Petugas Lapas Blitar...
2 Petugas Lapas Blitar Diperiksa terkait Dugaan Jual Beli Sel Khusus Rp100 Juta
Tritura Petani Tembakau...
Tritura Petani Tembakau Madura: Negara Harus Mendapatkan Manfaat
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Relawan Tim 8 Prabowo-Gibran:...
Relawan Tim 8 Prabowo-Gibran: Program Perhutanan Sosial Jangkau 2 Juta Keluarga Petani
Serap Beras Petani,...
Serap Beras Petani, Kapasitas Gudang Bulog Ditambah hingga 7 Juta Ton
Rekomendasi
Timnas Amerika Serikat...
Timnas Amerika Serikat Ungguli Australia 2-0 di Babak Pertama
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat Inap Atas Rekomendasi Dokter
UU Polri Baru Akomodasi...
UU Polri Baru Akomodasi Penyetaraan Hak dan Humanis Tangani Unjuk Rasa
Berita Terkini
Almamater Lima Soroti...
Almamater Lima Soroti Dugaan Penyusutan Lahan Taman Potret Tangerang
Dokter Tifa Pakai Kursi...
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda hingga Dibopong usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri
Kurang dari 12 Jam,...
Kurang dari 12 Jam, Satreskrim Polres Pelalawan Tangkap Perampok Sadis
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved