Katib ‘Aam PBNU Bekali Mahasiswa PTKI Genealogi Ekstremisme Radikalisme

Kamis, 24 Desember 2020 - 11:49 WIB
loading...
Katib ‘Aam PBNU Bekali...
Katib Áam PBNU, KH Yahya Cholil Tsaquf membawakan materi Genealogi, Ekstremisme dan Radikalisme dan Ancaman bagi Indonesia di Diklatpimnas Mahasiswa PTKI se-Indonesia. Foto/Tangkapan Layar
A A A
SEMARANG - Gerakan radikalisme dan terorisme mempunyai akar sejarah yang panjang, tidak saja menjadi masalah Islam tetapi hampir semua agama di dunia. Masalah perbudakan dan radikalisme terdapat rujukannya di dalam khazanah pemikiran Islam.

Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) , KH Yahya Cholil Tsaquf memaparkan hal itu saat membawakan materi Genealogi Ekstremisme/Radikalisme dan Ancaman bagi Indonesia, Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Nasional (Diklatpimnas) dihadapan 80 aktivis Mahasiswa PTKI se-Indonesia, Rabu (23/12/2020).

(Baca juga: Tampil Kedua di PBB, Gus Yahya Bicara Prakarsa Agama-agama Ibrahim)

Gus Yahya menegaskan pandangan radikalisme dan terosrisme mendapatkan dukungan dari sebagaian umat beragama karena disandarkan pada referensi yang muncul pada abad pertengahan Islam. "Paham itu sekarang tidak relevan lagi dalam konteks negara bangsa modern, seperti sekarang ini di mana antar bangsa sudah membaur," katanya, dikutip Kamis (24/12/2020).

(Baca juga: Katib Aam PBNU Terpilih sebagai Anggota Komisi Indo-Pasifik)

Menurut Gus Yahya, generasi milenial harus melakukan riset sejarah untuk melacak akar radikalisme dalam Islam. "Apakah benar terorisme tidak mempunyai agama dan tidak ada hubungannya dengan agama termasuk Islam?" ujarnya.

"Saya menolak keras anggapan itu karena itu bukti ketidakjujuran akan fakta-fakta historis, karena wacana itu dalam Islam kita temukan cangkolan literaturnya di sekitar pertengahan abad ke 15," tegas Pengasuh Pesantren Raudlotut Tholibin Rembang ini.

Dia memaparkan, gerakan radikal belakangan di sebut sebagai gerakan takfiri karena kerap mengkafirkan sesama muslim. "Gerakan takfiri berbahaya karena menganggap setiap orang kafir harus dimusuhi, halal darahnya dan halal kehormatannya. Sebaliknya jika kita muslim maka haram darahnya, kehormatan dan hartanya," katanya.

Selain itu dijelaskan pula tentang orang-orang yang benar-benar kafir. "Kalau merujuk pemikiran Islam abad pertengahan, konsekuensi adalah orang “kafir” itu tidak perlu mendapatkan perlindungan, mereka halal darahnya dan halal segala-galanya oleh penguasa," terangnya.

Diklatpimnas diselengarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bekerjasama dengan Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Walisongo. Kegiatan berlangsung selama 10 hari, yakni pada 20-26 Desember 2020 berlangsung secara online dan 28-30 Desember secara offline.

Untuk mengatasi gerakan ektrimisme dan radikalisme, Gus Yahya memandang perlunya mengidentifikasi dan mengakui masalah agama dan radikalisme secara jujur dan diikuti dengan membangun wacana baru tentang Islam.

Terkait wacana baru, Gus Yahya mencatat Muhammadiyah telah menelorkan konsep darul ahdi wa syahadah dan NU melalui Munas di Banjar 2019 telah merumuskan lima hal penting. Pertama, katagori kafir tidak relevan dalam negara modern. Kedua, mendirikan khilafah bukan kewajiban agama. Ketiga, syariat tidak boleh dipertentangkan dengan hukum positif artinya setiap muslim mempunyai kewajiban syari terhadap hukum negara. Keempat, konflik yang melibatkan antar muslim, tidak boleh terlibat atas nama muslim tetapi harus atas nama perdamaian.

Kelima, pentingnya resolusi konflik dan reformasi pendidikan keagamaan, karena masih ada kurikulum pendidikan keagamaan yang kuirang menampilkan wajah keagamaan yang moderat dan damai.

KH Yahya Cholil Tsaquf dipandu oleh Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan UIN Walisongo Semarang Ruchman Basori. Nara sumber lain di hari ketiga Diklatpimnas adalah peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Walisongo Semarang M Mukhsin Jamil.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh...
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh Yusuf Sebut Gus Salam Layak Jadi Ketum PBNU
Lalin di Kawasan Patung...
Lalin di Kawasan Patung Kuda Ramai Lancar Jelang Aksi Massa
Budiman Sudjatmiko Ungkap...
Budiman Sudjatmiko Ungkap Dialog dengan Mahasiswa di UGM Gagal Terjadi: Ada Penghakiman
KAMMI Sesalkan Pembubaran...
KAMMI Sesalkan Pembubaran Forum Diskusi di UGM
Syiar Islam Harus Dekat...
Syiar Islam Harus Dekat dengan Masyarakat
Pengamat Apresiasi Pendekatan...
Pengamat Apresiasi Pendekatan Humanis Polri dalam Mengawal Aksi Demonstrasi Mahasiswa
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
PKB Instruksikan DPC...
PKB Instruksikan DPC dan DPW Berdialog dengan Mahasiswa
Pelajari Investasi,...
Pelajari Investasi, Mahasiswa Universitas IBA Palembang & Universitas Tazkia Kunjungi MNC Sekuritas
Rekomendasi
Kisah Kasus Nadiem Dalam...
Kisah Kasus Nadiem Dalam Perkara Korupsi
Samsung Berencana Bangun...
Samsung Berencana Bangun Pusat Data Terapung di Laut
Penunjukan Luke Thomas...
Penunjukan Luke Thomas Dinilai Mencerminkan Meritokrasi di DSI
Berita Terkini
Eksekusi Hotel Sultan...
Eksekusi Hotel Sultan Ricuh, Simpatisan Lempari Polisi dan TNI dengan Batu
Eksekusi Hotel Sultan,...
Eksekusi Hotel Sultan, Wamensesneg: Kita Harus Tarik Aset yang Dikuasai Pihak Lain
Akses Masuk Kawasan...
Akses Masuk Kawasan GBK Dibatasi Jelang Eksekusi Hotel Sultan
Jelang Eksekusi Hotel...
Jelang Eksekusi Hotel Sultan, Spanduk Penolakan hingga Kawat Berduri Terpasang di Sekitar Lokasi
3.161 Personel Gabungan...
3.161 Personel Gabungan Disiagakan Jelang Eksekusi Hotel Sultan Hari Ini
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh...
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh Yusuf Sebut Gus Salam Layak Jadi Ketum PBNU
Infografis
Kartu Jakarta Mahasiswa...
Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul Tak Terdampak Efisiensi Anggaran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved