Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Alat Deteksi Rusak! Bukit di Lereng Wilis Nganjuk Retak, Ratusan Warga Tiap Malam Mengungsi

loading...
Alat Deteksi Rusak! Bukit di Lereng Wilis Nganjuk Retak, Ratusan Warga Tiap Malam Mengungsi
Sebuah bukit di Lereng Gunung Wilis, Dusun Petungulung, Desa Margoopatut, Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur kembali mengalami retakan. Foto iNews TV/Mukhtar B
NGANJUK - Sebuah bukit di Lereng Gunung Wilis, Dusun Petungulung, Desa Margoopatut, Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur kembali mengalami retakan . Hal ini membuat trauma warga betapa tidak karena wilayah Nganjuk baru saja terjadi bencana longsor yang menewaskan 19 orang.
Alat Deteksi Rusak! Bukit di Lereng Wilis Nganjuk Retak, Ratusan Warga Tiap Malam Mengungsi

Akibatnya setiap malam ratusan warga yang tinggal di bawah tebing tersebut terpaksa diungsikan.

Baca juga: Longsor Nganjuk, 101 Warga Mengungsi dan 7 Warga Hilang

Paeran Ketua Rt II Dusun Petungulung mengatakan, retakan bukit yang berpotensi longsor di Dusun Petungulung, Desa Margoopatut, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk ini sudah berlangsung beberapa hari.

“Dimana tanah diatas bukit yang dihuni oleh banyak warga ini mengalami retak dengan ukuran yang cukup panjang mencapai 250 meter. Agar tidak dimasuki air dan menimbulkan longsor warga berinisiatif menutup retakan tanah tersebut dengan tanah dan plastik,” kata Paeran Ketua Rt II Dusun Petungulung.



Untuk mengantisipasi korban, kata dia, ratusan warga yang tinggal di punggung bukit ini setiap malam diungsikan ke rumah kerabat maupun tempat lain yang dianggap lebih aman.

“Pemerintah desa dan Kecamatan Sawahan kini juga telah membuat posko bencana untuk mengkoordinir warga yang ketakutan dan mengungsi,” ungkapnya.

Baca juga : Korban Ketiga Longsor Kebumen Ditemukan Tak Bernyawa
Ironisnya, kata dia, dalam kondisi seperti ini alat deteksi bencana yang dipasang pemerintah di atas bukit ternyata sudah rusak dan tidak berfungsi.

“Hal ini tentu saja membuat warga kian cemas. Untuk antisipasi warga terpaksa membuat penanda bahaya bencana darurat dengan menggunakan benang dan botol bekas yang ditautkan pada titik tanah atas dan bawah retakan. Setiap hari warga harus mengontrol alat deteksi darurat ini,” ujar Paeran Ketua Rt II Dusun Petungulung

Warga berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi dan meminta segera memperbaiki alat deteksi longsor yang kondisinya sudah rusak dan tidak berfungsi.
(sms)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top