Inovasi Digital di Tengah Pandemi, Bank Mandiri Luncurkan Mandiri Smart Account
Senin, 12 Juli 2021 - 00:40 WIB
loading...
Inovasi digital di tengah pandemi, Bank Mandiri luncurkan Mandiri Smart Account
A
A
A
SURABAYA - Pandemi COVID-19 sudah memasuki tahun kedua. Dampaknya dirasakan semua sektor usaha di Indonesia. Mobilitas masyarakat dan dunia usaha berkurang yang menyebabkan roda perekonomian mengalami stagnasi.
Kinerja perusahaan-perusahaan pun mengalami perlambatan, baik dari sisi suplai (supply), permintaan (demand), maupun operasional yang sangat mengganggu arus kas perusahaan dan menyebabkan tekanan likuiditas.
Tekanan likuiditas yang dialami oleh perusahaan tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal seperti kondisi makro maupun mikro ekonomi, faktor internal seperti besar dan kompleksnya organisasi perusahaan dapat menjadi tantangan dalam pelaksanaan tata kelola keuangan yang berdampak pada likuiditas perusahaan.
Kompleksitas organisasi suatu perusahaan dapat memicu tata kelola keuangan yang kurang efektif dan efisien, seperti penggunaan banyak rekening bank oleh perusahaan yang menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan rekening maupun kesulitan monitoring dana akibat desentralisasi pengelolaan rekening di perusahaan.
Baca juga: Adhi Karya Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun per Juni 2021
Tidak hanya itu, lemahnya tata kelola keuangan perusahaan dapat menyebabkan potensi loss/kerugian akibat tidak efisiennya monitoring penerimaan maupun pengeluaran dana. Bisnis e-commerce dan penyedia jasa keuangan lainnya contohnya, merupakan segmen yang terpapar potensi loss tersebut akibat dari aktivitas transaksi yang sangat banyak baik dari sisi collection/revenue maupun payment/cost.
Kinerja perusahaan-perusahaan pun mengalami perlambatan, baik dari sisi suplai (supply), permintaan (demand), maupun operasional yang sangat mengganggu arus kas perusahaan dan menyebabkan tekanan likuiditas.
Tekanan likuiditas yang dialami oleh perusahaan tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal seperti kondisi makro maupun mikro ekonomi, faktor internal seperti besar dan kompleksnya organisasi perusahaan dapat menjadi tantangan dalam pelaksanaan tata kelola keuangan yang berdampak pada likuiditas perusahaan.
Kompleksitas organisasi suatu perusahaan dapat memicu tata kelola keuangan yang kurang efektif dan efisien, seperti penggunaan banyak rekening bank oleh perusahaan yang menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan rekening maupun kesulitan monitoring dana akibat desentralisasi pengelolaan rekening di perusahaan.
Baca juga: Adhi Karya Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun per Juni 2021
Tidak hanya itu, lemahnya tata kelola keuangan perusahaan dapat menyebabkan potensi loss/kerugian akibat tidak efisiennya monitoring penerimaan maupun pengeluaran dana. Bisnis e-commerce dan penyedia jasa keuangan lainnya contohnya, merupakan segmen yang terpapar potensi loss tersebut akibat dari aktivitas transaksi yang sangat banyak baik dari sisi collection/revenue maupun payment/cost.
Lihat Juga :