Cerita Pagi

Jejak Peradaban Eropa Abad ke-19 di Delta Mahakam, dari Keramik hingga Botol

loading...
SINDONEWS.com mencoba mengambil salah satu pecahan keramik. Dari hasil penelusuran, keramik itu diketahui sebagai keramik Eropa yang lazim diproduksi pada abad ke-19 Masehi.Ada juga serpihan keramik sekilas mirip buatan China abad ke-16. Label yang masih jelas terbaca adalah Petrus Regout Maastricht. Label Petrus Regout Maastricht merujuk pada nama Petrus Regout (1801-1878), pedagang kaca dan gerabah di Kota Maastricht, Belanda. Ada juga label Société Céramique. Label ini merujuk pada sebuah perusahaan tembikar Belanda yang berdiri pada tahun 1863 dan Keramik buatan Jerman dengan tulisan “Made in Germany” buatan Bremen Germany tahun 1890.

Selain keramik, ada puluhan beragam botol yang masih utuh. Botol-botol ini diketahui sebagai botol minuman dari Eropa, Amerika dan Australia era abad ke-19 dan awal abad-20 Masehi. Botolnya bervariasi, mulai dari tempat vitamin, minuman lemon hingga minuman keras. Botol paling cantik di hamparan keramik itu adalah botol Brookes Lemos, botol minuman Lemon premium asal Australia diketahui dikeluarkan oleh C.M. Brooke & Sons Property pada tahun 1910. Di sisi botol, tulisan embos BROOKE'S LEMOS masih terpampang jelas dan kuat. Di sisi lainnya, juga tertulis nama-nama kota dunia sebagai tempat penjualan resmi dan legalnya: Melbourne Aust, Christchurch NZ, New York USA. Botol utuh lainnya adalah botol minyak ikan kod Scott's Emulsion. Botol ini dikeluarkan oleh Scott & Bowne Manufasturing Chemists, New York tahun 1890.

Kepala Desa Sepatin, Mustamin mengatakan, hamparan keramik kuno ini sudah lama diketahui oleh penduduk. Bahkan, penduduk banyak yang mencari benda-benda cantik dan antik untuk koleksi atau barang yang masih bisa digunakan. Mustamin berharap, bukti-bukti ini dapat diteliti dan ditelusuri lebih jauh. “Kami sering mengusulkan untuk penelitian dan penggalian-penggalian sejarah,” ujarnya. (Baca Juga: Sultan Nuku, Keberanian dan Kekuatan Batin Mengusir Penjajah dari Tidore)

Di sisi pulau lain, ditemukan makam kuno yang tertimbun lumpur. Beberapa nisan tampak muncul di sela tumpukan lumpur bekas kepiting membuat sarang. Setelah ditelusuri, ternyata Kawasan itu memang pemakaman. Sayangnya, tidak ada keterangan sama sekali soal tahun di nisan tersebut. Sebagian besar nisan terbuat dari kayu ulin. Sebagian lagi terbuat dari batu.

Kisah soal temuan hamparan pecahan keramik dan makam kuno itu belum tercatat dalam sejarah. Jika dulu ada kehidupan bangsa eropa di Delta Mahakam, pertanyaan lain muncul. Mengapa mereka membangun pemukiman di tempat terpencil dan terisolir di Delta Mahakam?
(nic)
halaman ke-2 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top