Baktimed dan Diaspora Eropa Bantu Rumah Sakit Apung Dr Lie Darmawan
Rabu, 03 Maret 2021 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
“Ini suatu kerjasama yang pas dan saling mengisi. Yayasan doctorSHARE berpengalaman lebih dari 10 tahun di lapangan dan memiliki fasilitas RSA memadai, sementara Baktimed nantinya akan memberikan bantuan kesehatan kepada masyarakat terpencil dengan menggunakan pesawat-pesawat kecil," ujar Wahid dalam keterangannya, (Rabu/3/2021).
Sementara Dr Lie mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan oleh Baktimed. Dr Lie menyambut baik uluran kerjasama dan bersinergi, mengingat keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu masyarakat yang kurang mampu di bidang kesehatan yang tinggal di daerah terpencil.
Wahid, yang juga mantan Kepala Desk Diaspora Kemlu, secara khusus mengucapkan terimakasih kepada PETJ yang secara spontan melakukan fund raising di Eropa. PETJ adalah wadah perhimpunan masyarakat Indonesia (diaspora) di 19 negara Eropa yang peduli dan mendukung pemerintah untuk mencapai Indonesia maju.
Dr Lie sempat mengajak tim Baktimed dan PETJ untuk melihat dari dekat fasilitas RSA miliknya. Dia bercerita bahwa sepulangnya dari Jerman, dia membeli sendiri kapal nelayan bekas dan dengan kemampuan keuangan sendiri mengubahnya menjadi rumah sakit apung pertama di Indonesia. Yayasan yang dipimpinnya saat ini memiliki sekitar 1000 sukarelawan dari berbagai keahlian.
Sementara Dr Lie mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan oleh Baktimed. Dr Lie menyambut baik uluran kerjasama dan bersinergi, mengingat keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu masyarakat yang kurang mampu di bidang kesehatan yang tinggal di daerah terpencil.
Wahid, yang juga mantan Kepala Desk Diaspora Kemlu, secara khusus mengucapkan terimakasih kepada PETJ yang secara spontan melakukan fund raising di Eropa. PETJ adalah wadah perhimpunan masyarakat Indonesia (diaspora) di 19 negara Eropa yang peduli dan mendukung pemerintah untuk mencapai Indonesia maju.
Dr Lie sempat mengajak tim Baktimed dan PETJ untuk melihat dari dekat fasilitas RSA miliknya. Dia bercerita bahwa sepulangnya dari Jerman, dia membeli sendiri kapal nelayan bekas dan dengan kemampuan keuangan sendiri mengubahnya menjadi rumah sakit apung pertama di Indonesia. Yayasan yang dipimpinnya saat ini memiliki sekitar 1000 sukarelawan dari berbagai keahlian.
(shf)
Lihat Juga :