Madrasah Aset Penting, Bima Arya: Kita Tidak Mau Anak Muda yang Maju Menjauhi Agama
Senin, 05 April 2021 - 14:32 WIB
loading...
Bima Arya saat menghadiri Muswil IV Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia Jawa Barat 2021. Foto: SINDOnews/Haryudi
A
A
A
BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto berpandangan bahwa madrasah merupakan aset dan jembatan antara modernitas, kemajuan, dan aspek-aspek yang unsurnya lokalitas, keagamaan, serta yang lainnya.
"Kita tidak mau anak-anak muda yang maju, baik, rajin, dan kreatif meninggalkan, bahkan menjauhi agama atau semakin jauh dari agama. Namun saya melihat kecenderungan itu ada, kita ingin semuanya selaras. Jadi dipersatukannya atau dijembataninya tentu di madrasah, antara ilmu umum dan Ilmu keagamaan. Kita ingin kebangsaan sejalan dengan keislaman," ujar Bima saat menghadiri Muswil IV Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia Jawa Barat 2021.
Baca juga: Begini Aturan Baru Pakaian Dinas ASN Bogor dari Senin-Jumat, Perempuan Muslim Wajib Nuansa Santri
Menurut Bima, kecanggihan teknologi komunikasi informasi ternyata tidak nyambung dengan pondasi kultural, perkembangan pendidikan, dan tidak masuk dengan metode pendidikan yang ada. Justru mengakibatkan perpecahan akibat perbedaan di masyarakat.
Hal ini muncul karena adanya hal-hal yang tidak sinkron atau tidak nyambung, di antaranya keislaman dengan kebangsaan, modernitas dengan lokalitas, teknologi dengan keseharian.
"Dengan peran yang dimiliki, madrasah itu luar biasa. Dengan catatan, sudah selesai dengan urusan 'dapurnya'. Persoalan yang hadir tidak melulu kurangnya komitmen, tapi juga tidak adanya informasi. Saya membayangkan, apabila komunikasinya intens dari awal maka kita bisa merencanakan bentuk kontribusinya," katanya.
"Kita tidak mau anak-anak muda yang maju, baik, rajin, dan kreatif meninggalkan, bahkan menjauhi agama atau semakin jauh dari agama. Namun saya melihat kecenderungan itu ada, kita ingin semuanya selaras. Jadi dipersatukannya atau dijembataninya tentu di madrasah, antara ilmu umum dan Ilmu keagamaan. Kita ingin kebangsaan sejalan dengan keislaman," ujar Bima saat menghadiri Muswil IV Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia Jawa Barat 2021.
Baca juga: Begini Aturan Baru Pakaian Dinas ASN Bogor dari Senin-Jumat, Perempuan Muslim Wajib Nuansa Santri
Menurut Bima, kecanggihan teknologi komunikasi informasi ternyata tidak nyambung dengan pondasi kultural, perkembangan pendidikan, dan tidak masuk dengan metode pendidikan yang ada. Justru mengakibatkan perpecahan akibat perbedaan di masyarakat.
Hal ini muncul karena adanya hal-hal yang tidak sinkron atau tidak nyambung, di antaranya keislaman dengan kebangsaan, modernitas dengan lokalitas, teknologi dengan keseharian.
"Dengan peran yang dimiliki, madrasah itu luar biasa. Dengan catatan, sudah selesai dengan urusan 'dapurnya'. Persoalan yang hadir tidak melulu kurangnya komitmen, tapi juga tidak adanya informasi. Saya membayangkan, apabila komunikasinya intens dari awal maka kita bisa merencanakan bentuk kontribusinya," katanya.
Lihat Juga :