Rumah Sakit Terancam Jebol, Bima Arya: Bogor Butuh Minimal 4 Pusat Isolasi Pasien OTG
Rabu, 23 Juni 2021 - 12:53 WIB
loading...
Wali Kota Bogor Bima Arya dalam rapat koordinasi yang digelar secara daring, Rabu (23/6/2021). Foto: SINDOnews/Haryudi
A
A
A
BOGOR - Sejumlah pusat isolasi yang sempat dinonaktifkan di Kota Bogor kembali diaktifkan, menyusul terus melonjaknya kasus Covid-19.
"Saya baru dapat kabar, pusat Isolasi Lido, Kabupaten Bogor, Insyallah akan kembali diaktivasi. Tapi ini tidak cukup," ungkap Wali Kota Bogor Bima Arya dalam rapat koordinasi yang digelar secara daring, Rabu (23/6/2021).
Bima Arya menyatakan harus ada beberapa pusat isolasi lagi, minimal dua tempat, untuk menampung pasien Covid-19 yang semakin hari jumlahnya terus meningkat.
Baca juga: Puluhan ASN Terpapar Covid-19, Mulai Besok Balai Kota Bogor Ditutup
"Sehingga kita memiliki empat pusat isolasi. Nah, kalau pusat isolasi ini sudah banyak, nantinya orang tanpa gejala akan dibawa ke pusat isolasi, sehingga rumah sakit difokuskan saja untuk yang kuning (gejala sedang) dan merah (gejala berat)," ungkapnya.
Saat ini, semua pasien tanpa dipilah kondisinya dimasukkan ke rumah sakit. Cara ini bisa membuat rumah sakit kebobolan. Bagi pasien yang tanpa gejala mastinya bisa diarahkan di pusat isolasi, atau yang bergejala ringan melakukan isolasi mandiri di kediaman masing-masing.
Meski demikian, lanjut Bima, ada beberapa konsekuensi yang patut dipertimbangkan. Sebab, banyak warga yang terpapar dan terkapar di kediamannya tidak bisa mengakses rumah sakit karena penuh.
"Saya baru dapat kabar, pusat Isolasi Lido, Kabupaten Bogor, Insyallah akan kembali diaktivasi. Tapi ini tidak cukup," ungkap Wali Kota Bogor Bima Arya dalam rapat koordinasi yang digelar secara daring, Rabu (23/6/2021).
Bima Arya menyatakan harus ada beberapa pusat isolasi lagi, minimal dua tempat, untuk menampung pasien Covid-19 yang semakin hari jumlahnya terus meningkat.
Baca juga: Puluhan ASN Terpapar Covid-19, Mulai Besok Balai Kota Bogor Ditutup
"Sehingga kita memiliki empat pusat isolasi. Nah, kalau pusat isolasi ini sudah banyak, nantinya orang tanpa gejala akan dibawa ke pusat isolasi, sehingga rumah sakit difokuskan saja untuk yang kuning (gejala sedang) dan merah (gejala berat)," ungkapnya.
Saat ini, semua pasien tanpa dipilah kondisinya dimasukkan ke rumah sakit. Cara ini bisa membuat rumah sakit kebobolan. Bagi pasien yang tanpa gejala mastinya bisa diarahkan di pusat isolasi, atau yang bergejala ringan melakukan isolasi mandiri di kediaman masing-masing.
Meski demikian, lanjut Bima, ada beberapa konsekuensi yang patut dipertimbangkan. Sebab, banyak warga yang terpapar dan terkapar di kediamannya tidak bisa mengakses rumah sakit karena penuh.
Lihat Juga :