Kisah Haru Pasutri di Madura Punya Momongan setelah 21 Tahun Sabar Menanti
Rabu, 09 Desember 2020 - 11:24 WIB
loading...
A
A
A
Benediktus takjub dengan kesabaran dari pasangan Somidi dan Su’udiyah. Tidak banyak pasangan yang bisa bersama selama 21 tahun, di mana mereka saling mensupport dan menguatkan agar tidak patah harapan memiliki buah hati.
Perjuangan mereka tidak mudah. Mereka tinggal 15 Km di luar kota Sumenep, tepatnya di Dusun Pakondang Daya, Kabupaten Sumenep, Madura. Mereka menempuh enam jam perjalanan agar bisa sampai ke klinik di Surabaya, demi menemui Benediktus untuk konsultasi dan tindakan berkala.
Sehari-harinya, pasutri ini berjualan keripik singkong di komplek destinasi wisata religi Asta Tinggi, Kabupaten Sumenep. Mereka berangkat naik bus pukul 02.00 dini hari agar sampai tepat waktu ke klinik. Begitu panjang prosedur bayi tabung yang menuntut mereka untuk tepat waktu, seperti saat suntik khusus dan sebagainya.
Proses bayi tabung mereka mirip dengan pasien lainnya, kata Benediktus. Setelah mendapat embrio pun, mereka bahkan harus menunggu hampir setahun sebelum ditransfer ke rahim. Selama setahun mereka dengan sabar bolak balik ke Surabaya, sabar menanti rahim yang belum siap.
Ketika berhasil hamil, tidak banyak kata dari pasutri itu, dokter, maupun perawat, hanya penuh dengan tetesan air mata bahagia. Terlebih saat melahirkan, tampak dari foto yang diunggah, wajah Su’udiyah penuh haru dan mata berkaca-kaca dengan bayinya yang berada di sisinya.
Perjuangan mereka tidak mudah. Mereka tinggal 15 Km di luar kota Sumenep, tepatnya di Dusun Pakondang Daya, Kabupaten Sumenep, Madura. Mereka menempuh enam jam perjalanan agar bisa sampai ke klinik di Surabaya, demi menemui Benediktus untuk konsultasi dan tindakan berkala.
Sehari-harinya, pasutri ini berjualan keripik singkong di komplek destinasi wisata religi Asta Tinggi, Kabupaten Sumenep. Mereka berangkat naik bus pukul 02.00 dini hari agar sampai tepat waktu ke klinik. Begitu panjang prosedur bayi tabung yang menuntut mereka untuk tepat waktu, seperti saat suntik khusus dan sebagainya.
Proses bayi tabung mereka mirip dengan pasien lainnya, kata Benediktus. Setelah mendapat embrio pun, mereka bahkan harus menunggu hampir setahun sebelum ditransfer ke rahim. Selama setahun mereka dengan sabar bolak balik ke Surabaya, sabar menanti rahim yang belum siap.
Ketika berhasil hamil, tidak banyak kata dari pasutri itu, dokter, maupun perawat, hanya penuh dengan tetesan air mata bahagia. Terlebih saat melahirkan, tampak dari foto yang diunggah, wajah Su’udiyah penuh haru dan mata berkaca-kaca dengan bayinya yang berada di sisinya.
(shf)
Lihat Juga :