Kasus Balita Gizi Buruk di Bandung Meningkat Sejak Pandemi
Selasa, 23 Februari 2021 - 10:17 WIB
loading...
Kasus anak di bawah lima tahun (balita) yang mengalami gizi buruk sejak pandemi mengalami kenaikan. Di Kota Bandung, 1.218 balita gizi buruk dan 4.490 balita kekurangan gizi. Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
BANDUNG - Kasus anak di bawah lima tahun (balita) yang mengalami gizi buruk sejak pandemi mengalami kenaikan. Di Kota Bandung, 1.218 balita gizi buruk dan 4.490 balita kekurangan gizi.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Dewi Primasari mengakui, kondisi pandemi memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap permasalahan gizi Balita. Sehingga permasalahan gizi pada tahun 2020 cukup naik.
Sebelumnya, pada tahun 2019 lalu permasalahan gizi di Kota Bandung di angka 3,22% atau sebanyak 678 balita dengan gizi buruk dan 3.321 lainnya mengalami gizi kurang. Sedangkan pada tahun 2020, naik menjadi 5,33% yakni 1.218 balita gizi buruk dan 4.490 lainnya mengalami gizi kurang.
"Tapi Balita yang diukur di tahun 2020 juga berkurang. Tahun 2019 sebanyak 132.578 orang, sementara 2020 hanya 107.189 orang, ini karena kondisi pandemi," jelas Dewi.
Menurutnya, permasalahan gizi buruk tidak hanya terjadi di Kota Bandung saja, tapi sudah menjadi permasalahan di tingkat nasional. Di Bandung, ada beberapa inovasi maupun program yang telah dijalankan untuk menangani permasalahan gizi. Di antaranya yaitu Beas Bereum, Rembulan, dan Sigurih. Baca: Perompak Sadis yang Dibekuk TNI AL, Sering Sasar Kapal Asing di Selat Malaka.
Beas Beureum yaitu Bekel Anak Sekolah Bergizi Enak dan Murah, Rembulan yaitu Remaja Bandung Unggul Tanpa Anemia, dan Sigurih yaitu Studi Intensif Gizi Untuk Indonesia Hebat. "Itu penanganan mulai dari level SD, SMP, SMA. Kita ini berbasis sekolah makanya kita bisa kerjakan se Kota Bandung," terangnya.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Dewi Primasari mengakui, kondisi pandemi memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap permasalahan gizi Balita. Sehingga permasalahan gizi pada tahun 2020 cukup naik.
Sebelumnya, pada tahun 2019 lalu permasalahan gizi di Kota Bandung di angka 3,22% atau sebanyak 678 balita dengan gizi buruk dan 3.321 lainnya mengalami gizi kurang. Sedangkan pada tahun 2020, naik menjadi 5,33% yakni 1.218 balita gizi buruk dan 4.490 lainnya mengalami gizi kurang.
"Tapi Balita yang diukur di tahun 2020 juga berkurang. Tahun 2019 sebanyak 132.578 orang, sementara 2020 hanya 107.189 orang, ini karena kondisi pandemi," jelas Dewi.
Menurutnya, permasalahan gizi buruk tidak hanya terjadi di Kota Bandung saja, tapi sudah menjadi permasalahan di tingkat nasional. Di Bandung, ada beberapa inovasi maupun program yang telah dijalankan untuk menangani permasalahan gizi. Di antaranya yaitu Beas Bereum, Rembulan, dan Sigurih. Baca: Perompak Sadis yang Dibekuk TNI AL, Sering Sasar Kapal Asing di Selat Malaka.
Beas Beureum yaitu Bekel Anak Sekolah Bergizi Enak dan Murah, Rembulan yaitu Remaja Bandung Unggul Tanpa Anemia, dan Sigurih yaitu Studi Intensif Gizi Untuk Indonesia Hebat. "Itu penanganan mulai dari level SD, SMP, SMA. Kita ini berbasis sekolah makanya kita bisa kerjakan se Kota Bandung," terangnya.
Lihat Juga :