DPRD DKI Minta Tender Ulang Pembangunan ITF Sunter Libatkan Swasta
Rabu, 30 Juni 2021 - 16:31 WIB
loading...
Wakil Ketua DPRD DKI, Mohamad Taufik.Foto/SINDOphoto/Ilustrasi.dok
A
A
A
JAKARTA - DPRD DKI Jakarta meminta PT Jakarta Propertindo (Jakpro) melakukan tender ulang secara terbuka proyek pembangunan intermediate treatment facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara. Mudurnya, Fortum Power Heat and Oy sebagai investor proyek ITF harus segera dibuka kembali tender secara terbuka.
Wakil Ketua DPRD DKI, Mohamad Taufik megatakan, PT Jakpro harus segera lakukan tender ulang secara terbuka. Perusahaan plat merah itu tidak bisa langsung melakukan akuisisi perusahaan Jakarta Solusi Lestari (JSL) untuk melanjutkan ITF.
Sebab, lanjut Taufik, anggaran pembangunan ITF cukup sebesar Rp5,2 triliun sehingga harus investasi perusahaan. "Biaya ini terlalu mahal. Kalau menggunakan uang Jakpro sama saja pakai APBD. Baik itu pinjaman atau Penyertaan Modal Daerah (PMD)," kata Taufik dalam keterangannya di DPRD DKI, Rabu (30/6).
Mundurnya perusahaan asing dari proyek pembangunan ITF, menurut Taufik, sebagai perusahaan plat merah mesti kreatif agar tidak membebani APBD. Karena itu, dia menyarankan, harus menggunakan skema investasi di pembangunan pengolahan sampah di Jakarta.
"Iya itu, tender ulang. Banyak perusahaan yang ingin investasi di ITF," ujarnya. Baca: Kerumunan Pasar di Jakarta Utara Jadi Sorotan DPR, Netizen : Eeewwhhhh Kapan Pandemi Kelar
Jika, Jakpro melakukan pinjaman uang untuk bengun ITF, Taufik mengaku, menolak rencana itu karena bakal bebani APBD DKI. Dia menilai, angka Rp5,2 triliun terlalu mahal karena biaya pembangunan ITF hanya Rp3-4 triliun sudah sama tanah.
"Saya bingung juga angka Rp5,2 triliun dari mana?. Saya tidak mau pembangunan ITF bebani APBD. Baik itu melalui skema pinjam uang atau dari PMD, karena sumbernya sama dari APBD. Nanti, tipping fee juga menggunakan APBD,” tambah dia.
Wakil Ketua DPRD DKI, Mohamad Taufik megatakan, PT Jakpro harus segera lakukan tender ulang secara terbuka. Perusahaan plat merah itu tidak bisa langsung melakukan akuisisi perusahaan Jakarta Solusi Lestari (JSL) untuk melanjutkan ITF.
Sebab, lanjut Taufik, anggaran pembangunan ITF cukup sebesar Rp5,2 triliun sehingga harus investasi perusahaan. "Biaya ini terlalu mahal. Kalau menggunakan uang Jakpro sama saja pakai APBD. Baik itu pinjaman atau Penyertaan Modal Daerah (PMD)," kata Taufik dalam keterangannya di DPRD DKI, Rabu (30/6).
Mundurnya perusahaan asing dari proyek pembangunan ITF, menurut Taufik, sebagai perusahaan plat merah mesti kreatif agar tidak membebani APBD. Karena itu, dia menyarankan, harus menggunakan skema investasi di pembangunan pengolahan sampah di Jakarta.
"Iya itu, tender ulang. Banyak perusahaan yang ingin investasi di ITF," ujarnya. Baca: Kerumunan Pasar di Jakarta Utara Jadi Sorotan DPR, Netizen : Eeewwhhhh Kapan Pandemi Kelar
Jika, Jakpro melakukan pinjaman uang untuk bengun ITF, Taufik mengaku, menolak rencana itu karena bakal bebani APBD DKI. Dia menilai, angka Rp5,2 triliun terlalu mahal karena biaya pembangunan ITF hanya Rp3-4 triliun sudah sama tanah.
"Saya bingung juga angka Rp5,2 triliun dari mana?. Saya tidak mau pembangunan ITF bebani APBD. Baik itu melalui skema pinjam uang atau dari PMD, karena sumbernya sama dari APBD. Nanti, tipping fee juga menggunakan APBD,” tambah dia.
Lihat Juga :