FBI Gelar Penyidikan 2 Hacker Indonesia Bobol Bansos Amerika Serikat USD60 Juta
Senin, 19 April 2021 - 16:45 WIB
loading...
Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta saat menunjukkan barang bukti yang dipakai dua hacker asal Indonesia untuk membobol bansos COVID-19 Amerika Serikat senilai USD60 juta. Foto/iNews TV/Rahmat Ilyasan
A
A
A
SURABAYA - Federal Bureau of Investigation (FBI) berencana melakukan penyidikan tersendiri terkait kasus pembobolan dana bantuan sosial (bansos) COVID-19 A merika Serikat senilai USD60 juta. Pembobolan tersebut diduga dilakukan dua hacker asal Indonesia . Keduanya kini sudah menjadi tersangka dan ditahan di Mapolda Jawa Timur (Jatim).
Baca juga: 2 Hacker Indonesia Bobol Bansos COVID-19 Amerika Serikat USD60 Juta
"Kami sangat mengapresiasi bantuan Polda Jatim dalam penangkapan dua WNI (Warga Negara Indonesia) yang diduga mencuri data pribadi ribuan warga AS. Kami akan mendukung penanganan kejahatan internasional yang dilakukan Polda Jatim,” kata Legal Attache FBI untuk Indonesia, John Kim, Senin (19/4/2021).
Baca juga: Model Cantik Prancis Mualaf dan Nikahi Pria Aceh, Mau Macul dan Makan Nasi Bungkus
Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Farman membenarkan, FBI akan membuka penyidikan tersendiri atas kasus ini. Sebab, ada 30.000 warga di 14 negara bagian AS yang menjadi korban. "Datanya nanti dari kita. Data itu akan dibawa ke Amerika untuk dibuka case tersendiri di sana," kata Farman.
Baca juga: 2 Hacker Indonesia Bobol Bansos COVID-19 Amerika Serikat USD60 Juta
"Kami sangat mengapresiasi bantuan Polda Jatim dalam penangkapan dua WNI (Warga Negara Indonesia) yang diduga mencuri data pribadi ribuan warga AS. Kami akan mendukung penanganan kejahatan internasional yang dilakukan Polda Jatim,” kata Legal Attache FBI untuk Indonesia, John Kim, Senin (19/4/2021).
Baca juga: Model Cantik Prancis Mualaf dan Nikahi Pria Aceh, Mau Macul dan Makan Nasi Bungkus
Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Farman membenarkan, FBI akan membuka penyidikan tersendiri atas kasus ini. Sebab, ada 30.000 warga di 14 negara bagian AS yang menjadi korban. "Datanya nanti dari kita. Data itu akan dibawa ke Amerika untuk dibuka case tersendiri di sana," kata Farman.
Lihat Juga :