2020, Kredit Perbankan Sulut Tumbuh Positif di Tengah Pandemi COVID-19
Sabtu, 02 Januari 2021 - 10:52 WIB
loading...
A
A
A
“Jika ditotal, kredit untuk sektor investasi dan modal kerja baru sekitar 40 persen. Hal ini perlu didorong lagi agar pertumbuhan kredit di sektor ini dapat lebih tinggi lagi,” kata Darwisman yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pengawasan Bank 1 OJK ini.
Selain mendorong kredit di sektor investasi dan modal kerja, ia juga mengatakan perlunya meningkatkan kredit untuk UMKM. Sebab di Sulut memiliki banyak UMKM sehingga jika dikembangkan akan meningkatkan perekonomian Sulut.
Mantan Kepala OJK Jambi dan Sumatera Barat ini juga melihat LDR (Loan to Deposit Ratio) di Sulut yang tinggi perlu menjadi perhatian.
Sebab LDR yang tinggi menandakan Dana Pihak Ketiga (DPK) atau dana yang dihimpun perbankan di Sulut tidak cukup untuk membiayai kredit. Akibatnya, bank harus meminjam dana dari kantor pusat untuk memenuhi permintaan kredit di Sulut.
“Idealnya, antara DPK dan LDR itu seimbang. Bahkan DPK harus lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan LDR. Tetapi yang terjadi di Sulut, DPK 31 triliun rupiah, sementara kredit yang disalurkan 42 triliun rupiah. Itu berarti Sulut defisit 1 triliun rupiah untuk menyalurkan kredit,” jelasnya.
(Baca juga: GP Ansor Minsel Dukung Sikap Tegas Pemerintah Terkait Larangan Kegiatan FPI)
Selain mendorong kredit di sektor investasi dan modal kerja, ia juga mengatakan perlunya meningkatkan kredit untuk UMKM. Sebab di Sulut memiliki banyak UMKM sehingga jika dikembangkan akan meningkatkan perekonomian Sulut.
Mantan Kepala OJK Jambi dan Sumatera Barat ini juga melihat LDR (Loan to Deposit Ratio) di Sulut yang tinggi perlu menjadi perhatian.
Sebab LDR yang tinggi menandakan Dana Pihak Ketiga (DPK) atau dana yang dihimpun perbankan di Sulut tidak cukup untuk membiayai kredit. Akibatnya, bank harus meminjam dana dari kantor pusat untuk memenuhi permintaan kredit di Sulut.
“Idealnya, antara DPK dan LDR itu seimbang. Bahkan DPK harus lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan LDR. Tetapi yang terjadi di Sulut, DPK 31 triliun rupiah, sementara kredit yang disalurkan 42 triliun rupiah. Itu berarti Sulut defisit 1 triliun rupiah untuk menyalurkan kredit,” jelasnya.
(Baca juga: GP Ansor Minsel Dukung Sikap Tegas Pemerintah Terkait Larangan Kegiatan FPI)
Lihat Juga :