Misteri Enny Arrow dan Bacaan Erotis yang Digandrungi Remaja Tahun 1980-1990-an
Sabtu, 10 April 2021 - 05:50 WIB
loading...
A
A
A
Cover novel Enny Arrow juga terbilang berani. Tak ada satupun buku bergambar wanita berpose panas ketika itu, kecuali karya-karyanya. Dibalut dengan judul yang aduhai seperti Selembut Sutera, Malam Kelabu, Gairah Cinta, Noda-Noda Merah, Balada Didong, Tante Ratna, dan masih banyak lagi.
![Misteri Enny Arrow dan Bacaan Erotis yang Digandrungi Remaja Tahun 1980-1990-an]()
Novel erotis karya Enny Arrow. Foto: mangkardi.wordpress.com
Enny Arrow Pernah Bekerja Sebagai Penjahit di Kalimalang
Sumber lain menyatakan Enny Arrow dulunya hanyalah pekerja di toko usaha tukang jahit bernama Arrow di Kalimalang, Jakarta Timur. Entah karena suntuk sebagai penjahit, dia menulis novel pertama pada 1965.
Judulnya agak seram juga yakni Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta. Judul yang oleh para communistofobi akan dituding kiri. Nama Arrow di belakang nama aslinya, Enny (Sukaesih Probowidagdo) memang diambilkan dari nama tempatnya bekerja.
Baca juga: Kisah Taman Mini; Digagas Ibu Tien, Diperjuangkan Ali Sadikin, Kini Diambil Alih Jokowi
Masih menurut mangkardi.wordpress.com, soal riwayat Enny Arrow masih simpang siur. Ada yang mengatakan, Abdullah Harahap (penulis novel-novel horor sejaman Motinggo Boesje) konon tahu persis Enny Arrow adalah nama samaran penulis lelaki. Siapa? Sayangnya, Abdullah Harahap sudah almarhum sehingga tak bisa dikonfirmasi.
Pertengahan dekade 70-an, nama Enny Arrow melambung melampaui popularitas Teguh Esha dengan Ali Topan. Selama satu dekade ke depan hingga pertengahan 80-an, Enny Arrow merajai bacaan remaja Indonesia bersamaan dengan zaman keemasan komik-komik roman seperti Zaldy, Sim, Jan, dan seterusnya termasuk kemudian disusul komik-komik silat Ganes TH, Man, Djair, serta Hans.

Novel erotis karya Enny Arrow. Foto: mangkardi.wordpress.com
Enny Arrow Pernah Bekerja Sebagai Penjahit di Kalimalang
Sumber lain menyatakan Enny Arrow dulunya hanyalah pekerja di toko usaha tukang jahit bernama Arrow di Kalimalang, Jakarta Timur. Entah karena suntuk sebagai penjahit, dia menulis novel pertama pada 1965.
Judulnya agak seram juga yakni Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta. Judul yang oleh para communistofobi akan dituding kiri. Nama Arrow di belakang nama aslinya, Enny (Sukaesih Probowidagdo) memang diambilkan dari nama tempatnya bekerja.
Baca juga: Kisah Taman Mini; Digagas Ibu Tien, Diperjuangkan Ali Sadikin, Kini Diambil Alih Jokowi
Masih menurut mangkardi.wordpress.com, soal riwayat Enny Arrow masih simpang siur. Ada yang mengatakan, Abdullah Harahap (penulis novel-novel horor sejaman Motinggo Boesje) konon tahu persis Enny Arrow adalah nama samaran penulis lelaki. Siapa? Sayangnya, Abdullah Harahap sudah almarhum sehingga tak bisa dikonfirmasi.
Pertengahan dekade 70-an, nama Enny Arrow melambung melampaui popularitas Teguh Esha dengan Ali Topan. Selama satu dekade ke depan hingga pertengahan 80-an, Enny Arrow merajai bacaan remaja Indonesia bersamaan dengan zaman keemasan komik-komik roman seperti Zaldy, Sim, Jan, dan seterusnya termasuk kemudian disusul komik-komik silat Ganes TH, Man, Djair, serta Hans.
Lihat Juga :